PERANAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI ANAK TENTANG PENGALAMAN AGAMA

oleh : ANDARI NUROCHMAH WISDANINGRUM

A. Pembinaan Kehidupan Beragama

Kegiatan pendidikan agama Islam dilaksanakan di SD Muhammadiyah Suronatan merupakan pengembangan dari ciri khas keagamaan Islami yang melekat pada lembaga pendidikan ini

Adapun strategi pelaksanaan ciri agama Islam yang pelaksanaan penyampaian  materi agama ini berpaduan pada garis-garis program pengajaran, merupakan perpaduan  kurikulum Depdiknas dan Kurikulum Persyarikatan Muhammadiyah.

Guru yang diberi tanggung jawab untuk memberikan pengajaran agama kelas I, II, III dengan model guru kelas masing-masing. Untuk kelas IV A Bapak Subarjo, IV B Ibu Supiyani, Kelas VA Ibu Sudarsih, VB Bapak Sumardjono, VI A Bapak Hartoyo, VI B Bapak Zabidi.[1]

Adapun metode pengajaran yang digunakan  metode bergantian sesuai dengan cukup bervariasi menggunakan metode bergantian sesuai dengan materi yang disampaikan. Diantaranya metode ceramah, tanya jawab, demontran crill( latihan) dan pemberian tugas. Namun dari berbagai menurut para guru metode yang paling sering dipaakai adalah metode ceramah yang dikombinaikan tanya jawab.[2]

Disamping usaha yang berkaitakan secara langsung dengan materi ajar pengajaran agama Islam dikelas ( kegiatan intra kuriluler) Sekolah Dasar Suronatan Muhammadiyah Yogyakarta juga menciptakan suasana keislaman dilingkungan sekolahan.

Suasana keagamaan ini direalisasikan diantaranya dalam bentuk simbol-simbol keislaman yakni:

  • Berkaitan dengan pakaian, SD Muhammadiyah mewajibkan setiap individual baik guru maupun murid untuk berbusana muslim.
  • Tata ruang, dalam hal ini diwujudkan dengan cara meletakkan gambar-gambar dan kaligrafi tulisan ayat-ayat Al-Qur’an terutama yang berkaitan dengan keutamaan belajar disemua ruangan kelas dan penulisan basmalah diatas papan tulis.[3]

Hal ini diatas dilakukan dengan harapan semua anak didik mendapatkan suasana agamis, disamping pula itu SD Muhammadiyah Suronatan juga mempunyai musholla yang dibangun oleh KH Ahmad Dahlan yang dahulu  dipakai sholat jama’ah sholat dhuhur, tetapi dengan anak didik yang begitu banyak sehingga mushola tersebut tidak dipergunakan.

  • Membiasakan do’a bersama.

Ketika memulai dan sesudah selesai belajar mengajar. Hal ini dilakukan sebagai upaya membimbing siswa untuk selalu dekat dengan Allah SWT karena berdo’a berharap dan memohon kepada Allah untuk mengabulkan apa yang menjadi harapan atau keinginannya, dan setelah mendengar suara azan dhuhur.

  • Melaksanakan sholat Dhuhur berjama’ah

Kegiatan ini biasanya dilakukan pada jam istiharat kedua yakni jam 11.15- 11.30. Adapun tempat  pelaksanaan di masjid At- Tahkim dan masjid At – Taqwa yang berjarak tidak jauh dengan sekolahan. Namun kegiatan karena alasan tempat dan waktu  bapak kepala sekolah hanya diwajibkan bagi siswa III, IV, V, VI yang memang mendapatkan pelajaran tambahan sampai sore.

  • Peringatan hari-hari besar Islam

Kegiatan hari-hari besar tidak seluruhnya diperingati SD Muhammadiyah Surontan. Hanya peringatan tahun baru Islam (Muharam) dan Nuzulul Qur’an yang biasanya diperingati untuk kegiatan peringatan atau muharam selalu diisi ceramah keagamaan, sedangkan untuk peringatan hari besar lainnya tidak dilakukan dengan alasan mayarakat sekitar juga sudah melaksanakan dengan berbagai pengajian umum untuk pihak SD Muhammadiyah Suronatan hanya memberikan anjuran pada siswa untuk mengikuti atau menghadiri berbagai hari besar itu.

  • Kegiatan semarak bulan Ramadhan

Kegiatan ini dilakukan  untuk mengisi liburan sekolahan dan juga  untuk membiasakan diri pda anak didik untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan yang positif. Pelaksanannya bertempat di SD Muhammadiyah Suronatan biasanya dimulai seminggu  setelah Ramadhan dan diakhiri seminggu menjelang Lebaran. Kegiatan ini wajib diikuti oleh siswa kelas.  Adapun isi kegiatan meliputi jama’ah sholat dhuhur, tadarus Al-Qur’an dan buka puasa bersama. Untuk buka puasa bersama hanya dilakukan  satu kali. Untuk ceramah keagamaan agar tidak bosen selain diisi oleh para guru secara bergantian juga mengundang para guru yayasan.

Selain berbagai upaya diatas menurut bapak kepala sekolah selalu diupayakan pencipatan pergaulan yang baik didasari oleh rasa kasih sayang dan kekeluargaan antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan antara siswa sendiri.

Para guru dianjurkan untuk selanjutnya untuk selalu menjadi teladan yang baik pada siswa karena keberadaannya, sikap dan tindakan atau perbuatannya selalu menjadi modal atau contoh bagi siswa. Untuk melatih pergaulan yang baik antar siswa maka bila ada yang teman yang sakit para siswa bersama seorang guru menegok kerumah siswa tersebut. Dan berbagai upaya pembiasaan berakhlak karimah  dalam pergaulan sehari-hari seperti tolong menolong, menghormati para guru, meminta maaf bila berbuat salah dan sebagainya. Hal ini dilakukan dengan harapan siswa menjadi terbiasa untuk berakhlak yang baik dalam kehidupannya.[4]

Hal ini di tegaskan oleh pihak sekolah dengan wawancara sebagai berikut:

“Setiap harinya untuk kelas satu sampai tiga  jam 06.30-07.30, siswa belajar iqro’, sholat dhuha, sampai sholat dhuhur berjama’ah setiap harinya untuk semua kelas.”[5]

Demikianlah berbagai upaya yang dilakukan oleh para guru dalam pembinaan kehidupan beragama siswa baik melalui penciptaan suasana keagamaan baik yang bersifat fisik, pergaulan maupun kegiatan baik yang bersifat ritual maupun sosial.

B. Kondisi Kehidupan Beragama di Lingkungan Keluarga Siswa.

Dari sudut pandang proses, pendidikan agama merupakan proses interalisasi, pembentukkan dan pengembangan potensi individu melalui kegiatan interaksi pendidikan antara guru, murid , bahan pengajaran dan lingkungan. Sehubungan dengan kenyataan bahwa kenyataan bahwa pendidikan agama .Islam dipengaruhi oleh lingkungan  peserta didik, maka dengan sendiri keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilaksanakan SD Muhammadiyah Surontan sebagai pembentukan perilaku keagamaan siswa akan dipengaruhi kondisi kehidupan masyarakat pada umumnya dan khususnya kondisi kehidupan keluarga atau orang siswa.

Hal ini cukup beralasan karena frekuensi peserta didik lingkungan  keluarga  lebih dari pada lingkungan sekolah. Terlebih pada usia anak SD dimana situasi sangat terikat dengan lingkungan keluarga.

Oleh karena itu sebelum membahas lebih jauh tentang pengalaman ajaran agama Islam pnting karenanya penulis menyajikan data tentang kehidupan beragama. Orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan siswa di keluarga. Karena bagaimanapun sikap orang tua terhadap pelaksanaan ajaran agama sangat mempengaruhi sikap anak didik yang  mendapatkan pembinaan dari sekolah. Bila orang tuanya secara konsisten melaksanakan ajaran Islam kehidupannya dan mendorong untuk melakukannya akan menimbulkan dampak positif bagi anak. Namum sebaliknya mereka cenderung tidak melaksanakan kegiatan keagamaan secara sungguh-sungguh.

Data tentang kondisi keberagamaan di lingkungan keluarga siswa diperoleh dengan metode angket sebagi metode pokok, metode observasi dan metode wawancara sebagai cheching silang (cross cheek).

Hal yang menjadi titik tekan dalam mengungkap kondisi tersebut adaalah mengenai tingkat keehidupan agama orang tua siswa yang dibatasi pada pengetahuan agama, pengamalan ajaran agama dan pembiasan pendidikan agama dikeluarga, baik dalam bentuk ajaran, anjuran, perintah, teguran dan pujian.

Berdasarkan data yang diperoleh baik melalui wawancara dan observasi langsung di lapangan, orang tua SD Muhammadiyah Suronatan memiliki kesadaran yang cukup baik akan pentingnya pendidikan agama bagi perkembangan  anak yakni 196  orang tua atau 88 %, selebihnya yakni 9 orang atau 21,5 % kurang memilliki kesadaran dan orang tua lainnya cenderung memiliki sikap acuh tak acuh terhadap pendidikan keagamaan putra-putrinya.

Para orang tua yang memiliki kesadaran cukup baik pada umumnya mereka memiliiki pengetahuan agama yang cukup baik yang di dapat kan dari lembaga pendidikan khusus seperti madrasah atau pesantern, dan bagi yang  tidak, mereka rajin menambah pengetahuannya dari kegiatan ceramah agama ( pengajian) yang mereka aktif  ikuti. Dari pengalaman ajaran agama  bisa dikatakan cukup atau konsisten terutama ibadah sholat dan puasa  Hal ini menjadi teladan yang baik bagi siswa, karena menurut kebiasaan orang tua akan diikuti oleh anak. Disamping itu secara umum, mereka juga mempunyai kecendurangan mendorong untuk kemajuan pendidikan agama bahkan orang tua yang senantiasa mengajak anak-anaknya untuk menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan untuk selebihnya yakni 9 orang atau 22,5 % dari jumlah keseluruhan oarng tua siswa kondisi kehidupan beragama didalam keluarganya cukup memprihatinkan, mereka umumnya tidak mempunyai kesadaran terhadap pendidikan agama anak-anaknya sehingga para orang tua ini cenderung  bersikap acah tak acuh terhadap keagamaan yang dilakukan anak baik sholat, puasa. Hal ini karena mereka sendiri tidak mempunyai kesadaran menjalankan ajaran agama  dalam kehidupan secara konsisten. Dan berdasarkan pengamatan orang tua siswa tersebut tidak aktif mengikuti yang diselenggarakan oleh masyarakat di lingkungan Suronatan Yogyakarta baik karena alasan malas maupun karena alasan terlalu sibuk oleh pekerjaan.

Hal ini ditegaskan dengan wawancara dengan orang tua siswa, sebagai berikut:

“ Saya sebagai orang tua menkontrol gimana dalam menjalankan ibadah nya,hanya saja memberikan kebebasan untuk dia, tapi itupun harus dikontrol, kalau tidak nanti besarnya tidk memiliki dasar agama yang kuat.”[6]

 

Demikianlah kondisi lingkungan kehidupan keluarga siswa baik ditinjau dari ketaatan maupun kebiasaan yang mereka lakukan terhadap putra putrinya. Data tentang kondisi agama dalam kehidupan siswa tersebut dipergunakan untuk mempertajam analisis tentang pengalaman agama Islam siswa dalam kehidupan sehari-hari.

C. Pengalaman Agama Islam Anak

Data tentang pengalaman ajaran agama di kalangan siswa SD Muhammadiyah Suronatan dalam penelitian di himpun melalui metode observasi, baik di lingkungan sekolah maupun siswa , wawancara guru dan para orang tua serta aktif  sebgaimana dijelaskan  dalam bab pendahuluan  bahwa aspek pengalaman ajaran agama Islam yang dimaksud adalah pengalaman sholat dan puasa di Bulan Ramadhan.

1. Pengalaman Ibadah Sholat.

Ibadah sholat dalam ajaran sholat merupakan soko guru atau tiang agama Islam, sehingga bila orang teguh dalam menjalankan  sholatnya, maka berarti dia menjaga agamanya  dengan baik. Sebaliknya orang-orang yang mengabaikan sholat berarti telah menghancurkan soko guru  agama.

Berdasarakan pengamatan penulis,  siswa-siswa di SD Muhammadiyah Suronatan sudah dapat melaksanakan ibadah sholat secara tertib dalam hal gerakan-gerakan yang ada dalam sholat dari takbiratul ikhram hingga salam. Adapun mengenai penguasaan bacaan dalam sholat berdasarkan wawancara dengan guru agama, siswa kelas IV (enam) mayoritas sudah dapat menghafal bacaan dalam sholat dengan baik. Hal ini dikuatkan dengan hasil angket mengenai seberapa besar kemampuan siswa tentang hafalan do’a dalam hafalan, mayoritas menjawab sudah hafal yakni 193 siswa atau 70 %, sedangkan selebihnya mengatakan kurang hafal yakni 12 orang atau 30 % dari populasi.

Mengenai keaktifan mengerjakan sholat lima (5) waktu berdasarkan observasi di lapangan dalam sehari semalam rata-rata siswa melakukan sholat. Namum dari segi keaktifan cukup bervariasi. Untuk sholat dhuhur karena diharuskan oleh SD Muhammadiyah Suronatan untuk ikut, maka hampir semua siswa aktif mengikuti sholat berjama’ah di Masjid At- Taqwa dan masjid At – Takhim. Hampir ada 10 siswa atau 15 % yang sering membolos. Tetapi jika diketahui oleh giru biasanya langsung ditegur. Hal ini dilakukan agar siswa tidak mengulangi lagi.

Sedangkan tentang pelaksanaan ibadah sholat sholat, siswa diluar sekolah banyak dipengaruhi oleh kondisi masyarakat dan kondisi keluarga siswa. Untuk sholat maghrib dan Isya’ kebanyakan dari mereka megikuti. Hal ini karena terkondisikan tiap masjid atau musholla mengadakan pengajian Al-Qur’an setelah sholat maghrib sehingga sebelum maghrib mereka sudah berkumpul di musholla yang dekat rumah siswa untuk sholat berjamaah bahkan beberapa ank yang datang mengumandangkan adzan. Berdasarkan pengamatan ada sebuah langgar yang menjadi sentral ibadah subyek penelitian yakni Langgar Pusaka. Sehingga kebanyakan sudah aktif melaksanakan sholat walaupun belum teratur, pada umumnya mereka dalam sehari semalam sudah melakukan sholat 2-3 waktu, bahkan dalam keluarga yang taat  dari perhatian terhadap agama anaknya pelaksanaan sholat subuh. Sehingga seringkali dibiarkan saja tidak sholat.

Berkaitan dengan sholat jum’at sebagai ibadah rutin mingguan menurut para orang tua  dan siswa sudah aktif melaksanakannya. Berdasarkan pengamatan penulis para siswa cukup bersemangat melaksanakan sholat Jum’at yang bertempat di Masjid At- Taqwa dan Masjid At- Takhim[7]

Untuk mengetahui lebih rinci data tentang pengamaln ibadah sholat, siswa sebagai data pelengksp untuk mengetahui informasi lebih detail dibawah ini penulis tabel dari hasil tabulasi data item 1, 2 dan 3.

Tabel 2

Hasil tabulasi dat Item No 1,2 dan 3

Pengamalan Ibadah Sholat Wajib 5 Waktu

Item Alternatif Jawaban F %
No 1 a.Ya, semua hafal

b. Kurang hafal

c. Tidak hafal

191

14

88

10

No 2

a. Aktif 5 Waktu

b. Kurang Aktif

c. Tidak Aktif

95

88

No 3 a. 3-4 Waktu

b. 2-3 Waktu

c. 1-2 Waktu

89

20

1

2,30

10,25

2,05

Sumber: Hasil angket siswa-siswi SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pengamalan ibadah sholat dalam segi terampilnya sebagian besar menguasai yakni ada 95 siswa atau 88 % dari populasi. Kondisi ini cukup menggembirakan karena penguasaan bacaan- bacaan do’a dalam sholat unsur utama selain gerakan-gerakan didalam pengamalan ibadah sholat siswa. Dan pelaksanaan sholat jama’ah di SD Muhammadiyah Suronatan diyakini memantapkan siswa dalam menuaikan ibadah sholat. Nanum yang perlu juga mendapat perhatianadalah adanya masih adanya siswa yang belum menguasai bacaan-bacaan sholat dengan baik yakni 98 siswa atau 30 % responden. Oleh karena itu pihak SD Muhammadiyah Suronatan sebaiknya mencari solusi untuk hal ini misalnya dengan membiasakan siswa menghafal bacaan – bacaan do’a sholat 10 menit sebelum pelajaran di mulai. Selain terampil melaksanakan kaifyah sholat juga siswa  diharuskan mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari jawaban responden mengenai keaktifan mengerjakan sholat wajib 5 waktu sebagian siswa belum mengerjakannya secara teratur 5 waktu sehari semalam. Terlihat dari tabel diatas mampu melaksanakannya 5 waktu secara rutin sudah hampir mampu melaksanakannya 98 siswa atau 88 % saja, adapun siswa yang kurang aktif sebagian besar melakukan sholat dalam sehari semalam hanya 2-3 waktu yakni 20 anak atau10,25  % dari 205 responden. Hal ini sesuai dengan pengamatan di mana siswa kebanyakan aktif pada saat sholaat maghrib, Isya’ dan tentunya sholat dhuhur di lingkungan  sekolah. Dari sini dapat diketahui bahwa siswa belum mempunyai kesadaran penuh untuk melaksanakan sendiri tanpa pengkoordinasikan dari luar dirinya, dan pihak SD Muhammadiyah Suronatan sebaiknya merencanakan program sholat dhuhur berjama’ah tidak hanya pada kelas VI saja tetapi untuk semua siswa, sehingga setelah lulus mereka mempunyai pemantapan untuk melakukan sholat secara teratur, termasuk juga upaya membangun kesadaran orang tua tentang pentingnya pembiasaan ibadah sholat pada anak karena bagaimana pengamalan ibadah sholat pelaksanaannya lebih banyak di bulan Ramadhan lebih efektif jika orang tua sendiri yang secara langsung memantau pelaksanaan ibadah wajib ini.

2. Pengalaman Ibadah Puasa

Puasa dalam istilah Agama artinya adalah menahan dari makan, minum mulai dari waktu fajar sampai maghrib, karena mencari ridha Allah. Puasa dalam kehidupan anak-anak merupakan upaya agar anak terbiasa menghayati kehidupan beragama sehingga lambat laun kesadaran beragamanya berkembang kearah yang lebih baik.

Puasa disamping melatih anak untuk memiliki kepekaan sosial juga melatih kejujuran. Karena dalam pelaksanaan ibadah puasa manusia bebas tidak ada pengawasan dari luar kecuali dari Allah  semata, tidak seorang pun yang dapat mengetahui secara pasti apakah seseorang yang dapat mengetahui itu puasa atau tidak. Ini berarti bahwa dengan berpuasa melatih diri anak-anak untuk jujur dalam pelaksanaan ibadahnya.

Berdasarkan dari wawancara dengan guru, sebagian besar siswa sudah dapat melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan secara penuh selama sebulan. Hal ini diketahui dari buku kegiatan Ramadhan yang selalu di bagikan bila bulan puasa tiba. SD Muhammadiyah Suronatan juga berusaha mengkondisikan siswa mengadakan kegiatan positif untuk mengisi bulan Ramadhan di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.

Dukungan dari orang tua juga sangat besar berkaitan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Dalam keluarga yang kondisi keagamaan dalam kategori cukup baik, semua putra-putrinya sudah bisa melaksanakan ibadah puasa secara penuh, bahkan menurut mereka sejak kelas IV umur 10 tahun sudah bisa menjalankan secara konsisten bulan Ramadhan tiba.

Adapun anak yang hidup di lingkungan keluarga yang taat mereka berpuasa lebih karena dorongan para guru juga dukungan dari kondisi lingkungan masyarakat yang agamis sehigga sebagian  dari peserta didik dalam katogori keluarga yang sudah dapat melaksanakan secara teratur. Rata-rata dari peserta didik yang tidak melaksanakan ini berada di lingkungan keluarga yang acuh tak acuh terhadap pendidikan agama anak.[8] Kondisi intern juga karena kurangnya faktor keteladanan dari para orang tua terdapat beberapa orang tua yang belum mampu melaksanakan puasa secara ajeg bahkan berdasarkan infomasi yang penulis dapatkan ada yang tidak menjalankan puasa sama sekali   di bulan ramadhan. Tidak adanya faktor keteladanan dari orang tua sebagai figur dan pendidik dalam keluarga mengurangi kesungguhan anak untuk menjalankannya, walaupun dari mereka mengatakan tetap dorongan  namun kenyataannya peserta didik dalam katogori keluarga seperti ini belum dapat melaksanakan secara penuh. Karena anjuran atau perintah buat anak-anak tidak cukup, harus ada figur yang lebih visual dapat dijadikan idola yang akan lebih memantapkan pengamalan ibadah khususnya dalam hal  ini adalah puasa.

Untuk lebih memperkuat pemaparan data diatas, di bawah ini di cantumkan informasi yang di berikan siswa melalui jawaban yang mereka berikan terhadap beberapa pertanyaan mengenai pengalaman ibadah puasa.

Tabel 3

Hasil Tabulasi Untuk Item no 8 dan 9

Pengalaman Ibadah Puasa Siswa

 

Item Alternatif Jawaban F %
No 8 – Sebulan Penuh

– kadang-kadang

– Tidak Pernah Berpuasa

 

98

14

90

10

No 9 -1-5 hari

-6-10 hari

– Lebih 10 hari

5

4

3

45,45

36,36

18,18

Sumber: Hasil angket siswa-siswa SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa 183 orang atau 90 % siswa yang menjadi subyek  penelitian sudah dapat melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Selebihnya yakni 14 orang atau 10 % menyatakan kadang-kadang  sebenarnya sudah menunjukan semangat melaksanakan puasa yakni 5 orang diantaranya  atau 45,45 % dalam sebulan hanya meninggalkan 1-5 hari saja, 4 siswa mengatakan 6-10 hari,  sedangkan yang menjawab lebih dari 10 hari terdapat 3 siswa atau 18,18 %. Walau pun yang belum melaksanakan ibadah puasa secara penuh lebih kecil tetapi sebaiknya harus menjadi perhatian baik oleh pihak  SD Muhammadiyah Suronatan maupun orang tua siswa yang bersangkutan langsung dengan tanggung jawab sebagai pendidik utama.

Hal ini ditegaskan dengan wawancara dengan seorang siswa sebagai berikut:

“Pengalaman yang saya bisa ambil adalah saya bisa menghargai waktu, kalo tidak sholat seolah ada yang hilang,dan apabila tidak puasa saya akan malu dengan teman-teman apalagi saya yang paling gede diwilayah  sini. Dan ini akan membuat saya ada bekal yang kuat bila saya nanti besar.”[9]

 

Jadi peranan orang tua disini yang dimaksudkan adalah orang tua tetap mengkontrol keadaan pengalaman kehidupan beragama sang anak, tetapi dengan cara membebaskan sang anak, tetapi tetap di bawah pengawasan sang orang tua.


[1] Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 06 Agustus 2003

[2] Hasil observasi tanggal 01 Oktober 2003

[3] Hasil Observasi tentang nuansa keagamaan di SD Muhammadiyah Suronatan, tanggal 20 Oktober 2003

[4] Hasil wawancara dengan Bapak Kismadi, tanggal 20 Oktober 2003

[5] Hasil wawancara dengan Bapak Hartoyo,guru Agama Islam, tanggal  15 April 2004

[6] Wawancara dengan orang tua Siswa, tanggal 18 April 2004

[7] Hasil Observasi dan Wawancara dengan Guru  dan Orang Tua siswa pada tanggal  21 Oktober 2003

[8] Wawancara dengan guru  dan para orang tua pada tanggal  31 Dsember 2003

[9] Wawancara dengan seorang siswa, tanggal 18 April 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: