URGENSI PENDIDIKAN MURAH UNTUK RAKYAT

By:

H. Muhammad Fatah M Ed.

Ketua STAI Khozinatul ‘Ulum

Kebutuhan akan pendidikan bagi semua orang adalah sama pentingnya dengan mempertahankan atau melangsungkan kehidupan itu sendiri. Sebab, untuk mempertahankan (survive) kehidupannya maka manusia harus mampu mengatasi masalah-masalah yang membelitnya.  Semua manusia tentu bercita-cita untuk mencapai kehidupan yang sejahtera secara jasmani maupun rohani. Untuk mencapai itulah maka manusia perlu mengenyam pendidikan atau sekolah. Dengan itu, manusia  menambah ilmu pengetahuan, melatih diri dengan good habit atau akhlakul karimah, dan juga melatih diri untuk menambah keterampilan (skill). Dan yang lebih penting lagi, dengan bersekolah maka manusia berupaya untuk meningkatkan harkat dan martabat peradaban manusia.

Sebuah jargon badan PBB UNESCO (United Nation on Education, Social, and Cultural Organization) yang selama ini diperjuangkan untuk bisa diterapkan dalam kebijakan pendidikan di seluruh dunia adalah Education is for all-Pendidikan adalah untuk semua.

Tidak perlu terlalu pelik untuk memahami jargon tersebut bahwa pendidikan memang seharusnya adalah diperuntukkan bagi semua orang, tentu dengan tanpa pilih bulu, latar belakang agama, latar belakang sosial maupun ekonomi, termasuk anak-anak yang sempurnya secara fisik maupun yang cacat atau kurang sempurna secara fisik. Sebagai sebuah contoh, di Negara Amerika itu bahkan anak yang menyandang cacat seperti tuna rungu misalnya, dia bahkan boleh sekolah bersama anak-anak normal lainnya meskipun dengan cara pihak keluarganya menyertakan seorang penerjemah (bahasa isyarat) yang selalu mendampingi si anak tersebut dalam setiap aktivitasnya di kelas.

Penerapan kebijakan tersebut di tataran riil ternyata tak semudah seperti yang diharapkan semua pihak. Hambatan yang paling sering dialami oleh masyarakat adalah tentang tingginya biaya pendidikan yang kemudian berakibat makin banyaknya masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya bahkan di tingkat pendidikan dasarpun, apalagi pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Untuk mengatasi hal ini pemerintah kemudian menyampaikan bahwa pendidikan dasar dan menengah adalah Gratis- karena telah ada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Kenyataannya, gratis di sini harus dijelaskan yang mana? Sebab beberapa elemen pendanaan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak semua dapat ditutup dengan adanya dana BOS tersebut. Sehingga, meskipun sudah ada BOS tetapi kenyataannya masih banyak pos pembiayaan yang tetap harus ditanggung oleh masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan anak-anaknya.

Memang pemerintah telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit jumlahnya sebagai upaya untuk mencukupi biaya penyelenggaraan pendidikan melalui BOS bagi pendidikan dasar yaitu SD-MI dan SMP-MTs. Tetapi ternyata itupun belum cukup, karena Pendidikan itu memang adalah sebuah kegiatan padat modal. Di samping itu, bagi sekolah atau madrasah yang memang ingin mendorong kuat kepada siswanya untuk mencapai prestasi tinggi yang tidak hanya dalam bidang akademis, tetapi juga olah raga, seni budaya, teknologi informasi, dan lainnya, maka sumber dana yang hanya dari BOS itu tidaklah cukup.

Lebih-lebih lagi ketika kita mencermati penyelenggaraan pendidikan tingkat Perguruan Tinggi, maka biaya yang dibutuhkan menjadikan kita terperanjat dibuatnya. Di beberapa perguruan tinggi favorit atau yang sekelas di bawahnya pun, baru masuk pendaftaran saja, untuk mendapatkan jaminan bisa diterima di salah satu jurusan harus mengikhlaskan dana sampai Rp. 300 juta. Kalau baru masuk saja dananya sejumlah itu, maka sampai selesainya kuliah akan menghabiskan duit berapa banyak, silakan hitung sendiri. Itulah sekarang yang sedang terjadi di pendidikan tingkat tinggi di negara ini

Dengan perhitungan semacam itu maka sebuah keluarga guru PNS yang tidak punya penghasilan tambahan, belum tentu mampu mengirim anak-anaknya untuk belajar di bangku kuliah, sebuah ironi bahwa orang tuanya sebagai praktisi pendidikan sementara si anak tidak mampu untuk kuliah.

Siapa juga yang mengharuskan semua untuk kuliah? Memang tidak semua orang harus kuliah. Padahal sudah menjadi keyakinan dalam benak masyarakat kita bahwa dengan kuliah adalah hampir sebuah jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan berpenghasilan tinggi. Meskipun, kenyataannya jumlah pengangguran di Indonesia yang berkualifikasi Sarjana makin tak terhitung jumlahnya.

Untuk mengurangi minat menempuh pendidikan tinggi, yang diperlukan adalah tersedianya lapangan pekerjaan tentunya dengan pendapatan tetap yang memadai bagi masyarakat yang berijazah SMU atau sederajat. Sehingga untuk apa kuliah  manakala begitu lulus SMU bisa langsung kerja dan cukup untuk hidup. Seperti yang terjadi di negara maju, dari keseluruhan jumlah penduduk sebenarnya sangat jarang yang menempuh kuliah, karena memang sangat mahal biayanya. Yang hampir pasti masuk kuliah adalah mereka yang ingin menjadi dokter, insinyur, lawyer, bankir, dan ekonom.  Untuk menyiasati itu maka mereka kuliah ketika telah bekerja-dengan cara nyambi, sehingga banyak dari mereka yang mengambil hanya satu mata kuliah dalam satu semester, rata-rata untuk menamatkan tingkat Sarjana mereka bisa sampai 7 tahun.

Satu hal yang perlu kita tahu juga adalah sebuah kenyataan bahwa tidak semua masyarakat kita ini bersekolah atau belajar dengan dorongan untuk mendapatkan pekerjaan. Tetapi adalah  learning is for knowledge atau thalabul ilmi  untuk mendapatkan ilmu, lain tidak. Golongan yang disebut terakhir ini seperti yang banyak dilaksanakan di Pesantren-pesantren sampaipun tingkat Ma’had ‘Ali.

Bagaimanapun, menyelenggarakan pendidikan dengan biaya yang terjangkau adalah kewajiban Negara untuk anak bangsanya. Menurut hemat penulis, sebenarnya rakyat lebih memilih biaya pendidikan yang terjangkau dari pada murah yang dalam kenyataannya hanya sebagian saja. Maksudnya adalah, meskipun mahal tetapi ketika taraf hidup rakyat kita sudah dalam keadaan berkecukupan dalam hal kebutuhan hidup pokok yang layak, maka biaya pendidikan pun akan menjadi terjangkau. Kapan hal itu dapat kita nikmati? Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: