URGENSI FISIKA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Tinjauan umum Ajaran Islam

1. Ajaran yang Absolut dan Ajaran yang Relatif

Masih banyak di kalangan umat Islam yang memiliki pandangan yang kurang tepat mengenai ajaran Islam itu sendiri. Sebagian Umat Islam masih berpandangan bahwa semua ajaran agama itu bersifat mutlak dan absolut, tidak berubah dan tidak dapat dirubah. Sehingga akhirnya mereka justru terbelenggu oleh anggapan mereka tersebut, sulit untuk mengikuti perkembangan zaman dan seringkali dihadapkan pada permasalahan hukum yang mereka tak dapat mencari jawabannya pada literatur mereka, karena merupakan permasalahan baru.

Jika demikian adanya tentunya agama Islam tidak dapat dikatakan sebagai pembawa kesejahteraan dunia dan akhirat bagi manusia. Jika pandangan semacam itu dibiarkan berkembang dan mengakar dalam setiap peribadi muslim, tentu umat Islam akan menemui sebuah kebingungan dalam menghadapi kehidupan yang senantiasa berkembang. Bahkan dengan pandangan mereka itu mereka akan melupakan kemukjizatan al-Qur’an yang relevan sepanjang zaman.

Dengan pandangan yang semacam itu, mereka menyulitkan diri mereka sendiri, karena mereka akan menemukan banyak hal yang tidak dapat mereka pecahkan. Padahal semua permasalahan kehidupan harus sesuai dengan ajaran agama yang mereka yakini kebenarannya. Dengan demikian mereka akan menjadi umat yang semakin terbelakang dan terpuruk, tidak hanya dalam masalah teknologi sebagaimana telah dijelaskan, akan tetapi juga dalam memecahkan permasalahan agama mereka sendiri.

Dalam Islam, Al-Qur’an mengandung ajaran-ajaran bukan hanya mengenai hubungan manusia dengan penciptanya tetapi juga hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan hewan dan makhluk tak bernyawa.[1] Dalam hubungan dengan Penciptanya yaitu dengan cara beribadah kepada-Nya, hubungan dengan sesama manusia dengan hubungan sosial sedang untuk hubungan dengan hewan dan makhluk lainya termasuk yang tak bernyawa tentu dengan memanfaatkan dan menjaga kelestariannya tanpa melakukan kerusakan.

Dengan demikian dalam hubungan dengan sesama manusia dan dengan hewan serta makhluk lainnya akan selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan kebudayaan. Dalam hal ini tidak boleh luput dari pantauan agama dan harus tetap berpegang pada agama. Oleh karena itu ajaran agama harus dapat mengakses setiap permasalahan yang muncul seiring dengan perkembangan pola hidup dan pola pikir manusia serta harus dapat memberikan jalan  pemecahan untuk permasalahan tersebut.

Dari permasalahan ini jelas bahwa ajaran agama tidak mutlak seluruhnya bersifat absolut, karena permasalahan kehidupan selalu berkembang dan berubah. Permasalahan yang muncul di zaman sekarang ini sudah jauh berkembang di bandingkan dengan zaman permulaan munculnya Islam dan bahkan sudah berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu.

Pada hakikatnya tidak semua yang terdapat dalam agama bersifat mutlak dan kekal. Menurut Harun Nasution ajaran agama terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam kitab suci yang diwahyukan Tuhan.[2] Ajaran itu bersifat mutlak kekal dan tak boleh dirubah karena merupakan wahyu Tuhan, bukan dari manusia. Yang kedua adalah penafsiran-penafsiran bagaimana pelaksanaan ajaran-ajaran dasar yang diwahyukan tersebut.

Karena ajaran dari kelompok kedua ini adalah hasil pemikiran manusia, bukan wahyu dari Tuhan, ia tidak bersifat absolut dan tidak kekal melainkan bersifat nisbi dan dapat berubah dan diubah menurut perkembangan zaman.[3] Hal ini harus benar-benar menjadi catatan bagi umat Islam dalam melangkah dan memenghadapi permasalahan kehidupan yang harus mereka pecahkan.

Permasalahan yang muncul dalam setiap dasawarsa senantiasa berkembang mengikuti perkembangan pola pikir manusia dan perubahan-perubahan yang terjadi di alam semesta. Untuk memecahkan itu manusia tidak dapat hanya mengandalkan hasil pemikiran ulama terdahulu yang dasar pola pemikirannya juga didasarkan pada permasalahan yang ada pada zaman dimana dia hidup, yang tentunya sangat berbeda dengan zaman sekarang ini.

Kecenderungan keras menganggap hasil ijtihad atau hasil pemikiran ulama bersifat absolut, yang muncul di kalangan umat Islam menyebabkan kaburnya ajaran-ajaran agama. Tidak dapat lagi dibedakan antara ajaran-ajaran yang absolut dengan ajaran agama yang bersifat relatif.

Golongan yang ingin mempertahankan penafsiran-penafsiran lama tanpa mempedulikan perkembangan zaman dan perubahan peradaban dinamakan golongan tradisionalis. Pandangan kaum tradisionalis ini sangat berbeda dengan pandangan golongan modernis atau pembaharu yang mengadakan pemahaman-pemahaman interpretasi baru sesuai dengan tuntutan zaman.

Pandangan kaum tradisionalis tidak dapat diterapkan dalam kehidupan umat Islam dalam setiap kurun waktu. Bagaimanapun juga pandangan tersebut tidak dapat memecahkan permasalahan yang sangat kompleks dan berbeda dengan permasalahan pada masa awal perkembangan Islam yang relatif lebih sederhana.

Dengan pemahaman ajaran secara terbuka terhadap perubahan dan kemajuan zaman, tidak akan terjadi pertentangan yang berkepanjangan antar golongan dalam satu tubuh umat Islam. Umat Islam akan lebih mudah memecahkan masalah-masalah baru yang tak pernah terlepas dari ajaran agama. Dengan demikian tidak ada permasalahan kehidupan yang tidak ada jawabannya dalam Islam.

Umat Islam adalah umat yang besar sepanjang zaman dan ajaran Islam adalah yang paling sesuai untuk kehidupan manusia sampai akhir zaman nanti. Apabila ada anggapan bahwa ada suatu permasalahan yang tidak diatur dalam Islam atau tidak ada pemecahannya dalam Islam, itu merupakan suatu kekliruan besar.

Apabila hal itu dibenarkan dalam artian ada hal-hal yang berada di luar ring agama, pudarlah arti agama bagi manusia. Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah kepada Allah saja akan tetapi juga masalah-masalah mu‘amalah  dan masalah yang berkaitan dengan pemeliharaan alam semesta, sebagai lingkungan hidup manusia.

Dengan demikian semua permasalahan telah tercakup dalam tuntunan Islam, tidak terkecuali hal-hal yang merupakan sesuatu yang baru bagi manusia. Untuk itulah perlu keterbukaan dalam menafsirkan ajaran-ajaran dasar, tidak hanya terpaku pada penafsiran lama. Karena penafsiran tersebut  tentunya disesuaikan dengan kondisi saat itu, yang mungkin sangat bebeda jauh dengan kondisi saat ini.

2.  Manusia dan Tugas-Tugas Kekhalifahannya

Manusia diciptakan dengan dua fungsi, yang keduanya harus dapat terlaksana dengan baik, tanpa ada salah satu yang terlupakan. Fungsi pertama adalah sebagai ‘abdullah (sebagai hamba Allah), dan fungsi yang kedua adalah sebagai Khalifah fi al-ard. Sebagai hamba Allah maka ia harus selalu patuh dan taat atas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan sebagai khalifah, dia harus berusaha untuk mengolah dan membudidayakan bumi ini untuk kesejahteraan umat dan memelihara serta menjaga kelestariannya.

 Allah SWT berfirman:

وهوالذى جعلكم خلآئف الارض (الأنعم:165)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”.[4]

Untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah fi al-ard, maka ia harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan tugasnya itu. Untuk itulah manusia diciptakan dilengkapi dengan akal dan kemampuan untuk berfikir, dengan demikian ia dapat menjadi wakil Allah di muka bumi, dengan bekal akal yang dapat di gunakan untuk mengetahui bentuk dan sifat berbagai ciptaan Allah di muka bumi.

Sebagai seorang hamba, manusia harus melaksanakan tugas penghambaan diri kepada Allah SWT, dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun. Ia harus senantiasa beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan rida Allah. Ia harus selalu menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya, sebagai wujud syukur kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan.

Di dalam Al-Qur’an S. Ad-Dzariat ayat 56 disebutkan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Ku”.[5] Ayat ini menjelaskan mengenai tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT sebagai Khalik. Tujuan tersebut juga mengandung arti bahwa manusia harus senantiasa taat dan patuh kepada segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ini merupakan tugas manusia sebagai seorang hamba.

Kemudian dalam penciptaan manusia sebagai makhluk yang sempurna yaitu dengan dikaruniai akal dan kecerdasan, itu berkaitan dengan fungsi manusia yang kedua yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi berarti sebagai wakil Allah di bumi. Allah yang telah menciptakan bumi dan segala isinya, maka sebagai wakil Allah tugas manuisalah untuk menjaganya.

Sebagai khalifah manusia diperintahkan untuk menjaga kelestarian dan bukan melakukan kerusakan di muka bumi. Pengangkatan manusia sebagai khalifah ini difirmankan Allah dalam al-Qur’an S. Al-Baqarah ayat 30.

واذ قال ربك للملئكة انى جاعل فى الارض خليفة قالوا اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ج   و نحن نسبح بحمدك و نقدسلك قلى قال انى اعلم ما لا تعلمون

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engaku dan mensucikan Engkau?” Tuhaan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[6]

Khalifah dalam ayat di atas dapat di artikan sebagai penguasa, artinya Allah menjadikan manusia sebagai penguasa di bumi. Penguasa dalam hal ini adalah mereka yang berhak memanfaatkan dan membuat tatanan kehidupan di muka bumi dan bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kelestarian alam semesta.

Manusia diciptakan sebagai khalifah adalah sebagai wakil Allah di muka bumi, Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya dan manusia sebagai khalifah bertugas untuk melestarikan dan menjaganya dari kerusakan. Manusia berhak untuk menggali manfaat yang terkandung di alam ini dan menggunakannya untuk kesejahteraan penghuni alam semesta ini.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi berarti memberi peluang kepada manusia untuk dapat mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya. Bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah diberikan berupa alam dan segala isinya ini, yaitu dengan cara memelihara lingkungan hidupnya agar bumi menjadi tempat yang patut, layak dan menyenangkan bagi kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya.

Sebagai seorang khalifah manusia bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan kemaslahatan makhluk-makhluk Allah yang lain di bumi, baik yang bernyawa maupun tidak. Dengan demikian manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai karakteristik alam yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.

Sebagai penguasa yang mewakili Allah di muka bumi, manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam semesta ini. Seorang khalifah haruslah dapat besikap arif dan bijaksana terhadap apa yang menjadi hak dan tanggung jawabnya. Dia tidak boleh berbuat semaunya atau semena-mena terhadap alam semesta ini. Jika dia berbuat semena-mena maka dia termasuk seorang penguasa yang zalim, dan Allah sangat membenci seorang yang berbuat zalim.

Untuk dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan baik, manusia memerlukan ilmu pengetahuan alam untuk memanfaatkan alam dan menjaga kelestarianya. Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang sangat penting untuk dipelajari, karena mengkaji gejala-gejala alam dan karakteristik benda-benda alam.

Penguasaan terhadap Fisika menjadi sangat penting ketika manusia akan menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi. Karena sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa manusialah yang bertanggung jawab atas kemaslahatan dan kelestarian alam ini. Untuk itu manusia harus benar-benar mamahami karakteristik alam yang menjadi tanggung jawabnya itu.

Ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi yang membantu penemuan, perkembangan dan pemeliharaan baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam,[7] merupakan alat bagi manusia untuk melaksanakan tugas kekhalifahannya.

Pengembangan iptek adalah satu contoh dari kesempurnaan makhluk Tuhan yang bernama manusia.[8] Dengan menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya, menyebabkan manusia mampu untuk mengembangkan iptek. Dengan demikian manusia dapat menjalankan fungsi kekhalifahannya di muka bumi secara produktif dan matang.

B. Urgensi Fisika dalam Perspektif Islam, Tinjauan Ayat-ayat Al-Qur’an

1. Fisika dalam Perspektif Islam

Fisika merupakan cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari gejala-gejala alam dan karakteristik benda-benda fisik. Pemahaman terhadap Fisika merupakan salah satu upaya yang wajib  dilaksanakan untuk menanamkan kepercayaan terhadap kekuasaan dan Keagungan Tuhan.

Dengan demikian pemahaman terhadap Fisika dapat menjadi penguat pondasi keimanan umat Islam, karena dengan mengetahui rahasia-rahasia alam, manusia akan semakin mengagungkan Allah yang telah menciptakan semua keajaiban yang ada di alam semesta ini, yang tak ada satupun makhluk yang dapat melakukan hal itu.

Dalam beberapa ayat al-Qur’an Allah SWT senantiasa menegaskan mengenai pentingnya nazar (memperhatikan) untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Demikian pula megenai pentingnya belajar dan mencari ilmu. Dalam ayat yang pertama kali turun telah ditegasakan perintah “membaca” bagi umat manusia, yaitu membaca ayat-ayat Allah, baik yang ada dalam al-Qur’an (firman-firman Allah), maupun yang ada di alam (al-Kaun).

Menurut Al-Qur’an, mempelajari kitab alam akan mengungkapkan rahasia-rahasianya kepada manusia dan menampakkan koherensi (keterpaduan), konsistensi, dan aturan di dalamnya.[9] Ini akan memungkinkan manusia untuk menggunakan ilmu pengetahuannya sebagai alat untuk menggali kekayaan-kekayaan dan sumber-sumber yang tersembunyi di alam dan mencapai kesejahteraan material lewat penemuan-penemuan ilmiahnya.

Allah telah menunjuk manusia sebagai wakil di muka bumi dan diberi-Nya kesempatan-kesempatan yang tidak terbatas untuk menggali mengelola dan memanfaatkan segala isinya. Untuk itu ia  harus mengenal potensi-potensi dirinya, menggunakan kesempatan itu, dan memperoleh kekuatan dan kebijaksanaan yang sesuai dengan peranannya sebagai seorang wakil Allah.

Pendidikan Islam menjadi bidang yang dapat diselenggarakan dengan tujuan pembentukan kepribadian muslim, dan pendidikan yang melingkupi ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai tempat yang strategis dalam pendidikan Islam.[10] Dengan begitu umat Islam akan menjadi umat yang kuat, bukan hanya kuat dalam persaingan dengan umat yang lain dalam iptek, akan tetapi juga kuat dalam hal keimanan terhadap Allah SWT.

Kita lihat misalnya pendidikan modern yang mengarahkan bahwa pendidikan yang dilaksanakan secara berlanjut dan terus menerus. Hal yang demikian telah dicanangkan oleh Rasulullah SAW, dengan sabda beliau;”Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai keliang lahat”.[11] Hadis tersebut memberikan dorongan pada umat Islam untuk tidak pernah berhenti dalam menggali ilmu pengetahuan dan mengembangkan peradaban. Az-Zuhaili mengatakan bahwa jika peradaban itu mengandung banyak manfaat, maka Islam menyeru umatnya untuk mengusungnya sekaligus menggalinya dan melestarikannya.[12] Dalam hal ini ilmu Fisika termasuk didalamnya, karena manfaat fisika sudah tidak dapat diragukan lagi, baik dalam pengembangan teknologi maupun dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Pencipta alam semesta.

Pemahaman Fisika dalam Islam merupakan suatu upaya untuk menjalankan perintah Allah di dalam al-Qur’an untuk melakukan nazar terhadap segala ciptaan Allah yang berada di alam ini baik yang di langit maupun di bumi, yang nantinya akan memberikan implikasi positif, bagi mereka berupa kesadaran akan kebesaran Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

Umat Islam harus menghapus dikotomi terhadap ilmu pengetahuan yang dapat membawa mereka mundur kearah kejahilan, yang akan dapat menyesatkan mereka kembali. Kebutaan terhadap pengetahuan alam merupakan tanda dari ketidaktahuan terhadap tanda-tanda Kebesaran Allah yang ditunjukkan dengan keajaiban ciptaan-Nya.

Fisika akan membawa umat Islam kearah kemajuan dan menambah keyakinan atas Kemahakuasaan Allah. Manusia tidak akan mendapatkan keraguan lagi, karena keyakinan mereka telah dikuatkan dengan bukti konkrit yang sangat banyak yang terdapat di sekitar mereka.

Dalam memahami Fisika ini harus senantiasa berlandaskan pada akidah Islam dan petunjuk Allah di dalam Al-Qur’an maupun melalui petunjuk utusan-Nya. Dengan demikian umat Islam akan dapat menghadapi perubahan dan kemajuan zaman tanpa harus meninggalkan akidah yang menjadi ruh dalam kehidupannya.

2. Urgensi Fisika Untuk Mempertahankan Eksistensi Islam

Telah dijelaskan dalam pembahasan di atas bahwa Fisika merupakan penguat pondasi keimanan, untuk itu Fisika harus mendapatkan perhatian yang cukup besar dalam dunia pendidikan Islam. Untuk membentuk generasi yang bertaqwa, Fisika diperlukan sebagai sarana untuk melihat bukti Keagungan Tuhan.

Penemuan, pembaruan dan pengembangan serta penerapan fungsional sains dan teknologi untuk kepentingan umat manusia dan pelestarian alam diterima sebagai kesadaran dan kemampuan manusia untuk menggunakannya sebagai rahmat, alat dan perlengkapan dalam mencapai suatu kehidupan yang lebih baik di akhirat.[13] Al-Qur’an berlimpah dengan ayat-ayat yang meminta manusia untuk berpikir dan menggunakan akal mereka untuk mengungkap rahasia alam semesta. Dengan cara inilah mereka dapat mempunyai keyakinan teguh terhadap pencipta-Nya.[14]

Umat Islam harus benar-benar memikirkan arti penting Fisika atau sains secara umum, dalam rangka membangkitkan kembali semangat keilmuan kaum muslim setelah sekian lama tenggelam, dan berpindah ke Barat. Untuk dapat merebut kembali kejayaan Islam dalam dunia ilmu pengetahuan, maka penguasaan terhadap Fisika merupakan salah satu hal penting yang harus mendapat perhatian dari umat Islam, jika ingin meraih sukses dalam kebangkitan sains ini.

Umat Islam pada masa sekarang ini harus mau untuk membuka wawasan dan pandangan keilmuan. Mereka harus meminimalisir atau bahkan menghilangkan anggapan bahwa hanya ilmu agama sajalah yang dapat membawa mereka pada keridlaan Allah, karena harus disadari bahwa pemahaman terhadap Fisika merupakan implementasi dari ayat-ayat al-Qur’an, yang memberikan bukti-bukti atau tanda-tanda Kekuasaan Allah.

  Iptek yang dikembangkan oleh manusia berfungsi sebagai alat untuk beribadah dan melakukan penghambaan diri kepada Allah SWT. Dengan iptek yang merupakan produk dari ilmu Fisika manusia dapat memahami karakter alam dan dapat mengelolanya sesuai dengan karakter yang dimilikinya tersebut, sehingga terhindar dari kerusakan. Disamping itu manusia akan mengenal lebih dalam akan Keagungan Tuhan Sang Pencipta.

Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat sekarang ini, umat Islam harus menyadari keadaan bahwa dia akan jauh tertinggal dan bahkan tertindas apabila dia membiarkan teknologi hanya dikuasai oleh umat non-muslim. Dengan kenyataan seperti itu, usaha untuk menguasai Fisika guna mencapai kemajuan umat dalam sains dan teknologi dapat dikatakan sebagai upaya untuk jihad, karena secara langsung ataupun tidak, hal itu merupakan upaya untuk mengantisipasi dan mempertahankan diri dari serangan kaum atau bangsa lain.

BJ Habibi dalam bukunya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pembangunan Bangsa mengatakan bahwa Ilmu pengetahuan dan taknologi memberikan tiga landasan penting di dalam kehidupan masyarakat. Pertama iptek memberikan landasan hidup berupa penyediaan akses dasar bagi para anggota masyarakat kesehatan dan harapan hidup, pendidikan serta lingkungan hidup. Kedua, iptek memungkinkan dikembangkannya sistem informasi dan komunikasi, evaluasi dan analisis yang lengkap, makro dan mikro, dan mencakup seluruh anggota masyarakat, sehingga ia dapat secara merata memberikan informasi di bidang apa  saja yang diperlukan bagi kehidupan dan kebutuhan suatu bangsa. Ketiga, manusia yang sehat, sejahtera, dan yang kaya akan informasi akan dengan cepat dapat memanfaatkan dan mengembangkan semua iptek yang diperlukan untuk memperbaiki nasibnya dan meningkatkan mutu kehidupnya.[15]

Dengan demikian perkembangan iptek dapat secara langsung atau tidak langsung meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi, kesehatan maupum keilmuan. Pengembangan dalam bidang ini akan memberikan peluang bagi manusia untuk meningkatkan kesehatan dan menata kehidupan ekonominya serta memperluas wawasan dengan teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat. Namun demikian menurut BJ Habibie masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan iptek tersebut yaitu;

Ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan bangsa tidak dapat dikuasai dan dikembangkan begitu saja. Untuk menjamin tercapainya hasil, dan daya guna suatu proses pengalihan, penerapan dan pengembangan IPTEK seperti yang diharapkan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Pertama, perlunya penyelenggararaan pendidikan dan latihan di segala bidang iptek yang relevan dengan pembangunan. Kedua, ada konsep yang jelas realistis dan dapat dilaksanakan secara konsekuen tentang masyarakat yang ingin dibangun dimasa depan serta teknologi yang diperlukan untuk mewujudkannya. Ketiga, bahwa teknologi hanya dapat dialihkan, diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut jika ia benar-benar diterapkan secara langsung pada pemecahan masalah kongkrit. Keempat, bangsa yang ingin mengembangkan teknologi harus bertekad untuk berusaha sendiri memecahkan masalah-masalahnya. Terakhir, pada awal tranformasi dirinya menjadi suatu bangsa berteknolgi maju, setiap negara harus memberikan perlindungan terhadap teknologi yang dikembangkannya sebelum siap bersaing secara   internasional.[16]

Prinsip-prinsip tersebut akan memberikan kontribusi besar apabila benar-benar diperhatikan dan diterapkan. Kemudian agar hasil yang diperoleh tidak menimbulkan kerusakan alam atau kecemasan masyarakat karena tangan-tangan yang tidak bertangguang jawab, maka perlu adanya landasan keimanan dalam pengembangan iptek. Ini sangat penting sebagai pegangan bagi para ilmuwan dan teknisi yang akan melaksanakan tugasnya sehingga ia akan secara cermat meminimalisir kemungkinan penyalahgunaan produk iptek yang ia buat.

Fisika sebagai cabang ilmu yang menghasilkan produk berupa kemajuan teknologi, sudah seyogyanya menjadi salah satu kajian umat Islam. Agar umat Islam dapat tetap eksis dalam persaingan di zaman sekarang ini mereka harus mampu menyerap berbagai informasi tentang iptek dan mereka harus mampu berperan aktif dalam pengembangan iptek tersebut.

Penguasan Fisika untuk mempertahankan kejayaan Islam, bukan hanya untuk satu generasi saja, akan tetapi terus barlanjut dari generasi-kegenerasi. Untuk itulah, Fisika harus dijadikan sebagai salah satu materi yang harus disampaikan dalam kegiatan pendidikan Islam. Dengan demikian, maka akan didapatkan generasi yang kuat dan maju dalam hal iptek dan mantap dalam keimanan dan Ketakwaan terhadap Allah SWT.

Ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi yang membentuk kapaistas optimal seseorang sebagai individu yang kompetitif: fii ahsani ‘t-taqwim (pengembangan sumberdaya manusia).[17]

Di era globalisasi sekarang ini, dunia telah dikuasai oleh teknologi yang semakin lama semakin mutakhir. Namun sayangnya penguasaan teknologi saat ini lebih banyak dikuasai oleh orang-orang non-muslim dan umat Islam masih menjadi konsumen hasil-hasil teknologi, dan bahkan beberapa golongan umat Islam justru menganggap kemajuan teknologi sebagai bid‘ah yang buruk dan harus dihindari. Kenyataan seperti ini dapat menghancurkan umat Islam sendiri dan setidaknya tugas-tugas kekhalifahannya di muka bumi terabaikan.

Teknologi mutakhir yang dikuasai oleh orang-orang yang tidak beriman bisa menjadi bumerang, karena teknologi tersebut dapat menjadi sumber bencana dan menimbulkaan kerusakan di muka bumi. Untuk mencegah hal tersebut maka umat Islam harus menguasai teknologi tersebut dan menggunakannya untuk kemaslahatan umat dan kelestarian alam semesta.

Penguasaan teknologi ini harus ditanamkan kapada siswa (generasi muda) selama mereka belajar di sekolah, yaitu dengan memberikan pelajaran Fisika, Kimia, Biologi dan memperkenalkan produk-produk teknologi kepada siswa, sehingga penyalahgunaan  produk teknologi tersebut dapat dihindari.

Memasukkan mata pelajaran eksakta dalam kurikulum pendidikan Islam merupakan langkah yang tepat untuk memberikan bekal kepada siswa dalam meneruskan perjuangan umat Islam terdahulu. Dengan pemberian bekal semacam itu umat Islam telah membuat benteng dalam mempertahankan eksistensi Islam dalam berbagai aspek kehidupan manusia termasuk dalam sains dan teknologi.

   3. Relevansi Fisika dengan Ajaran Islam

Islam mendorong manusia untuk mencari ilmu dan kemajuan dalam penemuan-penemuan, serta menjanjikan ganjaran yang besar, dan upaya-upaya ini dianggap bagian dari pengabdian kepada Allah.[18]

Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam, yang merupakan himpunan dari Firman-firman Allah banyak sekali menyebutkan tentang pentingnya memperhatikan dan memikirkan alam semesta. Di dalam beberapa ayat Allah telah menegaskan kepada manusia untuk melakukan pemeriksaan terhadap ciptaan-ciptaan-Nya.

Pemahaman terhadap Fisika adalah salah satu usaha untuk melaksanakan perintah Allah yang disyari‘atkan di dalam al-Qur’an. Bagaimanapun seseorang tidak boleh lupa bahwa al-Qur’an bukan buku teks sains eksperimental. Jika ia menerangkan beberapa fenomena alam, itu dikarenakan beberapa alasan di bawah ini:

  • Studi fenomena alam dan keajaiban-keajaiban penciptaan akan memperkuat keimanan manusia kepada Tuhan.[19]
  • Dengan keakraban terhadap kesempatan-kesempatan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dia lebih dapat mengenal Allah dan dengan mendapatkan manfaat-manfaat darinya, dia dapat bersyukur kepada-Nya.[20]

Dari dua alasan tersebut dapat dipahami bahwasanya Fisika merupakan salah satu jalan bagi manusia untuk menjadi umat yang bertaqwa kepada Allah. Di samping itu Fisika menghindarkan generasi umat Islam dari kebiasaan taklid buta (mengikuti sesuatu tanpa tahu alasannya). Mereka akan memeluk Islam dan berpegang teguh pada keimanan tersebut bukan sebagai agama turun-temurun akan tetapi karena mereka benar-benar menyadari akan kebenaran ajaran-ajarannya, yang telah mereka buktikan sendiri dari pemahaman terhadap alam semesta.

 Kita melihat bahwa pencarian para ilmuwan muslim terhadap fenomena alam disebabkan oleh fakta bahwa mereka menganggap masalah studi ini merupakan salah satu cara terbaik untuk mendekati Allah. Mereka yakin bahwa dengan mempelajari tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya di alam semesta, seseorang akan dapat menyingkap kesaling hubungan seluruh bagian alam semesta dan kesatuan yang tersembunyi di belakang dunia yang penuh keragaman ini, yang pada gilirannya akan membimbing kepada Sang Pencipta.

Sekarang segala sesuatu berputar di sekitar poros sains dan teknologi. Oleh karenanya, agar menjadi merdeka dan mandiri, kebijaksanaan Islam harus meliputi seluruh kemampuan keilmuan dan teknologi  yang penting bagi kemandirian dan kemenangannya.[21]

Pergulatan Islam adalah pergulatan sistem nilai sosial yang ada. Islam diharapkan dapat berperan sebagai pengendali sistem dan sekaligus pengontrol prilaku sistem itu. Umat Islam bukan hanya harus cermat mengawasi prilaku sistem, melainkan juga harus mampu dan cakap untuk terlibat di dalamnya. [22]

Ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi yang melengkapi orang perorang untuk melaksanakan ibadah ritual kepada Tuhan (sebagai pertanggungjawaban pribadi).[23] Penguasaan Fisika diperlukan bukan hanya untuk menghasilkan produk berupa teknologi, akan tetapi juga sangat diperlukan untuk kepentingan ibadah, dan menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Untuk melaksanakan perintah Islam untuk naik haji, menguasai dan mengambil isi bumi untuk kesejahteraan umat manusia, untuk menentukan saat dimulainya puasa Ramadhan dan mengakhirinya (idul Fitri) dan sebagainya hanya akan sempurna apabila ditopang oleh iptek, baik dari tingkat rendah maupun tingkat tinggi (HiTech).[24]

Penerapan Fisika dalam menunjang kegiatan ibadah wajib umat Islam antara lain sebagai berikut:

  1. Penentuan awal dan akhir waktu shalat.

Shalat merupakan kewajiban bagi setiap individu yang menyatakan dirinya sebagai ummat Islam, sehari semalam lima kali. Shalat merupakan salah satu rukun yang harus dan wajib dilaksanakan bagi setiap pemeluk agama Islam.

Adapun dalam pelaksanaan shalat ini, orang harus memenuhi syarat dan rukun shalat, apabila ada salah satu dari syarat sah atau rukun shalat yang tidak terpenuhi maka shalatnya akan rusak atau tidak sah. Apabila shalat seseorang tidak sah, maka itu berarti bahwa orang tersebut tercatat belum melaksanakan shalat.

Syarat sah shalat telah diatur dalam fikih;

–          Suci badannya dari najis dan hadas

–          Menutup aurat dengan kain yang suci

–          Berada di tempat yang suci

–          Telah masuk waktunya

–          Menghadap Kiblat.[25]

Salah satu syarat sah shalat adalah telah masuk waktu shalat, artinya pelaksanaan shalat ini harus benar-benar pada waktunya, dan tidak sah shalat seseorang apabila belum masuk waktu shalat.

Allah SWT berfirman:

إن الصلوة كانت علىالمؤمنين كتابا موقوتا (النساء:103)

Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”[26](Qs, an-Nisa’ 103).

Dengan demikian untuk melaksanakan kewajiban umat Islam tersebut, seorang muslim harus tahu jatuhnya waktu shalat. Untuk itulah diperlukan suatu ilmu yang dapat digunakan untuk mengetahui jatuhnya awal waktu shalat, agar dalam pelaksanaan kewajiban shalat bagi setiap muslim tidak ada kekeliruan atau kekurangan dalam pemenuhan syarat sahnya yang dapat mempengaruhi kesahan shalatnya.

Dalam hal ini Fisika memegang peranan yang sangat penting, karena penentuan awal waktu shalat dapat dilakukan dengan menggunakan ilmu Fisika. Permasalahan penentuan awal waktu shalat ini dapat dipecahkan dengan materi Fisika, pokok bahasan energi matahari.

   Penentuan awal waktu shalat dalam perspektif ilmu fisika terkait  dengan kedudukan matahari yang diukur dengan sudut datang sinar matahari (angle of incidence)dengan perumusan sebagai berikut:

                    –

diamana;

 = Lintang (atitude) yaitu lokasi sudut setelah utara atau selatan ekuator. Sebelah utara positif, sebelah selatan negatif.

  = Deklinasi; yaitu sudut antara sinar matahari yang sampai bumi dengan bidang ekuator.[27]  Bidang ekuator adalah bidang (datar) yang melalui pusat bumi dan tegak lurus pada porosnya.[28]

 = Sudut datang sinar matahari (angle of  incidence), yaitu sudut antara sinar matahari dengan normal bidang kolektor.[29]  adalah sudut jam (hour Angle), yaitu pergeseran sudut matahari sebelah barat atau timur meridian setempat oleh perputaran bumi sekeliling sumbunya. Pagi negatif, sore positif.[30]

Sudut deklinasi δ dicari dari persamaan Cooper;

δ = 23,45o Sin [360o ], nilai n di cari dengan table.

AST = 12.00 + jam

MST =AST- E; MST adalah Mean Sun Time

E= 9,87 Sin 2B-7,53 Cos B –1,5 Sin B

B =  ; 1≤n≤365 atau 1≤n≤366 (kabisat)

E = persamaan waktu dalam menit

LST =WIB = MST- (ψs-ψ) 4 menit, LST menunjukkan waktu shalat.

Untuk daerah Yogya; ψs= 105  ψ= 110,35 dan = -7,8 Ls

Dengan demikian jelaslah behwa fisika merupakan jalan pemecahan bagi permasalahan penentuan awal waktu shalat yang menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Di sini dapat dibuat jadwal waktu shalat untuk tiap-tiap daerah sesuai dengan posisi daerah tersebut, sehingga umat Islam dapat melaksanakan shalat dengan tenang dan tepat waktu.

  1. Penentuan awal Ramadlan dan 1 Syawal

Rukun Islam yang keempat adalah puasa. Puasa ini wajib dilakasanakan oleh setiap umat Islam yang telah memenuhi syarat, sebagai mana telah dinashkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya;

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu termasuk orang-orang yang bertaqwa”.[31]

Penetapan awal bulan Ramadlan sangat berpengaruh untuk memulai ibadah puasa Ramadlan itu sendiri. Oleh karena itu orang sangat berhati-hati untuk menetapkan awalnya dan tidak mustahil akan terjadi perbedaan pendapat.[32]

Tahun Hijriyah adalah perhitungan yang dipakai oleh umat Islam sedunia yang berdasarkan kepada peredaran dan kedudukan Bulan sekitar bumi dan di sekeliling matahari.[33] Umat Islam diwajibkan berpuasa pada saat pertama kali meliahat bulan pada awal bulan Ramadlan, dan kemudian menyudahi berpuasa pada saat melihat bulan muda pada penghujung Ramadlan (melihat hilal) yang berarti telah masuk bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda:

صوموا لرؤيته وأفطروالرؤيته  فإن  غم عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين (رواه البخارىومسلم)

Puasalah kamu dengan melihat bulan dan berbukalah kamu dengan melihat bulan, jika atas kamu udara kelam (mendung), maka cukupkanlah bilangan-bilangan (bulan) Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).[34]

Dalam sahih Bukhari juga dijelaskan mengenai awal dan akhir bulan Ramadlan;

عن عبدالله ان رسول الله ص م قال: ذكر رمضان فقال لاتصوموا حتى ترواالهلال ولاتفطروا حتى تروه فإن غمرعليكم فقدروا له

Artinya: Dari Abdullah ra. Berkata; sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut bulan Ramadlan lalu beliau bersabda: “janganlah kamu berpuasa hingga kamu melihat hilal, dam jangan lah kamu berbuka (berhari raya) sehingga kamu melihatnya, dan jika tertutup atasmu adakanlah perhitungannya”.[35] (HR Buchari)

Kedua hadis tersebut memberikan penjelasan mengenai waktu pelaksanaan puasa di bulan Ramadlan, dimana waktu untuk memulai berpuasa ditentukan saat hilal terlihat kemudian untuk menyudahi berpuasa dan berhari raya juga dengan melihat hilal (bulan sabit).  Untuk memberikan kemudahan bagi umat Islam terutama mereka yang awam tentang hal ini, maka Islam memiliki kalender sendiri yaitu kalender Hijriyah.

Kalender hijriyah adalah sistem kalender Qamariyah (Bulan). Kalender Hijriyah menggunakan siklus visibilitas hilal, bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang.[36] Rata-rata siklus visibilitas hilal dapat didekati dengan siklus sinodik bulan.[37] Dalam hal ini nampak jelas peranan penting Fisika, karena Fisika membahas siklus peredaran bulan, yang merupakan bagian dari pokok bahasan tata surya.

3. Ibadah Haji

Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan wajib untuk melaksanakannya satu kali dalam seumur hidup. Adapun pelaksanaan ibadah haji ini hanya dapat dilakukan di Baitullah yaitu di Mekkah, Arab Saudi. Ibadah Haji diwajibkan bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana.

Bagi penduduk muslim di luar Arab Saudi, perjalanan ke Baitullah adalah sesuatu yang cukup sulit karena perjalanan yang harus dilakukan sangat jauh, apalagi jika harus dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan kuda. Di samping perjalanan akan memakan waktu yang sangat lama juga banyak mengandung bahaya.

Penerapan Fisika dalam teknologi memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk menunaikan Ibadah haji yaitu dengan diciptakannya pesawat terbang sebagai sarana transportasi, sebagai alat yang dapat digunakan untuk melakukan perjalanan ke Baitullah dengan lebih cepat dan lebih aman.

Teknologi pembuatan kapal terbang ini merupakan penerapan dari efek bernoulli yaitu hubungan antara tekanan dengan kecepatan pada fluida yang mengalir secara tunak, kecepatan fluida akan berkurang bila tekanan fluida bertambah. Dalam pembuatan  pesawat prinsip ini dipakai untuk menghitung besarnya daya angkat pesawat terbang.

Hukum bernoulli secara matematis dinyatakan dengan:

p + ½ ρ V2 + Δp = konstan[38]

Δp = beda tekanan yang disebabkan oleh aliran

P = tekanan Fluida

V = kecepatan Fluida

ρ = massa jenis fluida

Karena begitu lekatnya keterlibatan teknologi dalam kehidupaan kita sehari-hari, maka teknologi dapat berfungsi ganda. Selain membantu untuk kebutuhan dasar, teknologi sesungguhnya bisa kian menyadarkan kita tentang kebesaran Allah, Sang Maha Pencipta.[39] Kemajuan teknologi dapat mempertebal iman dan takwa kita, asal saja kita berangkat dari asumsi dasar bahwa teknologi adalah bagian dari nikmat Allah bagi manusia.

Dari uraian di atas nampak jelas bahwa Fisika merupakan ilmu yang sangat urgen dan memiliki peranan yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan umat Islam, baik dalam hubungannya dengan Penciptanya maupun dengan sesama makhluk. Dengan demikian pendidikan Fisika sebagai upaya untuk pengalihan kemampuan kepada generasi penerus juga merupakan kegiatan yang sangat urgen berdasarkan perintah di dalam al-Qur’an dan kebutuhan umat Islam sendiri atas ilmu fisika tersebut.

 C. Urgensi Fisika dalam Tinjauan Ayat-Ayat Al-Qur’an

Al-Qur’an telah banyak memberi gambaran dan contoh mengenai sumber-sumber yang dapat digali dalam upaaya penguasaan Fisika. Di dalam al-Qur’an banyak sekali disebutkan mengenai arti pentingnya memikirkan gejala-gejala yang terjadi di alam ciptaan Allah ini sebagai cara untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.

Dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an berulang kali disebutkan bahwa hanya orang yang mau memikirkan dan memperhatikan mengenai alam Ciptaan Allah-lah yang akan dapat melihat tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran Allah. Hal itu seharusnya membuka pandangan umat Islam mengenai apa saja yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, sehingga umat Islam tidak akan terjerumus dalam kejumudan.

Pemahaman terhadap al-Qur’an bukan hanya sekedar mambaca secara lafziyah, akan tetapi harus benar-benar dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan, sehingga keajaiban dan keutamaan al-Qur’an dapat benar-benar dirasakan dan membawa umat Islam ke arah kemajuan dan kemaslahatan.

Al-Qur’an telah memberikan contoh kepada manusia mengenai penguasaan Fisika, yaitu dengan beberapa ayat yang menyebutkan gejala- gejala alam disertai dengan penjelasan mengenai beberapa manfaat yang akan dapat diambil oleh manusia dari gejala-gejala tersebut. Contohnya adalah mengenai peredaran matahari dan bulan sebagai patokan untuk perhitungan waktu.

وسخر الشمس والقمر كل يجري لاجل مسمى (الرعد:2)

Menurut Al-Maraghi tafsir dari ayat ini adalah; Dia menundukkan matahari dan bulan, serta menjadikan keduanya taat pada kehendak-Nya untuk memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. Masing-masing dari keduanya berjalan pada orbitnya untuk waktu tertentu.[40] Peredaran dari keduanya tidak pernah menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, sehingga manusia dapat menggunakannya sebagai patokan dalam membuat perhitungan waktu.

هوالذى جعل الشمس ضيآء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عددالسنين والحساب, ما خلق الله ذلك الابا لحق, يفصل الايات لقوم يعلمون

 (يونس:5)

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya; dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu  mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak meniptakan yang demikian itu melainkan dengan hak; Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang  mengetahui.[41](QS. Yunus:5)

Kemudian dalam Surat Al-Anbiya ayat 30. Allah memberi pengetahuan kepada manusia tentang asal mula jagad raya;

أولم ير الذ ين كفروا ان السموات والارض كانتا رتقا ففتقناهما, وجعلنا من الماء كل شئ حي,افلايؤمنون (الانبياء:30)

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?[42](QS. Al-Anbiya’:30)

Surat al-Anbiya’ tersebut merupakan salah satu petunjuk Allah berkaitan dengan ilmu Fisika untuk dikembangkan manusia. Ayat tersebut memberikan gambaran kepada manusia bahwa langit dan bumi dunia ini dahulu adalah satu kemudian terpisah terbentuklah bumi dan langit sebagai tempat hidup manusia. Didalam Fisika hal itu dikenal teori big bang sebagai asal mula terjadinya kehidupan di muka bumi.

Dari petunjuk al-Qur’an ini kemudian manusia harus berusaha mengembangkannya menjadi ilmu yang mudah dipahami dan dibuktikan dengan eksperimen. Penelitian terhadap alam untuk melihat realita alam yang digambarkan di dalam al-Qur’an ini sangat penting, karena hal itu untuk menfungsikan akal dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Gambaran dalam Al-Qur’an tersebut hanya merupakan gambaran umum sebuah pengetahuan dan untuk mengetahui secara lebih detail manusia harus mengadakan survai di lapangan dengan melakukan eksperimen. Dari sinilah kemudian muncul ilmu Fisika sebagai hasil kolaborasi antara petunjuk al-Qur’an dan kecerdasan akal manusia.

Jika manusia tidak mau memperhatikan dan melakukan penelitian yang untuk kemudian disampaikan kepada para generasi berikutnya, maka manusia dapat terjebak oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan dan membekukan pola pikir, yaitu mitos-mitos tentang kejadian-kejadian alam.

Hal tersebut telah terjadi pada zaman peradaban yunani kuno. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganggu mereka tentang kejadian-kejadian alam ini, namun mereka tidak menemukan jawaban akhirnya mereka mengambil kesimpulan-kesimpulan berdasarkan takhayul, seperti jika gunung meletus itu karena penguasa gunung marah, dan lain sebagainya. Mitos-mitos tersebut bukan lah jawaban yang ilmiah atas sebuah pertanyaan, dan hal itu dapat menyesatkan manusia dimana manusia sering mengadakan sesaji-sesaji di gunung, bukit dan pohon besar agar penghuninya tidak marah. Padahal semua itu merupakan perbuatan yang di kutuk, karena termasuk syirik.

Contoh tersebut telah menunjukkan akan arti sebuah ilmu pengetahuan tentang gejala-gejala alam (Fisika), karena hal itu berkaitan dengan pondasi keimanan yang kuat dan untuk menjaga generasi (keturunan), diperlukan pendidikan tentang ilmu tersebut.

Di dalam al-Qur’an telah disebutkan dalam surat al-Ra‘du ayat 1-4 telah menggambarkan hal tersebut, dijelaskan di dalam tafsir al-Maraghi tentang pengertian ayat-ayat tersebut. Dalam ayat-ayat ini, Dia mengetengahkan beberapa dalil atas tauhid dan tempat kembalinya makhluk. Maka, dengan mengemukakan tentang keadaan langit, keadaan matahari dan bulan serta keadaan bumi dangan gunung-gunung, sungai-sungai, bunga, buah kurma, anggur, berbagai buah-buahan, dan bermacam-macam hasil buahnya, Allah membuktikan adanya Tuhan yang Maha Kuasa lagi Perkasa, Berkuasa untuk menciptakan dan mengatur segala urusan, untuk mendatangkan kemudaratan dan manfaat, untuk menghidupkan dan mematikan, serta untuk melakukan segala hal.[43] Dengan demikian jelas bahwa bukti kekuasaan Allah ditunjukkan dengan berbagai gejala alam yang dapat diamati oleh manusia.


[1] Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1995), Cet ke-3, Hal.289

[2] Ibid, hal. 291

[3] Ibid, hal.292

[4] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.286

[5] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.1058

[6] Ibid., hal.11

[7] Abdul Majid (dkk), Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunah Tentang Iptek,(Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal.79

[8] M, Daud Ibrahim, Teknologi Emansipasi dan transendensi,(Bandung: Mizan, 1994), hlm.34

[9] Mahdi Ghulsyani, Filsafa-Sains menurut Al-Qur’an, (Bandung:Mizan,1990), hal. 54

[10] D. Qonita, Peranan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Pembentukan Mental Kaum Muslim,(Skripsi, fak Tarbiyah IAIN SUKA, 1995), hal.70

[11] Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarata, Al-Islam dan Iptek, (Jakarta:Raja Grafindo persada,1998), hal.224

[12] Wahbah az-Zuhaili, Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman (Jakarta : Muttaqim, 2002), hal.135

[13] Abdul Majid dkk, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek, jilid.2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal.85

[14] Ahmad Muhammad Sulaiman, Tuhan dan Sains, (Jakarta: Serambi Ilmu semesta,2001), hal.30

[15] BJ Habibi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi & pembangunan Bangsa,(Jakarta: CIDES, 1995), hal 18

[16] Ibid., hal 22

[17] Abdul Majid dkk, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek, jilid.2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal.79

[18] Abdul Majid (dkk), Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek, Jilid.2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal.72

[19] Mahdi Ghulsyani, Filsafat-sains menurut Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1990), hal. 66

 

[20] Mahdi Ghulsyani, Filsafat-sains menurut Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1990), hal. 66

[21] Mahdi Ghulsyani, Filsafat-sains menurut Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1990), hal.70

[22] Sukanto MM, Al-Qur’aan Sumber Inspirasi, (Surabaya:Risalah Gusti, 1994), hal.15

[23] Abdul Majid (dkk), Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek, Jilid.2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal.79

[24] Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarata, Al-Islam dan Iptek, (Jakarta:Raja Grafindo persada,1998), hal.64

[25] M.Rifa’i (dkk), Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar, (Semarang: Toha Putra, 1978), hlm.59

[26] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.176

[27] Rini Sulistyawati, penentuan awal waktu Sahalat Mnurut Departeman Agama RI dalam Perspektif Ilmu Fisika,Skripsi tidak diterbitkan, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2003, hal.18

[28] Ibid., hal 10

[29] Ibid., hal 19

[30] Ibid., hal.20

[31] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.53

[32] M. Noor Matdawam, Ibadah Puasa dan Amalan-amalan Bulan Ramadlan,(Yogyakarta: Yayasan Bina Karier,1989), hlm.15

[33] Tim Penulis, Tahun Baru Hijriah, (Yogyakarta: lembaga pembinaan keagamaan UII,1979), hlm.2

[34] M. Noor Matdawam, Ibadah Puasa dan Amalan-amalan Bulan Ramadlan,(Yogyakarta: Yayasan Bina Karier,1989), hlm.15

[35] Zainuddin Hamidy, Terjemah Hadis Sahih Bukhari, (Jakarta;Wijaya, 1961), hal.260

[36] Moedji Raharto, Sistem Penanggalan Syamsiah/Masehi, (Bandung: ITB,2001), hal.48

[37] Ibid., hal.49

[38] Taswa dan Abu Ahmadi, Kamus Lengkap Fisika, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal.32

[39] M. Daud Ibrahim, Teknologi Emansipasi dan Transendensi, (Bandung: Mizan, 1994),hlm.35

[40] Ahmad Mustafa Al-Maraghi,  Terjemah Tafsir Al-Maraghi, jilid 13, (Semarang: Toha Putra, 1993), Cet. Ke-2, hal. 114

[41] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.396

[42] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.627

[43]Ahmad Mustafa Al-Maraghi,  Terjemah Tafsir Al-Maraghi, jilid 13, (Semarang: Toha Putra, 1993) Cet.ke.2, hal.112

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: