OTENTISITAS WAHYU TUHAN DALAM HERMENEUTIKA HASSAN HANAFI

Sebagaimana penjelasan yang ada di bab sebelumnya, bahwa hermeneutika sebagai aksiomatik adalah proses deskripsi terhadap hermeneutika sebagai ilmu pengetahuan yang rasional, formal, obyektif dan universal.[1] Dalam hermeneutikanya tersebut, Hanafi bermaksud menawarkan konsep sebuah metode penafsiran yang bersifat rasional, objektif, dan universal untuk memahami teks-teks Islam. Pendekatan yang dilakukan Hanafi dalam usaha memahami teks-teks Islam tersebut, merupakan pendekatan yang hampir sama dengan pendekatan fenomenologi, yakni adanya disiplin yang apodiktis yang tidak lain menginginkan ketidak adanya sifat keragu-raguan.

Sejalan dengan kepentingan fenomenologi yang apodiktis tersebut, Hanafi meletakkan kritik sejarah dalam kaitannya dengan teks-teks kitab suci sebagai suatu masalah teoritis yang krusial. Sebab kritik sejarah menurut Hanafi berfungsi menjamin keaslian firman Tuhan yang disampaikan kepada Nabi dalam sejarah, baik melalui medium lisan maupun tertulis.

Bagi Hanafi, otentisitas teks hanya dapat dibuktikan melalui kritik sejarah. Kritik sejarah ini haruslah terbebas dari hal-hal yang semata-mata berbau teologis, filosofis, mistik, spiritual. Keyakinan kitab suci tidak dijamin oleh semisal taqdir Tuhan, keyakinan dogmatis, pemuka agama maupun pranata sejarah apapun.[2]

Gagasan mengenai wahyu secara menyeluruh ditentukan Tuhan dan diturunkan kepada manusia melalui nabi-nabi (dan malaikat).  Gagasan wahyu ini menembus, mencerahkan dan memberi makna pada seluruh realitas konkret, yang kemudian menjadi representasi peraturan sentral bagi kaum Yahudi, Kristen, dan Islam, dan mendominasi seluruh sejarah masyarakat yang tersentuh oleh gagasan ini.[3]

Wahyu dalam al-Qur’an, pertama-tama merupakan hasil pembuktian linguistik[4] berupa struktur sintaksis. Dalam semiotika wacana al-Qur’an, ia menyediakan sebuah ruang komunikasi yang secara total diartikulasikan untuk mengutarakan pemikiran dan isi wahyu tersebut.

Untuk mendekati tradisi pemikiran tentang wahyu dalam tradisi Islam dan tradisi-tradisi lainnya yang kaya dan yang telah berkembang, diperlukan sebuah penelitian yang seksama terhadap sumber-sumber tradisional untuk menghilangkan konsep sentral ortodoksi[5] terhadap tradisi-tradisi tersebut.[6]

Oleh hal itulah, berikutnya pembahasan ini akan memaparkan mengenai pengertian wahyu secara umum, kemudian diikuti pembahasan mengenai otentisitas wahyu Tuhan.

  1. Pengertian Wahyu Secara Umum.

1.         Pengertian Wahyu.

Untuk memahami arti wahyu, banyak orang yang memahaminya dengan menggunakan beberapa pendekatan. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Mohammed Arkoun. Wahyu bagi Arkoun harus dipahami dengan berbagai metode pendekatan, terutama dengan metode hermeneutik, semiotik, dan linguistik.[7] Dengan kacamata historis antropologis, Arkoun menjelaskan bahwa wahyu, maknanya dibedakan dengan tiga tingkatan. Pertama, wahyu sebagai kalam Tuhan, yang transenden, tak terbatas dan tidak diketahui secara keseluruhan. Manusia hanya mengetahui bagian-bagiannya yang sudah diwahyukan kepada para Nabi. Tingkatan ini dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan al-lawh} al-mah}}fu>z}}} atau umm al-kita>b.

Kedua, penampakan wahyu dalam sejarah melalui nabi-nabi Israel ditransformasikan melalui bahasa Ibrani, sedangkan dalam Isa melalui bahasa Arama, dan Muhammad melalui bahasa Arab. Pada mulanya wahyu ini bersifat lisan; yakni diingat dan dihapalkan secara lisan dalam waktu yang lama sebelum ditulis. Tingkatan inilah yang dalam metode linguistik disebut oleh Arkoun sebagai “ujaran satu.”

Ketiga, wahyu yang sudah tertulis. Tipe ini disebut oleh Arkoun sebagai  official closed canons (korpus resmi tertutup). Tingkatan inilah yang mempunyai pengaruh paling besar dalam sejarah wahyu dan merupakan kekuatan yang menentukan dalam sejarah masyarakat kitab. Tingkatan ini selanjutnya disebut sebagai “ujaran kedua.”[8]

Selanjutnya, kata wahyu -jika dilihat dari segi bahasa- sebenarnya mempunyai banyak arti.[9] Wahyu dalam bahasa Arab berasal dari fi’il mad}i وحى “wah}a” yang berarti penyampaian pengetahuan kepada seseorang secara samar dan orang tersebut memahami apa yang disampaikannya.[10] Sedangkan kamus Lisa>n al-Arabi,[11] memasukkan makna-makna lain seperti, “ilham, isyarat, tulisan, dan kalam” ke dalam kata wahyu.

Menurut Izutsu,[12]wahyu merupakan salah satu kata yang kerap kali digunakan dalam sya’ir pra-Islam dan juga digunakan dalam Islam. Dari segi semantik, Izutsu membedakannya menjadi tiga kelompok: pertama, komunikasi. Hal ini terjadi karena wahyu dalam proses turunnya dari Tuhan ke malaikat diteruskan sampai ke Muhammad, mengandaikan -dan terdapat- lebih dari satu orang, minimal dua orang.

Kedua, tidak harus bersifat verbal. Dengan kata lain, isyarat-isyarat yang digunakan dalam komunikasi tidak selalu bersifat linguistik. Ketiga, selalu tedapat hal-hal yang bersifat misterius, rahasia dan pribadi.

Dengan demikian makna sentral dalam bahasa Arab adalah “pemberian informasi secara tersembunyi.” Kata ini tentunya juga mengandung nilai rahasia yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi tersebut. Sementara dalam komunikasi tersebut, terkadang menggunakan media bahasa dengan bahasa simbolnya.[13]

Proses pemberian informasi dalam proses turunnya wahyu mengandung adanya tiga unsur yang saling terkait, yaitu; pertama, adanya dua subyek yang terlibat dalam komunikasi, kedua, adanya media komunikasi dan ketiga, media harus berjalan secara samar-samar tersembunyi dan hanya dipahami oleh dua subyek yang terlibat dalam komunikasi tersebut.

Hanya saja, perlu digaris bawahi bahwa wahyu tidak saja dimiliki manusia, juga tidak datang dari Tuhan, tapi juga dimiliki selain manusia, seperti jin, setan, hewan dan malaikat. Demikian juga wahyu yang datang –kemungkinan-  bukan dari Tuhan, mungkin bisa datang semisal dari setan.[14] Namun demikian, yang hendak dikaji dalam pembahasan berikut ini adalah mengenai otentisitas wahyu yang datang dari Tuhan sebagai rujukan dan referensi bagi umat beragama.

Tuhan dalam menurunkan wahyu kepada hamba-Nya senantiasa mengalami adanya proses. Proses turunnya wahyu –menurut Manna>’ Khali>l al-Qat}t}a>n- sangat begitu cepat. Ia merupakan isyarat. Hal itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, kadang juga melalui isyarat dari salah satu anggota badan.[15] Hal ini barangkali dikarenakan kata al-wah}y atau wahyu merupakan mas}dar (infinitif), yang dari materi kata tersebut mempunyai dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat.

Oleh sebab itulah, wahyu merupakan pemberitahuan secara tersembunyi dan begerak cepat, dan hanya ditujukan kepada orang yang diberi tahu tanpa diketahui orang lain.[16] Hal tersebut merupakan wujud empirik bahwa Tuhan telah menjadikan wahyu sebagai alat komunikasi dengan hamba-Nya.

  1. 2.            Wahyu Sebagai Bentuk Komunikasi Tuhan.

 

Semua umat yang beragama mengakui bahwa kitab suci mereka merupakan kalam Tuhan yang diturunkan kepada hambanya melalui pembawa risalah (rasul) masing-masing umat. Semisal al-Qur’an, ia diakui sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad sebagai pembawa risalah melalui perantara malaikat Jibril. Pemahaman yang demikian ini selanjutnya, akan menuntun pada teorisasi wahyu yang masuk dalam bingkai teori komunikasi. Hal ini terjadi karena kalam Tuhan diartikan sebagai “Proses Tuhan berbicara dengan hamba-Nya.”  Proses bicara Tuhan dengan manusia ini, dipahami dalam kerangka konsep linguistik, yakni Tuhan sebagai komunikator aktif sedangkan Muhammad di satu sisi merupakan pihak yang pasif.

Pembicaraan Tuhan dengan Muhammad melalui sang perantara tesebut melibatkan medium, atau kode komunikasi yang berupa bahasa Arab.[17] Model komunikasi yang melibatkan aspek linguistik tersebut kemudian menjadi rujukan dan pijakan pemahaman kitab suci sebagai teks. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kitab suci adalah sama dan sejajar dengan teks-teks kemanusiaan lainnya. Sebaliknya, penempatan al-Quran sebagai teks, tetap memposisikannya sebagai teks sakral berbahasa Arab, sehingga perangkat kearaban merupakan elemen niscaya dalam mengurai serta memahami pesan moral yang dibawanya.[18] Banyak karya kesarjanaan tentang al-Qur’an, membuktikan bahwa komunikasi Tuhan dengan manusia bisa dianalisis dengan metode scientifik, baik konvensional maupun kontemporer. [19]

Pembicaraan mengenai ‘kata wahyu’ untuk sementara dalam penulisan ini, akan disebut dengan istilah yang lebih umum. Hal ini dilakukan sebelum ditemukan pengertian yang pasti tentang bagaimana posisi wahyu Tuhan dalam hubungannnya dengan makhluk-Nya.

Proses penyampaian pesan Tuhan (sementara wahyu dimaknai sebagai “pesan”) kepada Muhammad –secara linguistik- berjalan melalui dua arah. Pertama, Tuhan sebagai pihak yang aktif yang menyampaikannya, kedua, Muhammad sebagai pihak penerima pertama. Jika dilihat melalui sisi semantik, proses turunnya pesan tersebut akan menimbulkan permasalahan. Permasalahan terjadi karena antara keduanya berada dalam taraf ekisistensi yang berbeda. Yakni antara yang supra-nantural dengan yang natural. Oleh karena itu, pada gilirannya problem eksistensi keduanya akan berakibat pada sistem bahasa yang digunakannya. Tuhan sebagai yang gaib (supra-natural) akan menggunakan sistem bahasa yang non-ilmiah dan sebaliknya Muhammad sebagai makhluk natural akan menggunakan sistem bahasa ilmiah.

Sekalipun demikian, masalah tesebut akan bisa teratasi dengan disamakannya eksistensi antara keduanya. Yaitu peleburan dan penyamaan eksistensi.[20] Proses penyamaan ini mengambil dua bentuk; pertama, peleburan Muhammad ke dalam dimensi dunia kemalaikatan (non-natural),[21] sehingga Muhammad mampu memahami dan berkomunikasi dengan sistem bahasa komunikasi Tuhan.[22]

Kedua, Tuhan masuk ke dalam dimensi dunia kemanusiaan (alam natural), sehingga Tuhan melakukan komunikasi dengan sistem bahasa manusia. Pada satu titik tersebut, antara Tuhan dan makhluk-Nya bisa melakukan komunikasi dengan sistem komunikasi mereka yang keduanya saling bisa paham dan memahami.[23]

Sebagai pemilik pesan, Tuhan melakukan komunikasi dengan Muhammad yang tentunya menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh diri-Nya dengan Muhammad yang menjadi kawan komunikasi-Nya.  Bentuk komunikasi seperti ini –dalam kategori Saussureian- merupakan sistem bahasa yang tidak melibatkan peran masyarakat banyak dan biasanya hal seperti ini menggunakan bentuk parole,[24] yakni berupa pilihan bebas dan merupakan hak personal antara pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi.

Terlepas dari perbedaan yang ada tentang hal ini, komunikasi wahyu menggunakan media dapat dipahami keduanya, baik berupa bahasa verbal maupun sistem  isyarat.

Kalau pada tahap komuniksi Tuhan dengan Muhammad merupakan transisi peralihan dari parole Tuhan kepada language[25] atau dari bahasa tutur ke sistem bahasa tulisan, maka komunikasi antara Muhammad dengan konteks masyarakat Arab –dalam arti peralihan sistem bahasa ke masyarakat- merupakan hal niscaya yang di dalamnya membutuhkan akan unsur-unsur linguistik. Oleh karenanya, wahyu dengan penjelasan seperti ini, merupakan wujud komunikasi antara Tuhan dan hambaNya, dan wahyu –sekali lagi- menjadi tempat komunikasi.

Pesan Tuhan (wahyu) yang dalam sejarahnya harus sampai ke tangan manusia, sangat membutuhkan apa yang disebut sebagai bahasa. Bahasa, satu sisi, sebagai alat teknis untuk mengungkapkan sesuatu, di sisi lain, ia merupakan wadah penyampaian.[26] Akan tetapi dalam sejarahnya, pesan Tuhan yang telah didokumentasikan di dalam tulisan tersebut, menjadi sangat rancu dan mengakibatkan munculnya polemik dan berdebatan atas otentik dan tidak otentik dari berbagai redaksi kitab suci.[27] Hal ini disebabkan karena adanya campur tangan dengan berbagai penghapusan dan penambahan yang terjadi pada pesan Tuhan tatkala proses penulisan dan pra-penulisan. Hal ini -sebagaimana dikatakan oleh Hanafi- diperlukan apa yang kemudian disebut sebagai kritik historis. Karena otentisitas redaksi kitab suci hanya bisa dibuktikan melalui kritik sejarah.[28] Otentisitas teks hanya dapat dibuktikan melalui kritik sejarah oleh sejarahwan, setelah sebelumnya jaminan keaslian teks dalam sejarah dilakukan oleh para orator, melalui metode pengalihan teks secara lisan maupun tulisan.

  1. B.       Keotentikan Wahyu Tuhan:

Sebuah Konstruksi Kritik Sejarah Menurut Hassan Hanafi.

Semua agama yang mempunyai kitab suci, tidak bisa dilepaskan dari diskusi mengenai teks kitab sucinya.[29] Menentukan keotentikan kitab suci (wahyu yang terdokumentasi) yang di dalamnya penuh ajaran moral, sumber hukum dan nilai-nilai kemanusiaan, merupakan tindakan yang oleh Hanafi dinilai sebagai rangkaian tindakan penafsiran yang aksiomatik pertama sebelum melakukan tindakan aksiomatik berikutnya. Oleh karena itu, tindakan menentukan keaslian (keotentikan) kitab suci merupakan bagian dari kehati-hatian dan kewaspadaan. Hal ini disebabkan karena menyangkut akan kelangsungan generasi umat di dalam melangkah di muka bumi dengan tuntunan kitab suci.[30]

   Pembahasan mengenai kritik sejarah atas keotentikan sebuah wahyu Tuhan, merupakan hal yang niscaya. Hal ini sebagaimana dikatakan Hanafi, bahwa otentisitas teks hanya dapat dibuktikan melalui kritik sejarah. Kritik sejarah ini haruslah terbebas dari hal-hal yang semata-mata berbau teologis, filosofis, mistik, dan spiritual.[31]

Dalam pembahasan mengenai keaslian sebuah kitab suci ini, Hanafi berasumsi bahwa ketidakaslian kitab suci yang ada, adalah terjadi pada Injil, Taurat, Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.[32] Bagi Hanafi, al-Qur’an sebetulnya telah membuat sebuah proposisi kritis yang diakui oleh semua kritikus Kristen, baik Katolik maupun Protestas, konservatif maupun liberal, yang moderat maupun yang radikal, yakni bahwa kitab-kitab suci terdahulu bukan merupakan firman Tuhan yang asli.[33]

   Bagi Hanafi, kitab suci bisa dikatakan otentik jika: pertama,  kata-kata yang diucapkan Nabi yang didiktekan Tuhan melalui malaikat,[34](seketika) disalin pada saat pengucapannya kemudian disimpan dalam tulisan sampai sekarang. Wahyu yang seperti itu –bagi Hanafi- merupakan wahyu in verbatim (persis sama dengan kata-kata yang diucapkan pertama kali). Wahyu –untuk perjalanannya kemudian- diharapkan tidak melewati masa pengalihan secara lisan, tapi ditulis pada saat pengucapannya. Kedua, pada pengalihan melalui tulisan, wahyu tersebut harus berisi kata-kata yang secara harfiyah sama dengan yang diucapkan Nabi.[35] Proses pengalihan dari lisan ke tulisan haruslah sesuai dengan aturan-aturan pengalihan lisan. Ketiga, teks–teksnya harus diketahui dan identik, ditulis dengan bahasa yang sama dari penutur aslinya, dan yang ke empat, naratornya haruslah orang yang hidup pada zaman yang sama dengan saat diturunkannya kejadian-kejadian dalam teks serta harus benar-benar bersikap netral dalam penceritaannya.[36]

Menurut Hanafi, Wahyu akan bisa menjadi in verbatim, jika tidak mengalami pengalihan lisan. Hal ini ditegaskannya, karena jika terjadi pengalihan lisan, akan ada kemungkinan banyak kata-kata yang hilang sekalipun makna atau maksudnya dipertahankan. Adanya pengalihan lisan juga dikuatirkan akan terjadi campur tangan dari pihak Nabi, penyalinnya, maupun para imajinasi massanya.[37]

Prasyarat lain bagi kesempurnaan teks dalam sejarah adalah keutuhan. Artinya, wahyu disimpan dalam bentuk tertulis (dan dituntut) tanpa mengalami pengurangan (dan penambahan) apa pun dalam sejarah.[38]

Bagi Hanafi, tak satupun kitab suci dalam tradisi kitab suci sejak Taurat yang memenuhi persyaratan seperti di atas kecuali al-Qur’an. Begitu juga, bagi Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keduanya tidak memenuhi syarat-syarat keaslian seperti di atas. Hal ini terbukti, dengan adanya Kitab Perjanjian Lama yang dalam sejarahnya mengalami sebuah perjalanan yang senantiasa melewati berbad-abad cara pengalihan lisan.

Tidak hanya Kitab Perjajanjian Lama, Kitab Perjanjian Baru pun mengalami hal yang sama. Kitab ini melewati sampai satu abad di dalam pengalihan lisan. Artinya, adanya pengalihan lisan yang dianggap menjadi penyebab dari salah satu terjadinya ketidak aslian, terjadi pada kitab-kitab suci dan bahkan (dalam pengalihannya) ada yang melewati satu abad atau bahkan mungkin ada yang berabad-abad.[39]

Hal ini sebenarnya merupakan bukti bahwa kitab-kitab suci yang sudah  terbiasa dalam kesehariannya sering dijadikan sebagai tempat untuk merujuk dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, sebagai pijakan hukum dan sumber petunjuk umat, ternyata terdapat dan ditemukan ketidakaslian. Hal ini sangat mengejutkan, di karenakan kitab suci yang sudah berumur beberapa abad yang lalu ternyata tidak otentik (menurut kriteria Hassan Hanafi). Hanya al-Qur’an-lah yang memenuhi berbagai syarat seperti halnya ditulisnya pada saat diturunkannya.[40]

Dalam hal ini Hanafi memberikan contoh sekaligus melontarkan kritik atas contoh-contoh tersebut. Contoh tersebut adalah, bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama direkam dalam  bahasa Ibrani, kecuali beberapa ayat dalam bahasa Aramaia dan Chaldea. Menjadi bermasalah, jika dilihat dalam sejarah, bahwa Kitab  Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani atau Latin, akan tetapi Yesus sendiri tidak pernah mengenal bahasa Yunani atau bahkan bahasa Latin.[41] Sumber-sumber di belakang kitab-kitab ini pun –sebagaimana analisa Hanafi- mengandung ketidakjelasan. Sebagaimana contohnya yang diungkap oleh Hanafi bahwa cuplikan lagu-lagu lokal dan kesukuan seperti kidung Lamech, lagu tentang tempat Moab, lagu atau kidung Heshbon dan Sihon, lagu-lagu tentang kutukan dan rahmat terhadap Nuh, Melchizedek, Rebekah, Yakob, Esan, Yusuf, semua kidung-kidung tersebut, diyakini tidak jelas dari mana sumber-sumbernya.

Hal yang sama juga terjadi pada sumber-sumber tertulis di belakang kitab-kitab sejarah.[42] Sumber-sumber tertulisnya tidak diketahui secara kritis. Hal yang sama juga terjadi pada penulis-penulisnya, bahasanya, jumlahnya, bahkan sampai pengalihannya dari tangan ke-tangan, kesemuannya tidak diketahui dengan jelas.[43]

Hanafi menegaskan bahwa adanya kesatuan isi atau pengertian kitab suci, menandakan kesatuan sumbernya. Kesatuan kitab suci menjadi kuat jika semua kitab yang ada dalam kitab suci didiktekan oleh Nabi yang menerima pesan Tuhan melalui malaikat secara langsung (immediately).

Selanjutnya, dalam kitab Perjanjian Lama, sebagaimana diungkap Hanafi, tidak dapat diketahui dengan pasti apakah kata-kata yang diucapkan para nabi merupakan wahyu in verbatim yang diucapkan para Tuhan kepada sang nabi melalui Roh Kudus, ataukah merupakan kata-kata sang nabi sendiri yang mengungkapkan wahyu Tuhan yang sebelumnya belum pernah diungkapkan. Dalam kitab-kitab ini, tidak diketahui apakah yang diucapkan oleh Yesus merupakan wahyu yang benar-benar disampaikan Tuhan kepadanya untuk memperbaiki atau menjelaskan wahyu terdahulu yang sebelumnya belum pernah diungkapkan, ataukah ucapan Yesus tersebut merupakan ucapannya sendiri.

Selanjutnya kritik Hanafi atas sejarah orang yang hidup se-zaman dengan al-Kitab. Yakni bahwa teks harus dilaporkan in verbatim oleh beberapa orang yang hidup pada zaman yang sama dengan kejadian yang dilaporkan. Kesamaan maksud yang terungkap dari beberapa orang yang melaporkan satu laporan yang identik, merupakan bukti keaslian. Begitu juga pengalihan-pengalihan yang ada. Mengenai pengalihan ini, paling tidak –kata Hanafi- harus memenuhi empat persyaratan sebagai berikut;[44]

  1. Orang-orang yang melaporkan (yang mendapatkan titah wahyu atau titah untuk menuliskannya) tidak boleh saling ketergantungan satu sama lain. Hal ini diharapkan untuk menghindarkan segala kemungkinan terdapatnya keinginan untuk merendahkan diri. Dikatakan oleh Hanafi bahwa dalam Kitab Injil, terdapat adanya saling ketergantungan dari orang-orang yang menyampaikannya. Hal ini terbukti tentang dua sumber, yakni Logia dan Marc, yang hal ini menguatkan adanya ketergantungan Kitab-Kitab Injil satu sama lain.[45]
  2. Jumlah yang cukup dari orang-orang yang melaporkan akan memberikan kemungkinan yang lebih besar bagi keaslian suatu laporan.[46] Dalam beberapa laporan kepastian tidak tercapai jumlah, bila jumlah orang melaporkan kurang banyak.[47] Makin banyak yang melaporkan, makin besar kepastian yang diperoleh.[48]
  3. Tingkat penyebaran laporan harus bersifat homogen pada setiap waktu. Penyebaran laporan sejak generasi pertama sampai generasi tradisi tulisan, misalkan generasi ke-empat, harus seragam pada generasi ke-empat tersebut. Artinya, penyebarluasan sebuah kisah yang ada dalam kitab suci yang tiba-tiba muncul dalam satu generasi, menandakan adanya intervensi keinginan manusia dalam penemuan laporan baru. Kasus Kitab Injil ke-empat –misalnya kata Hanafi- merupakan contoh kasus yang jelas. Yaitu adanya lebih banyak hal yang diketahui pada abad pertama dari pada apa yang diketahui pada generasi pertama.
  4. Isi laporan harus sesuai (tepat) dengan pengalaman manusia dan kesaksian inderawi. Wahyu bukanlah sesuatu yang luar biasa, supranatural, ataupun ajaib. Semua kisah tentang keajaiban, ke-supranaturalan harus dihilangkan. Menghilangkan keajaiban ini bukanlah karena keajaiban adalah tidak ada, melainkan karena keajaiban menurut Hanafi tidak cocok dengan panca indera. Keajaiban adalah suatu peristiwa alamiah yang penyebabnya tidak diperhatikan. Artinya, begitu penyebab keajaiban diketahui, maka hilanglah keajaiban tersebut.[49]

Pengalihan multilateral yang memenuhi ke-empat persyaratan ini menurut Hanafi bisa membuktikan akan keotentikan pesan Tuhan. Pengalihan ini mencerminkan derajat ketepatan sejarah yang paling tinggi. Jika ke-empat dari pengalihan seperti yang di atas tidak dipenuhi secara teoritis wahyu akan menjadi bersifat dugaan.[50]

Sebuah laporan harus dibuat secara tekstual, tanpa ada pengurangan ataupun penambahan. Hubungan yang ada antara kata dan maknanya, adalah hubungan yang mutlak. Makna hanya bisa diungkapkan ketika dengan kata yang sama. Artinya, jika digunakan kata yang lain, maka bisa diasumsikan akan terdapat makna bayangan yang tidak pernah sama dengan makna yang sebenarnya. Pengurangan atau penambahan pada sebuah teks misalnya -sekalipun pengurangan atau penambahannya tidak esensial- (pada akhirnya) akan berdampak menjadikan suatu lapisan makna yang sebenarnya tidak dimiliki oleh makna yang sesungguhnya dari redaksi teks.

 Analisis penemuan ketidakaslian selanjutnya, adalah bahwa dalam Kitab-kitab Injil, kata-kata yang diucapkan Yesus disampaikan berdasarkan makna dengan kata-kata yang berbeda. Hal ini sesungguhnya telah membuktikan bahwa kitab-kitab suci tersebut telah diselewengkan.

Mengenai problem keaslian kitab suci, yakni bahwa hanya kata-kata yang langsung diucapkan Nabi pada waktu Tuhan menyampaikan wahyu –itulah- yang harus dipertahankan. Kata-kata yang diucapkan oleh para Nabi adalah satu-satunya bagian kalimat langsung yang harus dipertahankan. Sebaliknya, bagian kisah yang berupa kalimat yang tidak langsung, bukanlah bagian dari riwayat pesan Tuhan. Dan sebaliknya, kata-kata yang diucapkan sahabat,[51]kata yang diucapkan masa, atau siapa pun yang terlibat dalam dialog dengan Dzat yang tidak bisa dilihat (alam supranatural, alam non-ilmiah), tidaklah termasuk bagian dari pesan Tuhan yang harus dipertahankan.

Akan tetapi dalam sejarah, perkataan para sahabat di sejarah kitab-kitab suci kecuali al-Qur’an, sangat bisa ditemui. Hal ini semisal; dalam Kitab Perjanjian Baru, yang disinyalir Hanafi bahwa kisah para rasul yang ditulis oleh Lukas dan Wahyu yang ditulis oleh Yohannes. Penulisan yang dilakukan tersebut, sudah sangat jelas merupakan bagian dari tradisi. Karena itu menurut pengamatan Hanafi, bahwa surat-surat Katolik, misalnya, dan juga perkataan orang-orang yang hidup setelah zaman Nabi, adalah bukan merupakan bagian dari kitab suci, akan tetapi merupakan tradisi.

Jika demikian, empat belas surat Paulus yang ada –selama ini- adalah bagian dari tradisi dan bukan merupakan kitab suci.[52]

Begitu juga kata-kata yang diucapkan Nabi ketika masih kecil atau setelah wafat, juga harus dikesampingkan. Hal ini disebabkan karena seorang anak belum mencapai usia berpikir, sedangkan berbicara setelah mati merupakan hal yang tidak wajar karena bertentangan dengan kebiasaan dan bertentangan dengan jalannya kejadian pada umumnya.

Bagi Hanafi, seorang yang melaporkan kisah dituntut memiliki kesadaran netral.[53] Artinya, bahwa orang tersebut dilarang mencampuri (intervensi) kisah yang dilaporkannya dengan kata-katanya pribadi, bayangan, perasaan, kepentingan, atau dengan penafsirannya sendiri. Oleh sebab itu, kata Hanafi, bahwa perbuatan mengisahkan harus berlangsung dalam tiga langkah,[54] yaitu;

Pertama, mendengar, kedua, menyimpan dalam ingatan, dan yang ketiga, melaporkan.  Sebuah laporan kisah dikatakan otentik jika ketiga langkah tersebut identik. Yaitu mendengar sejalan dengan menyimpan dalam ingatan, dan menyimpan sejalan dengan pelaporannya.

Selanjutnya –masih berhubungan dengan syarat keotentikan- bahwa Hanafi di dalam usaha memetakkan kitab suci yang asli, ia memberikan statemen yang sangat unik, yakni bahwa orang yang melaporkan kisah dengan menggebu-gebu, sebenarnya tidak mampu melaporkan sebuah kisah yang nyata. Hal ini disebabkan oleh karena perasaan yang menggebu-gebu berarti -menurut Hanafi- tidak memiliki sebuah keseimbangan perasaan (emosi yang tidak stabil). Seseorang yang meriwayatkan (perawi) harus berpikir logis, mempunyai emosi yang stabil dan kejujuran yang tinggi.

Dalam meriwayatkan, seorang perawi tidak bisa berinterfensi  baik dalam ide, keinginan, emosi, pandangan maupun tujuan. Mengenai hal ini Hanafi mengatakan bahwa; “A passionate narrator is unable to the raport because of the loss of the sentimental equilibrium”……“The reporter must have a rational conscience, an equilibrium in feeling, and extreme honesty based on piety”.[55]

Hal tersebut dikatakan Hanafi, disebabkan oleh karena dalam Kitab Injil dalam setiap narratornya telah mengganggu keaslian wahyu dengan memasukkan gagasan, rencana, perasaan, bayangan dan cita-citanya dengan begitu menggebu-gebu.

Hanafi mencontohkan bahwa dalam sejarah, Markus dengan gagasan dan rencananya ingin membuktikan Yesus sebagai Ebionite, sedangkan Mathius berkeinginan menjadikan sifat Yesus sebagai juru selamat dan sekaligus rohaniawan Kristen.[56]

Dengan demikian, adanya keinginan, baik yang datang dari hawa nafsu, perasaan maupun pikiran, dapat menjadikan kitab suci yang ditulis, mengalami cacat total.[57]

Akhirnya, keraguan al-Qur’an –dalam sejarah- tentang keaslian kitab-kitab suci tersebut, dapat dimengerti.[58] Hal ini diyakini karena wahyu dalam kitab-kitab tersebut tidak dipertahankan in verbatim. Jika demikian, maka kemungkinan terjadinya kesalahan, sangatlah besar. Sebagaimana contoh adanya pengubahan, pengurangan, penambahan, penghapusan, penyisipan, dan kekhilafan yang terjadi pada beberapa kitab suci sebelum al-Qur’an.[59] Sebab itulah, tuduhan-tuduhan al-Qur’an terhadap adanya ketidakaslian yang terdapat dalam kitab-kitab suci sebelumnya, bisa dipercaya. Tuduhan-tuduhan yang pernah dilontarkan al-Qur’an terhadap kitab-kitab suci sebelumnya adalah sebagai berikut;

Pertama, dalam beberapa teks-teks kitab suci tersebut ada beberapa kata yang dipindahkan dari tempat aslinya dengan cara menggunakan ejaan yang salah untuk menyiratkan suatu arti yang lain.[60] Kedua, teks-teks lain telah diubah dengan upaya menggantikannya dengan teks-teks yang lebih lunak terhadap otoritas politik dan agama. Teks-teks yang asli diubah, dikacaukan, atau bahkan diselubungi dengan teks-teks lain.[61]

Ketiga, ada pula teks-teks yang ditutup-tutupi dan disembunyikan. Teks-teks itu benar-benar dikesampingkan, baik karena ketiadaan semangat pengalihan, ataupun dimaksudkan untuk menjaga status quo teokrasi yang ada. Bahkan perjanjian yang ada dalam kitab-kitab tersebut diakhiri untuk menyatakan wahyu Tuhan secara terbuka, dan bukan untuk menyembunyikannya.[62] Begitu juga Kitab Injil, dikatakan Hanafi, telah memuat sebuah kisah mengenai keterangan Kitab Taurat yang disembunyikan, kemudian pada akhirnya ditemukan oleh seorang pendeta.

 Selanjutnya mengenai kritik al-Qur’an terhadap kitab-kitab yang lain (yang ke empatnya), adalah bahwa teks-teks tersebut -mutlak- merupakan hasil pikiran kreatif dari para penutur kisah atau penulis kisah, atau sengaja dibuat atas kerja sama antara penguasa agama dan penguasa politik, antara para rabbi dan raja-raja. Beberapa hukum dibuat oleh para pendeta untuk dikenakan pada masyarakat bukan berdasarkan kesalehan dan ketaatan, tapi berdasarkan kemunafikan, bahkan sebelum Tuhan memerintahkannya.

Tuduhan yang dilontarkan al-Qur’an ini –kata Hanafi- merupakan hal yang bisa dikatakan benar dalam kategori kritik sejarah. Oleh karena itu, dengan adanya penciptaan-penciptaan atas teks-teks kitab suci tersebut, al-Qur’an menyebutnya sebagai dusta. Hal ini telah disebutkannya dalam QS. Al-Baqoroh: 79. Sebagaimana firman Allah:

فويل للذين يكتبون الكتب بأيديهم ثم يقولون هذا من عندالله ليشتروا به ثمنا قليلا فويل لهم مما كتبت أيديهم وويل لهم مما يكسبون. (البقره: 79)

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya : ini dari Allah, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan” (QS.Al-Baqarah: 79.)

Kritik al-Qur’an terhadap kitab suci agama seperti di atas –sebagaimana diungkap Hanafi- adalah merupakan sebuah hal yang sudah biasa. Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an telah memberikan ketegasan kritiknya dengan menunjukkan kebenaran sejarah atas ketidakaslian kitab Bibel. Hal ini sebagaimana dikatakan Hanafi bahwa : “….in Islam, the critique of relegion is very common, the kur’an began such criticism by showing the inauthenticity of Bibical scriptures, the deformation of Jewish and Cristian dogma, and the alination of religious practice…”[63]

Selanjutnya, mengenai keaslian kitab Taurat, para sarjaan Muslim klasik (sebagaimana di terangkan Hanafi) telah mengemukakan anggapan bahwa kitab Taurat yang asli telah dihancurkan pada masa penghancuran pertama terhadap kuil dan tidak pernah dipulihkan kembali.[64]

 Oleh karena itu, apa yang dilontarkan Hanafi bahwa ada beberapa redaksi kitab suci yang tidak asli, ternyata pada akhirnya ditemukan. Thus, dengan menggunakan kritik historis yang ada dalam hermeneutika Hassan Hanafi sebagaimana yang telah diusung oleh Hanafi di atas, telah berfungsi untuk memastikan keaslian teks yang disampaikan kepada nabi sebagai perantara kitab suci dalam sejarah. Oleh sebab itu, ditegaskan oleh Hanafi bahwa keaslian wahyu dalam sejarah, ditentukan oleh tidak adanya syarat-syarat kemanusiaan di dalamnya. Namun, hal ini sudah terjadi pada kitab-kitab suci selain al-Qur’an.[65]

Sebaliknya, menurut Hanafi, bahwa kata-kata al-Qur’an yang diterima Nabi Muhammad dan didiktekan langsung oleh Tuhan melalui malaikat, langsung pula didiktekan oleh Nabi kepada para penyalin pada saat pengucapannya, dan lestari sampai saat dituliskannya redaksi teksnya. Wahyu yang semacam ini tidak melalui tahap pengalihan lisan, akan tetapi ditulis pada saat pengucapannya. Hanya al-Qur’an-lah –bagi hermeneutika Hanafi- yang memenuhi prasyarat-prasyarat tersebut.

Kitab-kitab suci yang ada, lain kasusnya dengan al-Qur’an, al-Qur’an merupakan wahyu yang ditulis in verbatim yang secara harfiyah dan kebahasaan sama dengan yang diucapkan Nabi.[66]

Oleh karenanya, sejalan dengan pemikiran hermeneutika Hanafi, bahwa ia mengharapkan teori hermeneutikanya dapat bersifat “teoritik” sekaligus “praktis.” Artinya, dengan diketahuinya keotentikan wahyu Tuhan, -untuk berikutnya- langkah memahami wahyu Tuhan (baru) bisa berjalan. Hal ini karena prasyarat pemahaman yang tepat akan pesan Tuhan yang terdokumentasi dalam tulisan, adalah dengan terlebih dahulu membuktikan keasliannya melalui kritik historis. Sebab jika tidak, pemahaman terhadap teks yang palsu akan menjerumuskan orang pada kesalahan.

  • Beberapa Catatan atas Gagasan Otentisitas Wahyu Tuhan

            Hassan Hanafi

Gagasan Hanafi atas konsep hermeneutika yang dijadikannya sebagai  pijakan kritik terhadap keaslian redaksi kitab suci adalah disebabkan karena Hanafi mengharapkan adanya konsep penafsirannya yang bersifat –salah satunya- objektif.[67] Untuk hal tersebut, ia sangat menuntut adanya keaslian dari redaksi kitab suci sebelum diadakannya langkah-langkah penafsiran. Menggunakan kritik sejarah, oleh karenanya, –dalam melakukan tindakan penafsiran-, dipandang olehnya sebagai langkah urgen yang harus diletakkan di posisi awal sebelum melangkah pada wilayah penafsiran (kritik eidetik). Dengan menggunakan kritik historis, otentisitas redaksi kitab suci –sebagaimana diyakini Hanafi- akan terlihat dan menjadi jelas. Hal ini karena muatan yang ada dalam kritik historis adalah muatan-muatan yang berkepentingan membongkar keaslian dan berupaya mencocokan dari asal sumber aslinya teks

Namun, uraian teoritik Hanafi di dalam memberikan penilaian yang berpijak pada kritik historis, terlihat berat sebelah atau sangat kurang objektif. Hal ini bisa terasa di beberapa uraiannya yang jarang -bahkan tidak pernah- menyinggung sama sekali mengenai keotentikan al-Qur’an yang juga menjadi polemik perdebatan di kalangan orang Islam maupun non Islam.[68] Kalaupun menyinggung mengenai al-Qur’an di tengah-tengah tulisannya, Hanafi senantiasa hanya memberi nilai plus akan keotentikan pesan Tuhan yang ada dalam kitab suci al-Qur’an.

Hanafi di beberapa uraiannya terlihat sangat larut akan keyakinannya –sebagaimana keyakinan kebanyakan muslim lainnya- bahwa teks dan bacaan dalam mushaf al-Qur’an dewasa ini diyakini sebagai rekaman lengkap dan otentik wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad yang selanjutnya dikodifikasi Zaid bin Tsabit berdasarkan otoritas Khalifah Usman bin Affan. Artinya, Hanafi menyakini bahwa pernyataan al-Qur’an dalam QS 15:9[69] merupakan bentuk statemen garansi Ilahi atas kemurnian wahyu al-Qur’an dari berbagai perubahan dan penyimpangan. Tulisan Hanafi yang terlihat sering menggunakan bahasa bombamtis tersebut terasa telah melupakan akan sejarah pemantapan teks dan bacaan al-Qur’an yang dewasa ini diasumsikan oleh berbagai kalangan cukup masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya.

Ungkapan Hanafi bahwa wahyu Tuhan dikatakan otentik jika wahyu tersebut terhindar dari penghapusan dan penambahan sebagaimana yang terjadi pada kasus Injil, Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah terlihat kurang universal dan kurang objektif. Mengapa dalam penjelasannya, Hanafi tidak menyinggung atau sedikit mengelaborasi mengenai doktrin na>sikh mansu>kh yang pada abad ke-8 hingga abad ke-11 telah mencapai suatu proporsi yang sangat mengerikan dan dramatis dalam sejarah pemikiran Islam.[70]

Namun, terlepas bahwa Hanafi bukan merupakan sarjana yang fokus akan kajian sejarah al-Qur’an seluruhnya sebagaimana sarjana-sarjana Barat yang ‘menekuni’ al-Qur’an semisal Silvester de Sacy, Gustav Weil, H. Hirschfeld, O. Loth, Wansbrough atau bahkan semisal sarjana Prancis Paul Casanova yang telah juga banyak menemukan adanya ketidakotentikan dalam kitab suci al-Qur’an, setidaknya kajian Hanafi mengenai keotentikan kitab suci dijadikan (sebagiannya) sebagai counter wacana terhadap pemikiran-pemikiran Barat khususnya dan internal Islam pada umumnya atas keraguan yang ada pada kitab suci al-Qur’an juga sekaligus dengan membuktikan posisi dan letak dimana dan mengapa sebagian redaksi kitab suci al-Qur’an diragukan yang tentu saja dengan historical criticism, atau al-Naqdu al-Ta<rikhi< .

Dengan demikian, digunakannya kritik historis dalam studi hermeneutika Hanafi untuk menentukan keaslian redaksi teks kitab suci, baik yang ada pada al-Qur’an, Injil, Taurat, Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang ia tawarkan, menjadi semakin terlihat obyektif dan seimbang jika kesemua redaksi kitab suci dikupas olehnya. Paling tidak Hanafi dalam menguraikan kritikan-kritikan atas ketidakaslian redaksi kitab suci belum bisa memposisikan sama dan setara di semua redaksi kitab suci. Namun, sekalipun demikian, apa yang diungkap olehnya akan menjadi pijakan-pijakan konstruktif bagi pengkaji selanjutnya untuk melanjutkan gagasan-gagasannya. [*]


[1] Hassan Hanafi, “Hermeneutika sebagai Aksiomatika; Sebuah Kasus Islam”, dalam Dialog Agama dan Revolusi,  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), hlm 2. (selanjutnya disebut Hassan Hanafi, Hermeneutika sebagai Aksiomatik)

[2] Hassan Hanafi, Ibid,  “Hermeneutika sebagai Aksiomatika”,hlm 4-5.

 

[3] Mohammad Arkoun, “Pemikiran tentang Wahyu: Dari Ahl al-Kita>b sampai Masyarakat Kitab”, dalam Ulumul Qur’an, no., Vol. IV, 993.

 

[4] Arkoun menerangkan fenomena wahyu sebagai hasil pembuktian linguistik dengan mengambil contoh QS al-’Alaq:96. Dalam surat yang cukup pendek ini, tema-tema wahyu telah diterangkan. Dalam ayat ini Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai subyek netral yang secara gramatikal maupun semantis mengatur keseluruhan wacana ini.

 

[5] Istilah ortodoks, merupakan wacana para pengkaji Islam dari Barat untuk menunjukan Islam atau umatnya pada posisi dan sikap tertentu. Istilak ortodoksi adalah sangat biasa untuk dikaitkan dengan salah satu aliran keagamaan di dunia Kristen. Keyakinan-keyakinan agama Kristen telah dijelaskan oleh tiga tradisi besar, yaitu; ortodoks timur, katolik romawi, dan protestan. Lihat. Harold A. Titus, et.al.,Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. Rasyidi, (Jakarta:Bulan Bintang, 1984), hlm. 427.

[6] Mohammed Arkoun, “Gagasan tentang Wahyu: Dari Ahl al-Kitab sampai Masyarakat Kitab”, dalam H. Chambrt-Loir dan Nico J.g. Kaptein, Studi Islam di Perancis: Gambaran Pertama, terj. Rahayu S.Hidayat, dkk. (Jakarta:INIS, 1993), hlm. 38.

[7] Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog antar Agama, Studi atas Pemikiran Mohammad Arkoun, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000), hlm. 180.

[8] Pandangan-pandngan di atas itulah merupakan salah satu implikasi dari metode historis-antropologis yang digunakan Arkoun dalam studi wahyu. Dengan pandangan diatas itulah, sebenarnya Arkoun ingin menekankan pentingnya memahami aspek “ruang” dan “waktu” untuk memperoleh pemahaman keagamaan yang tepat, khususnya yang terdapat dalam wahyu.

[9] Abdul ‘Ali Salim Mukarram, Al-Fikru Al-Isla>mi, baina al-Aqli wa al-Wahyi, (Beirut: Dar Syuruf, 1982), hlm. 17

[10] Muhammad Syahru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n, Qira>’ah Mu’a>s}irah, (Damaskus: al-Aha>li Li al-Tiba>’ah wa al-Nas}r wa al-Tawzi>’, 1996,), hlm. 375.

[11] Nas}r Ha>mid Abu> Zaid, Imam Syafi’I, Moderatisme Eklektisme, Arabisme, (Yogyakarta: LkiS, 1997), hlm. 34.

[12] Toshiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia: Pendekatan Semantik terhadap al-Qur’an, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm 171 – 173.

[13] Nas}r Ha>mi}d Abu> Zaid, op. cit., hlm 34. Seperti contoh dalam  QS Maryam 10 –11, 27 –29 dan Ali Imran ayat 41.

[14] Wahyu tidak hanya dimilik manusia, tapi juga hewan. Nas}}r Ha>}mi>d Abu> Zaid, Tektualitas Al-Qur’an: Kritik atas Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: LkiS, 2001), hlm. 47. juga lihat ‘Abdul ‘Ali Sali>m Mukarram, op. cit., hlm 18. Sedangkan ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan akan hal tersebut adalah terdapat pada: al-Nahl:68, al-Qas}a>s;7, Maryam:11, Demikian juga, wahyu tidak saja datang dari Tuhan, tapi juga bisa datang dari setan, lihat al-An’am: 121, an-Najm: 4.

[15] Manna>’ Khali>l al-Qat}t}a>n, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, terj. Mudzakkair. (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2000), hlm.35 –36.

[16] Ibid, hlm. 36.

[17]  QS. Yusuf :2.  “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”.  Lihat. Al-Qur’an dan Tejemahnya,  (Madi>nah: Mujamma’ al-Ma>lik al-Fahd, 1418 H.).

[18] Ami>n Al-Khu>li>, Mana>hij Tajdi>d fi> al-Nah}w wa al-Bala>gah wa al-Tafsi>r wa al-Adab, (Kairo: al-Hay’a al-Misriya al-‘Amma’ li al-Kitab, 1978), hlm. 87.

[19] Al-Qur’an –misalnya- dalam hal dijadikannya ia sebagai wahyu yang berwujud sebagai bentuk dokumentasi komunikasi Tuhan dengan hamba-Nya, adalah tetap diposisikan sebagai teks yang berbahasa Arab yang ke’arabannya merupakan elemen niscaya dalam mengurai serta memahami pesan moral yang dibawanya. Karya tafsir yang begitu banyak semenjak abad ke dua hijriyyah sampai sekarang menunjukkan kemungkinan analisis ilmiah terhadap komunikasi Tuhan dengan manusia tersebut. Tentang pelbagai karya tafsir dan pemetaaanya, lihat. Jansen, The Interpretation of the Koran in Modern Egypt, (Leiden, E.J. Brill, 1974), lihat juga Huseyn al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadis, 1961). Lihat. Baljon, Modern Muslim Koran Interpretation, (Leiden, E.J. Brill, 1960).

[20] Proses peleburan dan penyamaan ini terjadi sebagaimana diceritakan oleh Siti Khadijah, bahwa suatu saat –dalam suasana musim dingin- Muhammad menerima wahyu dan terdapat di dahi Muhammad dipenuhi keringat. Proses ini mengambil bentuk peleburan Muhammad ke dalam dimensi kemalaikatan.

[21] Bentuk peleburan ini bisa terjadi di karenakan adanya potensi manusia untuk memasuki alam malaikat. Hal ini sebagaimana dikatakan Ibn Khaldun, bahwa jiwa manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, jiwa yang tidak  sanggup secara kodrati untuk mencapai pada pemahaman kerohanian, melainkan hanya sampai pada pemahaman yang bersandar pada indra dan hayal. Mereka ini berasal dari masyarakat awam. Kedua, golongan yang murni menggunakan pikirannya tanpa menyandarkan diri pada aspek indrawi saja. Mereka adalah para wali dan ulama’. Ketiga,  golongan yang secara kodrati memang mempunyai sifat yang tidak saja seperti dua sifat di atas, akan tetapi dan bahkan lebih mempunyai sifat yang dapat meningkat dan menuju ke dunia malaikat. Mereka pada umumnya adalah para Nabi. Lihat. Ibn Khaldu>n, Muqaddimah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, cet III, 2000), hlm. 118.

[22] Komunikasi linguistik antara Tuhan dan manusia hanya akan dapat terjadi tatkala ada titik sama yang bisa menyetarakan antar keduanya. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Syamsuddin al-Kirma>ni> (w. 786/1384). Ia menyatakan bahwa suatu hal yang sangat ganjil seandinya ada komunikasi, diskusi, tahawur, pengajaran, ta’lim, dan belajar, ta’allu>m, antara Tuhan dan manusia tanpa didahului oleh proses penyetaraan (tana>sub) antara yang berbicara, al-qa’il, dan yang mendengar (al-sa>mi’). Lihat. Al-Kirma>ni>, Syarh} S}ahih al-Bukha>ri>, (Kairo: Maktaba wa Matba’a ‘Abd al-Rahman Muhammad Li> Nas}r al-Qur’a>n al-Kari>m wa al-Kutu>b al-Isla>miyya)

[23] Dalam sejarah tasawuf dijelaskan bahwa Tuhan mempunyai sifat nasut dan lahut. Demikian juga manusia. Dua potensi yang ada dan terdapat pada sang pencipta dan yang dicipta ini memungkinkan keduanya bertemu langsung. Yakni ketika Muhammad melepaskan dimensi kemanusiaannya dan Tuhan memasuki dimensi kemanusiannya, maka saat itu keduanya bertemu. Lihat, Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurnian, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1978), hlm. 113.

[24] Dilihat dari segi firman, wahyu memuat dua hal, yakni parole dan langue. Firman Tuhan sama dengan parole dalam konsepsi Saussureeian, karena ia diutarakan Tuhan secara personal. Akan tetapi karena wahyu berhubungan dengan alam manusia, maka bahasa firman harus disesuaikan dengan bahasa manusia. Karena itu, bahasa Arab menurutnya dipilih bahasa firman Tuhan. Dalam bahasa Saussureeian, bahasa Arab dengan inilah disebut langue. Toshiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), hlm 165 – 168. Bandingkan dengan Nas}r Hami>d Abu> Zaid, Tekstualitas al-Qur’an: Kritik atas Ulum al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2001), hlm. 33.

[25] Language diartikan dengan bahasa tulis dan Parole diartikan sebagai bahasa tutur. Language/Parole bisa diimajinasikan sebagai penanda/petanda, tuturan/tulisan. Lihat. Inyiak Ridwan Munzir, Dekonstruksi: Sebuah Perkenalan Singkat”, Pengantar Penerjemah dalam Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida, terj. Inyiak R. Munzir, (Yogyakarta: Ar-Ruz, 2003), hlm. 9-10.

[26] Johan Hendrik Meuleman, “Nalar Islami dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Mohammed Arkoun”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 3. vol. IV. Tahun 1993, hlm. 94-95.

[27] Sudah banyak di berbagai karya sarjana yang telah banyak menguak akan keotentikan sebuah kitab suci. Baik kitab suci al-Qur’an, Injil, Taurat, maupun Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Mereka semisal Silvester de Sacy, Gustav Weil, H. Hirschfeld, O. Loth, Wansbrough.

[28] Hassan Hanafi, “Hermeneutika sebagai Aksiomatik : Sebuah Problem Islam”, dalam Dialog Agama dan Revolusi, terj. Tim Penerjemah Pustaka Firdaus, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), hlm 4-5.

[29] M. Nurkholis Setiawan, “Mengkaji Sejarah Teks al-Qur’an”, dalam Hermeneutika al-Qur’an Madzhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003), hlm. 3.

[30] Sebab jika tidak, pemahaman terhadap sebuah teks yang tidak asli karena di awali dengan ketidakaslian dari kitabnya, maka ditakutkan hal ini akan menjerumuskan umat pada kesalahan, sekalipun penafsirannya terhadap teks yang tidak asli adalah benar. Lihat. Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi,  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), hlm 1.

[31]  Ibid, hlm 5.

[32] Terbukti Injil misalnya dengan konsep keutuhan yang ditawarkan Hanafi, bahwa Injil tidak terdapat keutuhan penjelasan. Sebab yang diucapkan Yesus jauh lebih banyak dari pada yang berhasil dikumpulkan dalam tulisan. Hasil ajaran selama tiga tahun, tentu akan lebih banyak dari isi kitab Injil yang ada sekarang. Hassan Hanafi, Ibid, hlm 8.

[33] Hal ini dikatakan Hanafi, bahwa kitab suci khususnya al-Qur’an sudah terjaga akan bahaya perubahan dan pergantian, sebaliknya kitab-kitab suci semisal Injil, Taurat di lingkungan Bani Israil, sering mengalami perubahan dan pergantian. Lihat. Hassan Hanafi, “Teori Tafsir”, dalam Sendi-Sendi Hermeneutika: Membumikan Tafsir Refolusioner, terj. Yudian Wahyudi & Hamdiah Latief, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, tth), hlm. 1.

[34] Malaikat tidak membimbing jalannya sejarah, tapi hanya menyampaikan pesan dari Tuhan kepada Nabi. Keinginan manusialah yang mempertahankan keaslian pesan Tuhan dalam sejarah. Pesan Tuhan tidak datang kepada seorang penyalin atau seorang yang sedang melamun, tapi hanya kepada Nabi. Pesan Tuhan bukanlah ilham, akan tetapi ia berupa dikte. Hanafi, Ibid, hlm.7.

[35] Ambillah contoh kitab Taurat misalnya, yang berulangkali diacu dalam al-Qur’an. Bahwa sebuah tradisi lisan yang dilaluinya tidak akan pernah sama selama tiga belas abad di zaman Ibrahim, apalagi pada zaman Adam dan Nuh, atau selama delapan abad di zaman Musa, empat atau lima abad di zaman Daud dan Sulaiman, dua atau tiga abad di zaman nabi-nabi lainnya. Ibid, hlm 2.

[36] Ibid, hlm 6

[37] Ibid.

[38] Ibid, hlm. 8.

[39] Memang sangat diakui bahwa dalam Kitab Perjanjian Baru sudah tidak lagi dianggap otentik karena –sebagaimana para pengkritisi menilainya- baru disusun lebih se-abad setelah masa Yesus Kristus, yakni setelah meninggalnya para Nabi –yang dalam tradisi Kristen- dianggap sebagai para  penulis. Lihat. Malek Ben Nabi, Fenomena al-Qur’an: Pemahaman Baru Kitab Suci Agama Ibrahim-Ibrahim, terj. Farid Wajdi, (Bandung: Penerbit Marja’, 2002), hlm. 40.

[40] Ibid, hlm 5. dari sudut pandang Sosiologi Arab dan Psikologi periode Muhammad, bahwa al-Qur’an diwahyukan sampai selesai. Disusun dan dibakukan sedemikian rupa. Hal ini pada masa Nabi sendiri merupakan fenomena yang mengesankan. Tidak ada problem tekstual bagi al-Qur’an (waktu itu) sebagaimana problem yang dihadapi Bibel. Hal ini sebagaimana diungkap oleh al-Qur’an sendiri dalam QS: 15: 9.

[41] Ibid, hlm 7.

[42] Seperti contoh; Sejarah kerajaan Daud, Kisah Salomo, Sejarah Kerajaan Judah, Sejarah Kerajaan Israel. Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm.25.

[43] Hanafi menjelaskan bahwa semua sarjana Kristen, baik ahli arkeologi maupun sejarah, ahli filologi maupun kritikus, mengakui bahwa tidak terdapat kepastian mutlak bahwa kitab Injil yang ada di tangan umatnya sekarang ini, baik yang ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aramaia, Yunani atau Latin, Syiria atau Coptic, Armenia ataupun Etiopia, sama dengan wahyu yang diucapkan pertama kali. Mereka semua menyangsikan dan meragukan akan ke otentikannya. Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm. 27.

[44] Hassan Hanafi, Religious Dialogue and Revolution, hlm 8-9.

[45] Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm. 10.

[46] Ibid.

[47] Ibid.

[48] Dalam hal Kitab Injil, tiga atau empat belumlah mencukupi, sebab jumlah tersebut belum memberikan kepastian tentang keaslian perkataan-perkataan Yesus. Ibid.

[49] Ibid. hlm. 11

[50] Ibid.

[51] Perkataan para sahabat Nabi bukan bagian dari kitab suci melainkan dari tradisi, yang bisa diterima atau ditolak berdasarkan kesamaan atau perbedaannya dengan kitab suci. Perkataaan-perkataan tersebut merupakan penafsiran pribadi. Ibid. hlm. 14.

[52] Hassan Hanafi, Ibid, hlm. 15.

[53] Orang yang melaporkan harus mempunyai hati nurani yang rasional, perasaan yang seimbang dan kepolosan yang didasarkan pada kesalehan. Seorang yang mistis tidak boleh melaporkan kisah, karena dikuatirkan, (ia) akan menambah sesuatu yang dilaporkan dengan isi batinnya. Ibid Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm. 12.

[54] Ibid.

[55] Hasan Hanafi, Religious Dialogue & Revolution, hlm.10.

[56] Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm. 13

[57] Sebagaimana adanya kelompok-kelompok yang berkepentingan, kelompok-kelompok penekan, atau pertentangan kepentingan yang bersifat sectarian di belakang pengubahan kitab suci baik dengan cara menambahkan beberapa hal yang ingin ditambahkan dan menghilangkan bagian –bagian yang tidak disukai. Hal tersebut banyak terjadi di beberapa kitab suci selain al-Qur’an al-Karim.

[58] Hal ini terbukti dengan adanya beberapa teks al-Qur’an yang berbicara mengenai kitab-kitab suci dengan memberikan penilaian adanya perubahan terhadap teks-teks kitab suci, deformasi ajaran-ajaran. Lihat Hassan Hanafi, Tafsir Fenomenologis, terj Yudian Wahyudi, (Yogyakarta: Pesantren Pasca Sarjana, 2001), hlm. 18.

[59] Kesalahan-kesalahan tersebut bisa terjadi tidak sengaja, tapi, bisa juga dilakukan dengan sengaja.

[60] “yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkatan dari tempat-tempatnya, dan (mereka mengatakan)…dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.” (QS. Al-Nisa’: 46). “Mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya dan (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diberi peringatan dengannya”. (QS. Al-Maidah: 14). “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan: ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS.Ali-Imran: 78)

[61] Hal ini diungkapkan dalam al-Qur’an yang artinya “.Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya.” (QS. Al-Baqarah: 75). “Maka orang-orang yang zalim diantara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka”(QS.Al-A’raf: 162). “Hai Ahlil kitab mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?.” (QS. Ali Imran: 71).

[62] Lihat. QS Al-Baqarah: 146, 174, QS. Ali-Imran: 187, QS.Al-Baqarah : 42).

[63] Hassan Hanafi, “Marx’s Critique of Religion: An Islamic Reading”, dalam Islam in the Modern World. Vol. II. Tradition, Revolution and Culture, (Egypt: Dar Kebaa Bookshop, 2000), hlm. 426.

[64] Hassan Hanafi, “History and Verification: A Qur’anic View on the Scriptures”, dalam Religious Dialogue and Revolution: Essays on Judaism, Cristianity & Islam, (Anglo Egyptian Bookshop, 1977), hlm, 25.

[65] Adanya upaya perubahan terhadap kitab suci –dalam potret sejarah- sudah sering dan banyak dilakukan oleh Paulus dalam rangka memodifikasi ajaran-ajaran agama Kristen. Lihat. Abdul Samad Kamba, “Analisis Historis-Antropologis terhadap al-Qur’an”, dalam Hermeneutika Madzhab Yogya, (Yogyakarta, Islamika, 2003), hlm. 18

[66] Hassan Hanafi, Dialog Agama dan Revolusi, hlm.5 – 6.

[67] Lihat Makalahnya yang berjudul “Hermeneutics as Axiomatics: An Islamic Case” dalam Religious Dialogue & Revolution, (Kairo: Anglo Egyptian Bookshop, 1977), hlm 1.

[68] Al-Qur’an dewasa ini, secara doktrinal, dipandang telah mencakup keseluruhan wahyu Ilahi yang diterima Muhammad. Namun, ada beberapa sarjana Muslim maupun non-Muslim menyatakan bahwa masih ada riwayat-riwayat redaksi lain (al-Qur’an) yang belum sampai ke tangan orang Islam dewasa ini.  Ada yang membuktikan bahwa masih ada eksistensi sejumlah redaksi al-Qur’an lain yang tidak terekam secara tertulis. Terlepas hal ini terkait atau tidak akan kasus Naskh al-H}ukm wa al-Tila>wah atau Naskh al-Tila>wah Du>na al-H}ukm yakni adanya wahyu al-Qur’an yang terhapus baik hukum maupun bacaannya, atau terhapus teks atau bacaannya tetapi hukumnya masih berlaku. Hal tersebut masih menjadi perdebatan diantara kesarjanaan Muslim dan non-Muslim. Beberapa riwayat mengatakan bahwa kandungan al-Qur’an pada awalnya sangat ektensif dibandingkan kandungan-kandungan aktualnya dewasa ini. Begitu juga sarjana non-Muslim yang tidak kalah ganasnya dalam menilai adanya ketidak otentikan di dalam al-Qur’an. Mereka semisal Schwally, Silvestre de Sacy, Gustav Weil, maupun Wansbrough dan lain-lain. Hal-hal seperti itu yang tidak sama sekali disinggung oleh Hanafi. Keterangan perdebatan dan polemik mengenai keotentikan al-Qur’an bisa dilihat dalam karya Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), hlm. 248-254.

[69] Lihat QS. Al-Hijr: 9.: yang artinya “ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya,

[70] Dalam sejarah terlintas sebagaimana keterangan Ibn Syihab al-Zuhri (w. 742) yang menyebut 42 ayat yang dinasakh, al-Nahhas (w.949) mengidentifikasi 138 ayat, Ibn Salamah (w. 1020) mengemukakan 238 ayat. Kecenderungan ini terlihat masih tetap bertahan pada beberapa abad berikutnya. Bahkan Ibn al-‘Ata’iqi (w.1308) menyebut 231 ayat yang terhapus. Lihat keterangan ini dalam uraian-uraian Taufik Adnan Amal, op. cit., hlm 83-84.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: