Karya Santri Khozinatul Ulum Blora

Lima Pandangan Hati yang Bernilai Ibadah

Hidup di dunia penuh dengan warna warni, ada yang putih ada pula yang hitam, ada yang baik ada yang jahat, ada senyuman ada tangisan, ada bahadia ada pula kesedihan, semua silih berganti dan datang bertubi-tubi.

Kita sebagai manusia selayaknya berfikir atas fenomena yang terjadi di alam raya ini, yang  pasti, semua itu mempunyai rahasia tersembunyi, tinggal bagaimana kita menyikapi dan memasang kepekaan.

Dalam islam ada macam-macam ibadah, ada ibadah yang sifatnya menggunakan semua anggota tubuh, ada juga yang hanya menggunakan sebagian anggota tubuh semata seperti hanya ucapan atau berfikir (bertadabbur).

Adapun dalam kesempatan kali ini, kami akan memaparkan tentang ibadah yang menggunakan sebagian anggota badan saja, yaitu dengan sistem melihat dengan disertai berfikir. Seperti sabda nabi Muhammad saw”

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خمس من العبادة  النظر إلى المصحف والنظر إلى الكعبة والنظر إلى الوالدين والنظر في زمزم (وهي تحط الخطايا والنظر في وجه العالم” (رواه  الديلمي)

Artinya:

Rasulullah saw bersabda, ada lima perkara yang dinilai ibadah yaitu melihat  mushaf (yang disertai angan-angan atau berfikir),  melihat ka’bah, melihat kedua orang tua, melihat zam-zam (sumurnya atau airnya) dan zam-zam tersebut bisa menghapus dosa  dan melihat wajahnya seorang alim atau kiai (seseorang yang mengamalkan ilmunya) HR. al-dailami.

 

Sebelum kita masuk kedalam inti hadits ini, perlu kiranya kita mengetahui makna dari kata “an-nadhar (النظر) dalam hadits tersebut, dalam kitab al-furûq al-Lughawiyyah dinyatakan bahwa lafadz ini mempunyai arti mencari pengetahuan dari sisi ia melihat dan dari sisi yang ia lihat. Bisa dikatakan kata “nadhara” mempunyai makna tidak hanya sekedar melihat tapi juga sampai batas menganalis, maka batasan yang ada dalam kalimat “nadhara” adalah menemukan sesuatu (mencari sebuah pengetahuan) dengan melihat, berangan-angan atau dengan berfikir, sehingga dari angan-angan ini mampu menemukan makna atau arti yang dimaksudkan.

 

Maka dari itu makna dari “nadhara” adalah menganalisis sebuah objek hingga muncul sebuah pengertian dari objek kajian tersebut.

 

Dari hadits diatas, bisa kita simpulkan bahwa ada lima perkara yang bernilai ibadah hanya dengan cara melihatnya memakai sisi hati atau jiwa, adapun lima perkara tersebut adalah:

  1. Melihat mushaf

Melihat mushaf merupakan perihal utama yang dijadikan sebagai perilaku ibadah, sebenarnya, kalau kita telisik, bahwa melihat disini bukan hanya sekedar melihat, tapi juga membacanya hingga kita mengetahui isi kandungan yang ada di dalam al-Quran dan mampu mengaplikasikannya. Sehingga dari sini, tambah rasa iman kita kepada allah swt, bahwa begitu besar ciptaan allah swt di muka bumi ini. Dilain sisi, bahwa melihat al-Qur’an yang disertai dengan analisis  dan memahami isi kandungannya mampu menjadikan manusia lebih bijak dan kaya dengan pengetahuan. Karena dalam al-Qur’an mempunyai gudang keilmuan yang bermacam-macam.

  1. Melihat ka’bah

Melihat ka’bah juga masuk dalam kategori perilaku ibadah yang dicatat oleh Allah swt, melihat disini juga bukan hanya sekedar melihat, akan tetapi juga ikut menganalisa ka’bah itu sendiri, karena dengan wujud segi empat itu, orang islam seantero jagad raya menghadap kepadanya untuk menunaikan kewajiban yang diberikan kepada mereka. Bila ditelisik fenomena ini merupakan keagungan Allah swt yang menjadi bukti bahwa islam itu dituntut untuk bersatu padu.

  1. Melihat kedua orang tua

Melihat orang tua juga merupakan perilaku yang dicatat sebagai ibadah, melihat kedua orang tua diharapkan muncul sebuah penghormatan atau penghargaan yang kita berikan kepada mereka atas perjuangan mereka mendidik dan membesarkan kita. Dan dengan semua ini muncul sebuah harapan bisa birrul walidain kepada mereka. Selain itu kita juga dituntut untuk menyayangi orang tua, karena ditangan mereka-lah ridho tuhan diberikan kepada kita dan ditangan merekalah kemarahan Allah swt kepada kita. Maka dari itu, sebisa mungkin kita selalu bersilaturohim kepada kedua orang tua sebagai bentuk perilaku untuk menciptakan kebaikan kepada mereka.

  1. Melihat zam- zam, baik sumurnya ataupun airnya

Melihat zam-zam juga termasuk ibadah (dan juga bisa menghapus dosa-dosa kecil), melihat disini juga tidak hanya sekedar melihat akan tetapi, kita juga dituntut untuk tadabbur atau menganalisis, bahwa air zam-zam merupakan anugerah allah swt. Yang manfaat air zam-zam tersebut bisa menyembuhkan segala penyakit. Seperti kata nabi “bahwa minum zam-zam tergantung niat si peminum, kalau niatnyau untuk mengenyangkan, maka bisa kenyang, kalau niatnya untuk penyakit maka bisa menjadi obat. Maka dari itu, jika ada seseorang menganalisis fenomena ini, niscaya keimanan orang tersebut akan meningkat dan kepercayaan atas ajaran nabi akan terbukti.

  1. Melihat wajah seorang alim

Yang terakhir adalah melihat wajah seorang alim yang mana orang ini mengamalkan ilmu yang ia punya. Disini, bisa dikatakan dengan adanya kita melihat diharapkan menghormatinya, karena menghormati seorang ulama, bisa jadi juga menghormati para nabi, karena ulama adalah pewaris atau penerus nabi.  Maka dengan melihat wajah seorang alim dengan niat mendekatkan diri kepada allah swt atas mahluknya yang berilmu, maka dinilai sebuah ibadah.

Lima perkara ini merupakan anjuran nabi Muhammad kepada umatnya supaya melaksanakannya, karena lima hal ini merupakan ibadah seorang hamba dan semuanya mempunyai tujuan positif dalam keberlangsungan kehidupan. Seperti yang diungkap imam Ghazali bahwa berfikir sejenak bisa lebih bagus dari pada ibadah setahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang berfikir, sehingga kita mampu menguak rahasia dibalik perintah dan larangan Allah swt. Wallahu a’lam bisshowab.

 By: H. A.M. Nur Ihsan Shaleh MA

Perempuan dan pendidikan

Manusia terlahir dalam keadaan tak mengenal suatu apa, hanya tangis ungkapan pertamanya meskipun disambut sukacita orang-di sekelilingnya. Oleh karena itu Adakah yang lebih penting dari pendidikan ketika semua belum dimengerti?

Setelah pendidikan itu ada, apakah hanya diperuntukkan bagi kaum yang bernama laki-laki? Jawabnya hanya tidak. Karena dalam literatur dari agama apapun tidak akan pernah ditemukan pembelajaran hanya untuk kaum laki-laki, tapi untuk semua umat manusia termasuk perempuan.

Bagaimana dengan pendidikan perempuan di Indonesia, yang mana kewajibannyahanya disimbolkan sebagai pelayan suami, simbol reproduksi belaka pekerjaan domestik masih tetap menjadi, yang dalam budaya jawa disebut sebagai “ tiang wingking”? Disinilah titik dimana perjuangan RA Kartini memang benar-benar ada. Surat Kartini kepada para sahabatnya, secara gamblang mendeskripsikan keprihatinannya terhadap nasib perempuan di sekitarnya dalam ruang feodalisme. Perempuan tidak memiliki hak untuk mengenyam pendidikan. Perempuan dilarang untuk sekolah.

Kartini sejak awal memang konsisten berpendirian bahwa pendidikan adalah jalan membebaskan perempuan dari keterpurukan. Kartini punya mimpi yang tinggi, beliau ingin keadaan perempuan Indonesia di masa depan lebih baik. Tak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi semua masyarakat. Karena pendidikan adalah alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakt, dan membuat generasi mampu berbuat banyak bagi kepentingan mereka. (Drs. Hery Noer Aly)

perempuan adalah kunci penting pembangunan peradaban. Karena dari tangan perempuan akan terlahir generasi penerus bangsa. Ia adalah sosok yang akan menjadi teladan pertama dari kelahiran seorang anak. Untuk itu ia perlu dibekali dengan pendidikan yang cukup. Karena seorang wanita berpendidikan dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi keluarga, masyarakat, agama, bahkan kepada bangsa.

Kemajuan wanita adalah sebagai ukuran kemajuan suatu negeri. Kaum ibu yang dapat menggoyangkan buaian dengan tangan kirinya, dapat pula menggoyangkan dunia dengan tangan kanannya.” ( Napoleon Bonaparte )

Saat ini memang sudah tidak terasa lagi diskriminasi perempuan. Cita-cita RA kartini kini sudah relatif terwujud. Perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan tanpa batas.Tetapi apakah problematikanya telah selesai? kenyataannya Dalam masyarakat yang kurang mampu, laki-laki umumnya memperoleh kesempatan yang lebih ketimbang perempuan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. kesempatan perempuan memperoleh pendidikan yang layak masih sangat minim. Selain itu sarana kesehatan bagi perempuan juga masih belum optimal. Salah siapakah semua ini?

Hal ini adalah cerminan bahwa perjuangan RA Kartini belum selesai, semangat juangnya untuk menjadi lebih baik harus diteruskan oleh perempuan-perempuan masa kini. Bukan hanya untuk menyuarakan dan menuntut kesetaraan, tapi juga dengan bukti nyata bahwa perempuan juga mampu berkiprah.

By : Afifatul Musyafa’ah

PENYESALAN DIATAS KESEDIAHAN

Bumi terus berputar, hari terus berganti semakin bertambah umurku. Teringat aku pada masa kecil ketika aku ditimang-timang oleh orang tuaku. Dahulu aku tak merasakan pahitnya hidup, sekarang aku telah beranjak dewasa mencoba untuk mendewasakan diri. Ternyata hidup itu tak seperti yang ku bayangkan. Sedikit demi sedikit aku mengupas arti hidup sebenarnya. Semua penyesalan ada di diriku yang selalu menyusahkan kedua orang tuaku.

Dahulu tak pernah aku merasakan kemarahan orang tuaku, ternyata semua itu bukan yang terbaik untukku, sekarang aku telah terjebak akan indahnya cinta dan ternyata cinta itu membutakan mata hatiku. Betapa lalainya diriku yang tak pernah mendengarkan perkataan kedua orang tuaku. Penyesalanku semakin terujung saat aku jatuh sakit. Saat ini, aku belum bias terbuka dengan orang tuaku. Kadang aku hanya bercerita kepada teman dan kakakku. Hari semakin berlalu, dengan ikatan kasih sayang lama-kelamaan orang tuaku mengerti akan keadaan ku. Dan dihari itu pula aku mencoba bercerita pada orang tuaku. Suatu kata pun terlontar dari lisan orang tuaku “mengapa, kau tak pernah mendengarkan perkataanku ?”. aku sudah bilang, janganlah melakukan yang aneh-aneh. Terdiam aku mendengar kata-kata dari orang tuaku, lalu aku sadar dan menuruti kata-kata orang tuaku. Tetapi di mata-teman-temanku, yang aku lakukan salah. Aku hanya bisa bersabar dan bersabar. Mungkin ini hanyalah cobaan untuk diriku. Ya Allah… semoga ini menjadi pelajaran bagi hidupku

By; Fieza

SENJA TAK BERUJUNG

Malam tak kunjung turun, membiarkan anak-anak manusia lebih lama bersuka cita. tak terlintas sedikitpun dibenak mereka, bahwa nafas mereka adalah nafas terakhir pemberian tuhan. Mereka lupa, namun disebuah bilik bambu, seorang anak tengah menikmati buka yang sederhana.

“lagi ya, kam..” tawar nenek

“sudah nek, terima kasih”

Setelah shalt maghrib di mushala, hakam menghampirii neneknya dan duduk ta’dzim di depan nenek.

“nek, kenapa ayah, Ibu dan Kakek pergi meninggalkan kita, aku rindu mereka nek” kata-kata polos dari cucunya membuat air mata sang nenek jatuhdi pipinya yang keriput.

                                                Senja itu, empat orang dewasa dan satu anak kecil tengah bersuka ria di baranda rumah, mensyukuri nikmat Allah yang tak tertandingi, hingga hujan mulai turun rintik-rintik, menyirami bumi yang panas menjadi sejuk. Telepon rumah bordering, seorang wanita yang lebih muda mengangkat telepon, beberapa saat kemudian telepon itu jatuh dari genggaman, semua orang berlarian ke dalam. Bertanya ada apa ? dijawab dengan lelehan air mata dan kabar duka kematian keluarga. Seketika itu, mobil meluncur dari rumah itu, menuju tanah perkuburan saudara di kota sebelah, tak dihirau hujan yang begitu deras. Di rumah itu kini hanya dihuni dua orang. Seorang nenek dan cucunya berdo’a untuk mayit dan keluarga yang hidup. Saat malam berikutnya tiba lagi, mobil beserta penumpangnya masih belum sampai dirumah. Nenek semakin cemas, ditambah tangisan cucunya yang tak kunjung berhenti, setelah hampir tengah malam terdengarlah kabar, mobil terperosok ke jurang dan semua penumpang tak terselamatkan. Maut menyisakan kesedihan.

Waktu yang sama, hampir tengah malam, para tetangga mulai berdatanganmenghibur hakam yang teresedu di samping sebujur tubuh kaku.

“senja… inilah aku anak manusia, dua tahun yang lalu, kau adalah waktu dimana aku tersenyum bersama keluargaku. Kini izinkanlah aku memuji tuhanku di waktumu, tuhan telah pertemukan aku dengan keluargaku.

By; Felix Aisa

The King’s Son

Hisyam menghentikan motornya, dia dan temannya turun. Berjalan kearah pantai, sempat berhenti untuk mengurangi kantongnya lewat bapak tua yang sedang meminta-minta. “Ada apa hisyam ?” temannya bertanya “Aku akan pergi lama fix, aku titip motorku dan juga ini” hisyam mengeluarkan dompet, hp dan juga kartu kredit, ATM dan cincin kecil. “Banyak sekali, bagaimana dengan kehidupanmu ?” “aku akan baik-baik saja, terimakasih” Hisyam mulai berjalan di sepanjang pantai, menjauh “bagaimana dengan orang tuamu, mereka tahu ?” Hisyam mengangguk dan terus berjalan

Ainul membuja took sangat pagi, bersama Zain. Sebenarnya pegainya tiga, tetapi seperti biasa tom selalu telat. “Kau pernah melihat anak juga istri raja kita, nul ?” Tanya Zain memandang foto raja “tidak, kenapa ?” ainul senyum-senyum “aku sangat ingin bertemu mereka, pasti mereka sebaik raja kita ” tom dating tergopoh-gopoh. “buruk, sangat buruk” “ada apa, tom ?” Tanya zain ” putri pemilik took ini meninggal terbunuh ”  ainul terduduk lemas, bertarjih dan beristighfar.

 “tak mungkin pemuda miskin ini membayarnya. Anakku sudah dibunuhnya, bunuh saja dia” saat palu yang berada di tangan tuan Hakim diketukkan, disitulah nasib ainun ditentukan. “Maafkan aku ainun, Sabrina adalah keponakanku. Aku tidak menuduhmu, tapi bukti mengarah padamu. “setelah berbicara secara pribadi, tuan Hakim keluar. Ainul di bawa keruang eksekusi. Dia pasrah. Hanya Allah yang tahu, bukan dia pembunuhnya.

“apa permintaan terakhirmu ? “

“Aku ingin meminta maaf pada orang tuaku”

Semua orang tercengang, saat kedua orangtua ainul datang. Tak pernah mereka bayangkan, yang mereka kenal adalah ainul si yatim piatu. Seorang perempuan cantik berjilbab menghampiri ” Hisyam…kembalilah pada ayah bundamu. Kini petualnganmu telah usai” sang bunda memeluknya. “Ainul..” teriak Zain ” Zain, kini yang kau harapkan terkabul. Kau ingin bertemu kami kan” Zain dan Hizyam berangkulan “Kau bukan ainul, kau Hisyam”. Di belakang Hisyam, raja Maulan (ayahnya) tersenyum. Dari samping kiri Nafix juga merangkul Hisyam, hati Hisyam semakin bahagia “aku akan pulang Fix” mereka berlima berjalan beriringan dikawal tentara-tentara. Kini ditiang eksekusi, berdirilah Tom, tersangka sebenarnya. Karena Sabrina memilih ainul, bukan dirinya. Semua orang meminta maaf pada raja atas kelancangan mereka.

Haul Bukan Sekedar Peringatan

Islam adalah agama kaya akan tradisi. Khususnya di Nusantara, seakan tiada bulan tanpa tradisi peringatan. Lebih-lebih bila datang bulan Muharram seperti ini, serentak tanpa komando umat Islam seluruh Nusantara menyambut bulan tersebut dengan aneka kegiatan yang berbau relegius, salah satunya adalah peringatan se-tahun terhadap orang yang telah lebih dahulu meninggalkan kita semua.

Dan peringatan tersebut biasanya lebih awam dikenal oleh masyarakat dengan sebutan haul, bila dilihat dari mata sejarah, sebenarnya tak bisa dilepaskan begitu saja dari warisan nenek moyang bangsa ini yaitu tradisi Hindu dan Budha. Kenapa bisa begitu? Sebagaimana yang kita tahu dengan cara bagaimana wali songo menyebarkan Islam, yang jelas mereka menyebarkannya tanpa ada unsur membuang jauh tradisi lama pribumi yang terkenal akan upacara, atau bahasa sederhananya peringatan baik itu peringatan terhadap orang sudah meninggal maupun lainnya. Lebih-lebih terhadap orang yang sudah meninggal, misal peringatan dengan istilah mitoni yaitu peringatan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang meninggal setelah tujuh hari dari kematian dan banyak lainnya.

Padahal, kita tahu di dalam Islam tidak terdapat istilah yang jelas anjuran untuk melakunan ritual seperti halnya mitoni (tujuh hari), matang puluhi (empat puluh hari), nyatusi (seratus hari), nyewuni (seribu hari) atau yang lebih marak dalam bulan ini yakni ngekholi (satu tahun), yang selama ini umat Islam Nusantara menjalankannya. Mungkin dari sinilah istilah itu mulai dipertanyakan, apakah itu berasal dari ajaran Islam atau hanya budaya warisan dari nenek moyang? Kalau kita melihat pernyataan sejarah di atas, membuktikan bahwa istilah itu muncul dari kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang dan pada akhirnya menjadi tradisi yang dilestarikan. Akan tetapi pertanyaanya, apakah wali songo tidak mengetahui kalau di dalam ajaran Islam tidak terdapat anjuran jelas terkait ritual tersebut? Mungkin bisa ia ataupun tidak. Untuk itu marilah kita menengok sebuah kebiaasan yang dilakukan oleh umat Islam Nusantara, lebih-lebih yang berada di Jawa mereka sering kali berduyun-duyun datang ke sebuah makam, biasanya makam yang didatangi adalah makam para wali, kiai, atau tokoh kharismatik. Maksud dan tujuan kedatanganya pun bervariasi. Ada yang betul-betul tulus untuk sekedar ziarah, hingga sampai pada tujuan menyekutukan Allah. Semua itu berjalan sudah bertahun-tahun hingga menjadi sebuah keharusan, kalau tidak seperti itu kayaknya hidup di Jawa ini tidak lengkap.

Dengan melihat fenomena tersebut dalam beberapa versi sejarah penyebaran Islam di Jawa oleh wali songo yang pernah dibaca, penulis memiliki anggapan mereka memaknai dan menjadikan fenomena di atas sebagai sebuah kebiasaan yang seharusnya dilestarikan dengan bingkai tanpa ada penyekutuan terhadap Allah yaitu melalui memberikan bacaan tahlil, yasin, dan lainnya dalam ritual tersebut.

Di satu sisi, kebiasan tersebut sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat. Sebagai bukti masih teringat jelas dalam ingatan penulis saat menjelang lengsernya orde baru, bangsa ini dilanda dengan berbagai gejolak kemasyarakatan akibat krisis di bidang perekonomian yang memberhentikan pasar modal. Mungkin bagi masyarakat desa, krisis tersebut tak begitu dihiraukan bahkan sampai dipikirkan, terbukti mereka tetap saja melangsungkan peringatan mitoni, matang puluhi, nyatusi, nyewuni hingga pada peringatan ngekholi.

Padahal, kita tahu di dalam peringatan tersebut tak luput dari memberikan makanan, minuman, maupun berkat (bahasa jawa), meskipun itu tidak dianjurkan namun pada gilirannya pemberian tersebut dimaknai sebagai sedekah. Kondisi inilah yang terjadi meski krisis berlangsung sampai setelah lengser orde baru, mereka tetap saja menjalankan ritual tersebut tanpa meninggalkan kebiasaan memberikan makanan, minuman dan berkat seperti jauh sebelum krisis terjadi.

Lalu, apakah masih perlu membahas peringatan tersebut sebagai anjuran Islam atau kebiasaan warisan dari nenek moyang, apalagi menanyakan apakah walisongo tidak mengetahui bahwa peringatan tersebut tak terdapat anjuran yang jelas dalam ajaran Islam? Mungkin menurut hemat penulis asumsi di atas sudah mewakili untuk menjawab pertanyaan yang telah terlontar. Bagaimana mungkin Islam Nusantara dikatakan kaya akan tradisi peringatan? Sebab sedikit-sedikit umat Islam selalu punya agenda peringatan mulai dari peringatan kelahiran Nabi hingga peringatan kematian para wali, kiai ataupun tokoh kharismatik lainnya.

Bila semua itu ditelusuri, pada dasarnya tanpa peduli apakah itu sebagai anjuran Islam, tradisi warisan nenek moyang, atau sebagai bukti penghormatan terhadap jasa mereka, walhasil muaranya berpangkal pada maksud dan tujuan diadakan peringatan itu semuanya. Marilah kita ambil salah satu contoh tradisi yang baru berlangsung sekitar satu minggu yang lalu dengan sebutan peringatan haul si mbah Sunan Pojok misalnya.

Peringatan tersebut dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk mendoakan dengan memintakan ampun kepada Allah swt. agar orang yang meninggal (yang dihauli) dijauhkan dari segala siksa serta dimasukkan ke dalam surga. Untuk bersedekah dari ahli keluarganya atau orang yang membuat acara, orang yang membantu atau orang yang ikut berpartisipasi dengan diniatkan amal dan pahalanya untuk dirinya sendiri dan juga dimohonkan kepada Allah agar disampaikan kepada orang yang dihauli, untuk mengambil teladan dengan kematian seseorang bahwasanya kita semua pada akhirnya juga akan mati, sehingga hal itu akan menimbulkan efek positif pada diri kita untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. untuk meneladani kebaikan dari orang yang dihauli, dengan harapan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk memohon keberkahan hidup kepada Allah melalui wasilah (media) yang telah diberikan kepada para ulama, sholihin atau waliyullah yang dihauli selama masa hidupnya dan kita tahu bahwa si mbah Sunan Pojok merupakan salah satu wali Allah swt. Yang perlu diteladani perilaku dan perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam.

Dari penjelasan di atas, tidak tersirat sedikit pun tujuan haul yang mengarah pada kemeriahan dan penyekutuan sebagaimana halnya di atas. Haul adalah doa dan sedekah. Haul merupakan media untuk mengambil teladan dan meneladani, serta memohon keberkahan. Lalu, bagaimana tradisi haul ini membumi hingga lestari sampai saat ini? Untuk itu alangkah indahnya kita menelusuri lebih jauh dari manakah kata haul itu muncul. Dari beberapa keterangan, kata haul ini awalnya muncul dari dunia pesantren yang pada perkembanganya menjadi memasyarakat sebab haul selalu di isi dengan berbagai agenda salah satunya adalah pengajian umum yang mendatangkan mubaligh. Dari sinilah haul mulai dikenal masyarakat, apalagi yang didatangkan itu sudah terkenal dan dalam ceramahnya terdapat sedikit guyonan. Meski tanpa peduli apakah nanti berdampak positif atau tidak yang penting lucu dan ramai mereka pasti datang berduyun-duyun dan akhirnya tanpa kita mengenalkan apakah tujuan dan maksud haul itu dengan sendirinya kata haul membumi dan lestari hingga detik ini.

Pada perkembangannya, kata “haul” kemudian seringkali dimaknai sebagai kegiatan ritual keagamaan tahunan untuk memperingati hari meninggalnya orang yang dicintai atau orang yang diagungkan dan itu merupakan kebiasaan pesantren pada umumnya untuk mengenang jasa dan meneladani seorang kiai atau gurunya. Dari sinilah yang awalnya haul diadakan untuk mengenang dan meneladani seorang kiai oleh santri pondok pesantren, berkembang dengan beberapa agenda kegiatan dari ziarah  ke makam, tahlilan, hataman dan ditutup dengan pengajian umum. Kini menjadi sebuah tradisi memasyarakat yang seakan tak bisa dilepaskan dari mereka.

Dalam benak penulis timbul pertanyaan, mengapa harus ada haul? Bukankah haul sebetulnya hanyalah sebuah peringatan yang tak harus dilakukan?. Ya, memang betul haul adalah sebuah peringatan saja. Akan tetapi bila dilihat tujuan dan maksud dari haul tersebut pada intinya adalah untuk meneladani kebaikan seorang tokoh. Jadi alangkah indahnya haul itu diadakan asal tidak keluar dari tujuan dan maksud semula.

Nah, kalau mengenai mengapa harus orang yang meninggal? Sebetulnya bila dihadapkan pada asal-muasal kata haul tidak harus diperuntukkan khusus bagi orang yang meninggal. Sebab, pada intinya haul tak jauh berbeda dengan peringatan. Kita tahu, peringatan bisa diperuntukkan untuk siapa saja tak pandang itu mati atau hidup, baik atau buruk. Misalnya peringatan setahun dari kelahiran yang lebih dikenal dengan sebutan ulang tahun, jadi apabila ada yang memiliki sekedar wacana atau pemahaman bahwa haul terhadap orang korupsi, itu ada benarnya juga.

Akan tetapi,  meneladani itu biasanya identik dengan mencontoh perilaku baik. Untuk itu yang perlu diketahui adalah sejauh mana kita meneladani seorang tokoh yang kita hauli dengan bukti. Bukan hanya berhenti saat berlangsungnya haul saja, melainkan sesudah dan seterusnya.

Oleh : Ahmad Mundir

(Mahasiswa STAI Khozinatul ‘Ulum Semester VII)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: