PEMIKIRAN TASAWUF

  1. A.    Realitas Kausalitas

Tuhan dan dunia tidak merupakan dua hakekat yang sesungguhnya terpisah dan yang ada diluar yang lain, melainkan bahwa Tuhan sendiri merupakan segala-galanya, sedangkan segalanya itu modus, partisipasi dalam ketuhanan. Ia tinggal dalam segalanya, segalanya itu bukan Tuhan, melainkan bersifat Ilahi. Dunia terlebur dalam Tuhan, dunia merupakan bagian dari hakekat-Nya [1].

Adanya dunia ini mustahil tanpa adanya penggerak pertama, sebab musabab pertama yang mutlak ada, pengatur tertinggi yang kita namakan Tuhan[2].

Tuhan dalam mengatur memiliki dua macam sifat pengaturan yaitu yang bersifat spiritual (rohaniah) dan material. Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-A’raf ayat 54 :

ااِنَّ رَبَّكُمُ الله ُ الّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَتِ وَاْلاَرْضَ فِي سِتَةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى اْلعَرْشِ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘arsy ……       [3]

Menciptakan dalam ayat di atas menunjuk pada penciptaan alam fisikal, sedangkan potongan kelanjutan ayatnya yaitu :

اَلاَلَهُ اْلخَلْقُ وَاْلاَمْرُ تَبَرَكَ الله ُ رَبُّ اْلعَلَمِيْنَ

Ingatlah menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah Maha Suci. Allah Tuhan semesta alam ……[4]

Memerintahkan dalam potongan ayat ini menunjuk pada dunia spiritual[5].

Aspek pengaturan yang berlaku dalam setiap bagian alam maujud (benda, materi) tidak meragukan bahwa Tuhan alam maujud telah membatasi ilmu-Nya sebelum alam maujud diciptakan secara menyeluruh dan secara terinci. Alam maujud (dunia) berjalan dalam dalam tata aturan dengan tidak tetinggal (terlepas) dan tidak keluar darinya[6].

Dunia terus menerus bergantung pada Tuhan yang tidak berdiri di luar alam ciptaan-Nya, melainkan dalam segala sesuatu yang ada hadir karena daya pemeliharaan-Nya, sehingga Tuhan dan materi abadi bersama, hanya saja Tuhan bersifat tidak berubah, sedangkan materi dapat berubah. Ada dua esensi yang telah ada sejak permulaan, yaitu bahwa pelaku tidak melahirkan materi tetapi hanya menganugerahkan eksistensinya kepada mereka[7]. Oleh sebab itu menurut Ibnu ‘Arabi, bahwa sesungguhnya hanya ada satu zat yang mewujud dalam dirinya sendiri[8]. Tiada yang benar-benar ada kecuali Tuhan. Segala yang selain-Nya adalah noneksisten, baik ia berada di dalam atau di luar diri kita dan segala yang ada di dalam maupun di luar dunia ini. Segala yang disebut realitas tiada lain adalah realitas dan tidak mungkin ada dua realitas yang dapat sepenuhnya independen, sebab hal itu akan berarti bahwa ada dua Tuhan[9].

Abul Hasan Asy’ari berpendapat bahwa eksistensi Tuhan adalah diri (‘ain) dari sebuah kesatuan dan bukan sebagai tambahan dari luar dan eksistensi dari makhluq adalah diri dari esensi itu sendiri[10].

Teori emanasi (madzhab syuhudiyyah) menyatakan bahwa Tuhan hadir dimana-mana. Pengamat memang satu, namun cermin yang memantulkannya amat banyak. Banyaknya pantulan yang dihasilkan tidak mempengaruhi ke-Esa-an dari (sumber cahaya) yang dipantulkan oleh banyak cermin. Ia hadir di dalam pantulan yang ada di setiap cermin[11].

Penciptaan baik dunia maupun maupun bentuk-bentuk terbatas, yang ada di dalamnya merupakan nama lain dari perbuatan-perbuatan Tuhan dan perbuatan-perbuantan-Nya adalah pengejawantahan dari sifat-sifat-Nya[12].

Manusia adalah abstrolabnya© Tuhan. Ditangan seorang astronom astrolab akan sangat bermanfaat karena siapapun yang mengetahui dirinya , dia akan mengetahui Tuhannya. Ketika Tuhan membuat mengetahui dirinya melalui diri orang itu sendiri dia akan mampu menyaksikan pengejawantahan Tuhan dan keindahan sempurna-Nya saat demi saat dan kedip demi kedip[13].

Menyaksikan pengejawantahan Tuhan dan keindahan sempurna-Nya dilakukan dalam kondisi spritual ma’rifat yakni pengetahuan bahwa apapun yang terbayang dalam hati, Tuhan adalah kebalikannya[14] dan sifat dari orang yang mengenal Allah SWT melalui Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya dan berlaku tulus kepada Allah SWT dengan muamalatnya kemudian menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah dan cacat, kemudian menikmati keindahan dekat dengan-Nya, yang mengukuhkan ketulusannya dalam semua keadaannya[15].

Orang yang mengalami penyaksian (syahadah) harus menegasikan dunia dan dirinya sendiri sebagai realitas yang terpisah dan setelah itu meyakini sepenuhnya bahwa keduanya merupakan pengejawantahan wujud Tuhan[16] karena persetujuan dan pertentangan adalah penyebab adanya dualitas. Ketika seseorang mencapai dunia dimana tidak ada tempat untuk dualitas dan yang ada hanyalah persetujuan murni maka dia akan melepaskan kategori persahabatan dan permusuhan[17].

Hal di atas adalah suatu pengalaman mistik yang dialami oleh seseorang yang berjalan untuk mencapai maqam yang tinggi di sisi Allah SWT. Pengalaman mistik adalah pengalaman menyatu dengan Tuhan atau jiwa kosmik[18] dengan hanya membukakan kepadanya dalam jiwa sebagaimana pula dalam alam semesta karena realitas adalah satu, suatu tindakan bergabung dengan cinta sepanjang hal itu dilakukan tanpa pamrih, dan ia bergabung dengan pengetahuan sepanjang ia diiringi dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah agen atau pelaku sejati ; hal yang sama yang berlaku bagi penolakan, vocao deo, yang hanya dapat berasal dari Tuhan dalam pengertian bahwa kekosongan mistik memperpanjang kekosongan prinsip[19].

Kemenyatuan dengan gambaran-Nya adalah sebuah keadaan yang luar biasa, tetapi persatuan dengan yang tercinta diatas segalanya. Penyatuan yang oleh kalangan sufi dikatakan sebagai Al-Jam’u yang bisa diartikan sebagai penyatuan kesaksian yang diperoleh dengan pencarian dalil dengan menggunakan atsar atas pemberi atsar, dengan menggunakan ciptaan atas pencipta. Semua penciptaan merupakan kesaksian, dalil, dan atsar[20].

Keseluruhan masalah penciptaan atau manifestasi universal berakar pada hakekat prinsip Ilahi. Realitas absolut memproyeksikan dunia karena sifat-Nya yang tak terhingga memerlukannya, yang ingin dikenal melalui, dan di dalam pemulaan dari relativitas; mengatakan “ciptaan” Nya, bukan Dia “menciptakan” adalah suatu cara mengekspresikan kemungkinan atau relativitas dunia, dan dalam pengertian tertentu, melepaskannya dari penyebab transenden. Yang Absolut adalah realitas tertinggi dalam dirinya sendiri, seperti titik yang tak memuat apa-apa selain dirinya sendiri, karena ciptan atau manifestasi adalah hakekat Ilahi; Tuhan tidak dapat mencegah Dirinya sendiri untuk memancarkan, dan karena itu, untuk memanifesatasikan Dirinya atau mencipta, karena Dia tidak dapat mengingkari Dirinya yang tak terbatas[21].

Tuhan bagaimanapun juga eksis (ada),dan jika kita menempatkan eksistensi kita dekat pada eksistensi-Nya, kita akan melihat bahwa kita sepenuhnya berasal dari-Nya. Dengan demikian kita tidak memiliki eksistensi, kita hanya menerima pancaran eksistensi-Nya[22].

  1. B.    Tinjauan Mengenai Ruang Dan Waktu

Masa kini merupakan batas antara masa lalu dengan masa mendatang dan ini disebut barzakh. Barzakh masa kini adalah wahdat[23].

Waktu adalah seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang. Waktu adalah batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja[24]. Kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain[25].

Waktu merupakan ungkapan tentang kedekatan satu peristiwa dengan peristiwa lain atau merupakan hubungan antara dua peristiwa. Waktu merupakan wadah pembentukan secara temporal yang di dalamnya ada kejadian.[26]

Esensi waktu (al-waqt) menurut penelaah ahli hakikat adalah suatu peristiwa yang terbayangkan, yang hasilnya dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi. Syekh Abu Ali ad-Daqqaq , “Waktu adalah sesuatu yang anda berada di dalamya. Kalau anda di dunia, maka waktu anda adalah dunia. Bila di akherat, maka waktu anda adalah akherat. Ketika anda senang, maka senang itulah waktu anda. Kalau anda susah, susah itulah waktu anda”[27]. Artinya waktu adalah keadaan yang lebih menguasai manusia, atau waktu adalah apa yang ada diantara dua masa, lampau dan mendatang[28]. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam surat Thaha ayat 40, yaitu :

ثُمَّ جِئْتَ عَلَىَ قَدَرِيَّمُوْسَى

Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa……[29]

Waktu yang sebenarnya menurut para sufi adalah tenggelamnya rupa waktu dalam wujud Allah, jika orang berjalan dengan membawa makna ini, maka dia tenggelam dalam waktunya, maka semua waktunya tidak akan terasa[30]. Sufi menyebut dirinya sendiri sebagai “putra waktu” (ibnu al waqt) yaitu ia ditempatkan dalam kehadiran Tuhan tanpa ada kemarin dan hari esok, dan kehadiran ini tidak lain adalah refleksi dari kesatuan; yang satu memproyeksikan diri ke dalam waktu “sekarang” nya Tuhan, yang berbarengan dengan keabadian[31]. Kekinian (sekarang)nya Ilahi (Tuhan) adalah titik diam yang dalam dirinya sendiri memuat seluruh gerakan keabadian tanpa awal, azal, menuju keabadian tanpa akhir, abad, sebagai yang terbatas; sebab bahkan waktupun akan berakhir, karena segala sesuatu akan musnah dan hanya kekinian Ilahi yang tetap tinggal[32]. Oleh karena itu menurut Al-Junayd, waktu itu sangat mulia. Jika ia telah lewat maka tak akan didapatkan kembali. Waktu adalah diantara apa yang telah berlalu dengan yang bakal datang[33].

Waktu yang dikaitkan dengan cakrawala dunia ciptaan kita adalah tahapan yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari dan dimana kita bertindak, tetapi begitu waktu membawa sang pencari keluar dari dirinya sendiri dia mengalami waktu antusi, waktu ruhaniah, saat ketika pengertian normal tidak mempunyai arti lagi[34].

Orang sufi membagi waktu menjadi empat golongan, yaitu :

  1. Orang-orang yang bersama waktu lampau. Hati mereka senantiasa ada dalam ketetapan Allah, karena mereka menyadari bahwa hukun azaly tidak bisa dirubah oleh usaha hamba.
  2. Orang-orang yang bersama waktu mendatang. Pikiran mereka hanya tertuju kepada kesudahan urusan mereka, karena segala urusan dan amal diukur dari kesudahannya.
  3. Orang-orang yang bersama waktu yang ada. Perhatian mereka hanya tertuju pada waktu yang ada dan hukum-hukumnya, sebagaimana yang mereka katakana, “Orang yang arif ialah yang menjadi anak waktunya, tidak ada waktu lampau dan tidak ada waktu mendatang”.
  4. Orang-orang yang bersama pemilik waktu, penguasa dan yang menanganinya, yaitu Allah, dan mereka tidak peduli terhadap waktu itu sendiri. [35]

Orang cerdas adalah orang yang berada dalam hukum waktunya. Apabila waktunya adalah sadar dalam Ilahi ( ash-shahw ) maka ia tegak mandiri dengan syariat. Apabila waktunya adalah sirna dalam Ilahi, yang kompeten adalah hukum-hukum hakikat[36]

  1. C.    Tinjauan Mengenai Alam Semesta

Dunia diciptakan dengan membungkus gagasan-gagasan Ilahi dengan sosok materi[37]. Kosmos dan kekuatannya merupakan kumpulan hukum alam semesta yang menggambarkan adanya kesatuan dibalik penampilan yang beragam sehingga dapat dipergunakan dengan sebiak-baiknya dalam menyimpulkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur[38].

Alam sebagai keseluruhan, maupun bagian-bagiannya tersusun. Setiap yang tersusun mesti baru, selalu berubah-ubah dari satu form (bentuk, rupa, surah) kepada form yang lain, tidak mungkin mempunyai form yang asli, yang azali, dan qadim. Kalau tidak mempunyai form berarti tidak mempunyai wujud, karena form meliputi bentuk, volume, timbangan, warna, bau, rasa, dan sebagainya, sehingga form kehilangan (tidak mempunyai) wujud, sehingga bentuk tidak pernah memiliki wujudnya sendiri , ia hanyalah penampakan dari makna yang berada dibalik penampakan wujud luarnya[39].

Bentuk adalah penampakan luar, makna adalah hakekat yang tidak terlihat, realitas yang tersembunyi. Makna, hakekatnya hanya Tuhan yang mengetahui. Masing-masing bentuk memiliki maknanya sendiri-sendiri di dalam Tuhan[40].

Bentuk adalah ruang dan makna adalah tanpa ruang. Keduanya merupakan aspek luar dan aspek dalam dari realitas tunggal, masing-masing dari keduanya penting sebagai suatu kesatuan tunggal[41]. Ketika kata “bentuk” diterapkan, ia senantiasa mengindikasikan akan “makna” yang tersirat dalam pikiran yang berada diseberang bentuk dan memberinya wujud[42]. Segala penampakan luar berasal dari keragaman gambaran-gambaran yang tampak. Gambaran yang tercinta adalah realitas yang tercinta itu sendiri yang berada diseberang bayang-bayang-Nya sendiri yang lebih nyata dibandingkan dengan realitas dunia.

Unsur-unsur yang sering menunjuk pada pilar-pilar dunia materi merupakan tujuan-tujuan dasar ontologis yang diberikan pada dunia oleh sifat-sifat ketuhanan dan menggambarkan pengejawantahan dari nama-nama-Nya[43].

Ibnu Al-‘Arabi memetakan dunia ruhaniah dan menggambarkan strata perwujudan Ilahi melalui mana esensi Ilahi yang tidak tertembus mengungkapkan diri-Nya sendiri untuk mengungkapkan konsep ruang waktu yang suci. Wilayah imajinasi (mundus imajinalis) ditempatkan diantara dunia kerajaan langit dan kerajaan manusia dimana ia merupakan suatu gudang kemungkinan yang menunggu realisasi dan dapat dicela oleh ambisi ruhaniah si orang suci[44].

Tatanan Ilahiah sama seperti batas-batas ruang waktu yang tak dapat kita bayangkan mewajibkan kita untuk menerima Yang Tak Terhingga, dan juga fakta bahwa eksistensi terkecil adalah absolut dalam hubungannya dengan ketiadaan, atau fakta bahwa hukum-hukum fisika, matematika, dan logika selalu tetap, pada analisis terakhirnya memberikan kesaksian tentang Tuhan yang absolut dan membuat kita tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya[45].

  1. D.    Hubungan Antara Subjek Dan Objek Dalam Alam Semesta

Kaum sufi menyatakan bahwa nafs adalah keinginan, qalbu dengan mengetahui, jiwa dengan pandangan, pandangan dengan perenungan, dan zat dengan muncul. Zat muncul, maka kita juga muncul dan semua citra berasal dari kemunculan ini. Karena zat merenung maka kita juga merenung (zikir). Zat melihat, maka kita juga melihat (sinar adalah tahap jiwa). Zat mengetahui, maka kita juga mengetahui (tahap qalbu). Zat berkeinginan, maka kita juga berkeinginan (tahap nafs). Pandangan dan pengetahuan bukan merupakan bagian-bagian dari jiwa[46].

Zat memandang diri-Nya di dalam sifat dan ini adalah iluminasi (tajalli). Sifat bagaikan raksa dalam cermin, kemudian mewujud melalui iluminasi, sehingga menimbulkan kegandaan (dualitas) yang mewujudkan dirinya sebagai jiwa. Apabila jiwa melihat dirinya sendiri maka hal tersebut hanyalah mitsal, dan lapisan pada cermin adalah jasad[47].

Setiap orang adalah sebuah miniatur atau mikrokosmos yang merupakan cerminan dari makrokosmos. Suatu kebenaran universal yang dinamakan hukum alam yang didasarkan pada akal manusia yang abadi dan universal. Hukum alam mengatur seluruh manusia, sehingga perbedaan antara ruh dan materi terhapus. Materi adalah kegelapan yang tidak mempunyai keberadaan yang nyata, sementara itu cahaya adalah Tuhan[48].

Kosmos bergantung sepenuhnya pada Tuhan untuk eksistensi dan realitasnya. Setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakan secara berpasangan sebagai dua benda yang dikaitkan satu sama lain atau berlawanan satu sama lain. Tuhan esa dalam esensi dan sifat-sifat. Dia tidak dapat diperbandingkan dengan setiap orang dan terpisah dari segala benda[49], sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dalam surat Asy-Syuura ayat 11 :

فَاطِرُ السَّمَوَتِ وَاْلاَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَجًاوَّمِنَ اْلاَنْعَامِ اَزْوَخًا يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ

(Dia) menciptakan langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat……[50]

Cara langit dan bumi saling berhubungan menggambarkan hukum-hukum yang mengatur hubungan-hubungan dalam segala hal. Ciri yang paling menonjol dari langit dan bumi adalah kenyataan bahwa mereka dan segala sesuatu yang ada diantara mereka merupakan perangkat dan kerajaan Tuhan, yang melakukan kontrol mutlak atas mereka. Langit dan bumi sebagai perwujudan sifat-sifat Ilahi yang saling melengkapi yang tercakup dalam istilah keagungan dan keindahan[51].

Mikrokosmis adalah kejayaan tertinggi dari kosmos, sebab ia mengatur makrokosmos melalui pengetahuan dan kesadarannya[52].

Di dalam kosmos, cahaya dan kegelapan saling membutuhkan dan tidak terpisahkan satu sama lain. Meskipun cahaya secara inheen terwujud dalam dirinya sendiri – dalam Tuhan – ia tidak dapat dilihat dikarenakan itensitas perwujudannya. Ini adalah suatu sifat yang saling melengkapi dan saling membutuhkan[53]. Firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 35 :

اَللهُ نُوْرُ السَّمَوَتِ وَاْلاَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ  اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍ  اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada)langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara ……[54]

Cahaya-Nya hanya terwujud dalam sebuah lubang yang tak tembus yang merupakan kegelapan.

Tuhan dimanifestasikan dalam dunia melalui keajaiban eksistensi, dan jurang antara partikel debu terkecil dan ketiadaan menjadi absolut. Ia memanifestasikan ketakterhinggaan-Nya apriori lewat kosmik yang mengandung ruang waktu yang tidak bisa dibayangkan batas-batasnya lebih dari sekedar multiplisitas dan keragaman dari kandungannya dan Dia memanifestasikan kesempurnaan-Nya melalui sifat-sifat makhluk dan benda yang melahirkan kesaksian akan arketip mereka dan karenanya, Kesempurnaan Ilahi[55].

Ilmu pengetahuan adalah seperti kacamata yang tidak memiliki pengelihatannya sendiri, akan tetapi ada diantara mata dan benda-benda, sehingga pada jalan mistis ini ilmu pengetahuan tidak ada gunanya, hanya cahaya kearifan, cahaya kepastian yang dicapai melalui pengetahuan intuitif yang dapat membantu dalam mendekati rahasia cinta[56].

Keyakinan dan ketenangan adalah tujuan fundamental Islam, karena segala sesuatu dimulai dengan keyakinan, iman kepada Yang Absolut, wujud mutlak, yang memproyeksikan dan menentukan eksistensi yang “mungkin”.

Keyakinan adalah menyelamatkan sepanjang ia mulai secara obyektif dan tulus secara subyektif, yaitu sepanjang obyeknya adalah Yang Absolut dan bukan hanya kontingensi, dan subyeknya adalah hati, bukan hanya pikiran. Ini adalah esensi dasar manusia yang mengandung keseluruhan keberadaan dan aktivitasnya; manusia diciptakan untuk meyakini Yang Absolut dan ia menjadi manusia melalui keyakinannya itu[57].

BAB IV


[1] P.J Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, hlm. 2 – 3

[2] Ibid, hlm. 5

[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Semarang, CV. ALWAAH, 1995, hlm. 230

[4] Ibid

[5] William C Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, Yogyakarta, Qalam, 2002, hlm. 63

[6] Abu Bakar Al-Jazairi, Pemurnian Akidah, Jakarta, Pustaka Amani, 2001, hlm. 558

[7] Khan Shahib Khaja Khan, Tasawuf : Apa Dan Bagaimana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm. 30

[8] Ibid, hlm. 35

[9] William C Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, Yogyakarta, Qalam, 2002, hlm. 272

[10] Loc.Cit, hlm. 39

[11] Ibid Loc.Cit, hlm. 40 – 42

[12] Loc.Cit, Yogyakarta, Qalam, 2002, hlm. 69

© Astrolab adalah alat kuno untuk menggambarkan altitude

[13] Ibid Loc.Cit, hlm. 44

[14] Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000, hlm.166

[15] Imam Al-Qusyairy an-Naisabury, Risalatul Qusyairiyah, Surabaya, Risalah Gusti, 1997, hlm. 390

[16] William C Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, Yogyakarta, Qalam, 2002, hlm. 272

[17] Jalaluddin Rumi, Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya, Bandung, Pustaka Hidayah, 2001, hlm. 280

[18] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, Bandung, Mizan, 1996, hlm. 157

[19] Frithjof Schuon, Prosesi Ritual Menyingkap Tabir Mencari Yang Inti, Jakarta, PT. Raja grafindo Persada, 2002, hlm. 178

[20] Ibnu Qayyim Al-Jauzy, Madarijus Salikin, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1998, hlm. 460

[21] Frithjof Schuon, Prosesi Ritual Menyingkap Tabir Mencari Yang Inti, Jakarta, PT. Raja grafindo Persada, 2002, hlm. 184

[22] Loc.Cit, hlm. 262

[23] Khan Shahib Khaja Khan, Tasawuf : Apa Dan Bagaimana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm. 44

[24] M Quraisy Shihab, Lentera Hati, Bandung, Mizan, 1994, hlm. 112

[25] Ibid, hlm.417

[26] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1998, hlm.390

[27] Imam Qusyairy An-Naisabury, Risalatul Qusyairiyah, Surabaya, Risalah Gusti, 1977, hlm.20

[28] Loc.Cit

[29] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Semarang, CV. ALWAAH, 1995, hlm. 479

[30] Loc.Cit, hlm. 393

[31] Frithjof Schuon, Prosesi Ritual Menyingkap Tabir Mencari Yang Inti, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 181

[32] Annemarie Schimmel, Rahasia Wajah Suci Ilahi, Bandung, Mizan, 1997, hlm. 132 – 133

[33] Abu Nashr As-Sarraj, Al-Luma’, Surabaya, Risalah Gusti, 2002, hlm. 680

[34] Loc.Cit, hlm. 132

[35] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1998, hlm.391 – 392

[36] Imam al-Qusyairy an-naisabury, Risalatul Qusyairiyah, Surabaya, Risalah Gusti, 2001, hlm. 22

[37] Khan Shahib Khaja Khan, Tasawuf : Apa Dan Bagaimana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm. 44

[38] Zaky Mubarok Latif, dkk, Akidah Islam, Yogyakarta, UII Press, 1998, hlm. 96

[39] Syekh Nadim Al-Jisr, Kisah Mencari Tuhan, Jakarta, Bulan Bintang, 1994, hlm. 233

[40] William C Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, Yogyakarta, Qalam, 2002, hlm. 29 – 30

[41] Ibid, hlm. 37

[42] Ibid, hlm. 379

[43] Ibid, hlm. 74 – 75

[44] Annemarie Schimmel, Rahasia Wajah Suci Ilahi, Banduung, Mizan, 1997, hlm. 114

[45] Frithjof Schuon, Prosesi Ritual Menyinkap Tabir Mencari Yang Inti. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 185

[46] Khan Shahib Khaja Khan, Tasawuf : Apa Dan Bagaimana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm. 61

[47] Ibid, hlm. 66 – 67

[48] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, Bandung, Mizan, 1996, hlm. 156 – 157

[49] Sachiko Murata, The Tao of Islam, Bandung, Mizan, 2000, hlm. 166

[50] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Semarang, CV. ALWAAH, 1995, hlm. 784

[51] Loc.Cit, hlm. 173 – 175

[52] Ibid Loc.Cit, hlm. 199

[53] Ibid Loc.Cit, hlm. 216

[54] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Semarang, CV. ALWAAH, 1995, hlm. 550

[55] Frithjof Schuon, Prosesi Ritual Menyingkap Tabir Mencari Yang Inti, Jakarta, PT. Grafindo Persada, 2002, hlm. 188

[56] Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000, hlm.179

[57] Loc.Cit, hlm.190 – 191

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: