Artikel

LAHIRNYA SANG PENCERAH DUNIA

Oleh; H. Abdul Mufid Ihsan. Lc,MSI

“Seandainya tidak ada kamu, seandainya tidak ada kamu wahai Muhammad, tentu alam tidak diciptakan.” (Hadits Qudsi)

 

Sungguh pengakuan yang tidak basa-basi dari Khaliq kepada makhluk pilihan-Nya. Seorang Muhammad yang sejak kecil sudah tidak memiliki kedua orang tua. Seorang Nabi sekaligus rasul terakhir yang diutus Allah sebagai rahmatan lil alamin. Seorang manusia yang semasa hidupnya tidak pernah berlumur dosa. Semua orang di muka bumi menyanjungnya, tidak hanya dari pengikutnya saja melainkan juga dari kalangan non muslim, bahkan para orientalis sekalipun mengakui kehebatan beliau.

Ada sedikit perbedaan antara merayakan kelahiran Nabi dengan kelahiran risalah Islam. Selama ini yang dirayakan masih berkutat pada kelahiran beliau. Disana-sini para kyai, para dai, dan para muballigh masih terkungkum dan belum bisa menyentuh masalah perayaan lahirnya risalah kenabian Muhammad. Sebab hari lahir beliau pada intinya tidak ada perubahan. Quraisy masih dalam kejahiliyahan dan segalanya masih dalam kegelapan. Namun hari itu adalah hari awal tonggak sejarah bagi sang pengemban risalah Islam yang amat agung.

Merayakan kelahiran risalah Islam bukan berarti merayakannya dengan pesta pora dan makan-makan. Sebab hal itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Yang lebih harus diperhatikan adalah bagaimana kita lebih mengenal Rasulullah, sirahnya, dan tentu saja sunnahnya. Paling tidak ada 10 point yang menunjukkan keistimewaan Rasulullah dibandingkan dengan Nabi dan Rasul terdahulu.

Pertama, Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat.

Berbeda dengan para Nabi sebelumnya yang diutus untuk kaum-kaum tertentu saja. Seperti Nabi Musa dan Isa hanya diutus pada Bani Israil. Di dalam Taurat dan Injil dijelaskan bahwa kedua Nabi tersebut hanya diperuntukkan untuk kaum Israil saja. Sedangkan al-Qur`an sendiri menjelaskan bahwa Rasulullah saw adalah untuk segala umat.

Kedua, Nabi Muhammad adalah penutup semua Nabi dan Rasul sebelumnya.

Dalam Taurat disebutkan bahwa akan ada Nabi setelah Musa. Dalam injil disebutkan bahwa akan ada Nabi setelah Isa yaitu Ahmad. Dalam al-Qur`an disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup semua Nabi dan Rasul. Dan dalam catatan sejarah telah dibuktikan tidak ada Nabi atau Rasul yang memiliki kitab dan ajaran seperti beliau atau Nabi sebelumnya, kecuali segelintir orang yang mengaku dan nampak jelas kebohongannya, seperti Ahmadiyah (Mirza Ghulam Ahmad), Lia Eiden, Musadek, Musailamah al-Kadzab dan lain-lain.

Ketiga, mukjizat Rasulullah kekal hingga hari kiamat.

Sementara itu mukjizat dan tanda kenabian Nabi maupun Rasul sebelumnya hanya muncul pada saat kejadian. Seperti Nabi Isa yang menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, Nabi Musa dengan tongkatnya, dan lain-lain. bahkan kalau tidak karena diceritakan dalam al- Qur`an, kita tidak akan mengenalnya dan mengetahui semua itu. Karena al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal. Ia menceritakan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi.

Keempat, kitab-kitab suci samawi lainnya tidak bisa dihafal, sementara al-Qur`an sangat mudah dihafal.

Kalau tidak percaya, coba ditantang para rahib dan pendeta apakah ada di antara mereka yang hafal Taurat dan Injil? Sementara itu al-Qur`an sangat mudah dihafal dari usia kecil bahkan dari orang yang tidak mengerti bahasa Arab sekalipun. Banyaknya lomba tahfidz al-Qur`an di seluruh negara membuktkan hal itu.

Kelima, dijaga sunnahnya.

Sebagai implikasi terjaganya al-Qur`an, Allah juga menjaga sunnahnya agar tidak hilang. Maka dengan mudah kita menemukan hadits, perbuatan dan sirah Nabi dalam kitab-kitab hadits dan sirah tanpa ada perubahan dan perselisihan kecuali hal-hal yang bisa dimaklumi. Kaum muslimin mempunyai panutan dalam berkeluarga, berusaha, bersikap, dan berdagang, bahkan berperang dengan sangat jelas dari beliau.

Keenam, Nabi Muhammad diberi para sahabat yang setia dan taat.

Lihat saja pembangkangan yang dilakukan para sahabat Musa terhadap Nabi Musa. Lihat pula pembangkangan Hawariyyin yang hanya berjumlah 12 orang terhadap Nabi Isa. Kemudian bandingkan dengan kesetiaan para sahabat Nabi Muhammad, bahkan hingga mengorbankan harta dan nyawa. Tidak hanya itu, para sahabat itulah yang meneruskan risalah beliau. Mereka membuka pintu dunia dengan Islam dan lain-lain.

Ketujuh, dijaga oleh Allah sendiri sejak kecil.

Ibunda Muhammad kecil meninggal sewaktu beliau masih kecil. Bahkan ayahnya meninggal terlebih dahulu sebelum beliau lahir. Tidak berselang lama sang kakek juga meninggal dunia. Abu Thalib tidak lama mengasuhkan. Allah sendiri yang mengasuh beliau.

Kedelapan, Allah meberinya sifat ummi (tdak bisa membaca maupun menulis).

Hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan pendapat orang-orang yang mengatakan al- Qur`an adalah produk Muhammad dan berbagai cerita yang ada di dalamnya adalah bacaan dari kitab-kitab sebelumnya atau dari kitab filsafat Yunani. Dengan ummi-nya, beliau membantah semua hal itu.

Kesembilan, dijaga oleh Allah agar umatnya tidak musnah sampai hari kiamat.

Meski dalam catatan sejarah, kaum muslimin telah dibantai dalam perang Salib, dibunuh habis-habisan di Baghdad, dibunuh secara massal di Andalusia, dan sekarang di Checya, Irak, Afganistan, namun umat Islam akan selalu ada dan bertambah banyak. Bahkan dari negara Amerika dan Eropa sendiri.

Kesepuluh, pejuang-pejuang risalah akan selalu muncul.

Meski banyak orang yang murtad, meski banyak yang berpikiran kiri dan menyeleweng, meski banyak yang sesat, namun selalu saja ada ulama dan pejuang-pejuang yang membawa risalah yang benar ini ke penjuru dunia.

Pandangan Non Muslim Terhadap Diri Muhammad

Mahatma Gandhi (komentar mengenai karakter Muhammad di Young India): “Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia? Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad, serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.”

Sir George Bernard Shaw (The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936): “Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa – beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut. Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ‘sang penyelamat kemanusiaan’. Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian rupa hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia. Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini. Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang. Dia adalah Muhammad. Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63 tahun. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini dan bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas dua dekade.”

Michael H. Hart (The 100: A Ranking Of The Most Influental Persons In History, New York, 1978): “Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses, baik dalam tataran sekular maupun agama.”

Prof. Snouck Hurgronje: “Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa. Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan; menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan. Ia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.”

Dan masih banyak lagi komentar dari orang-orang non muslim. Jika demikian pengakuan orang-orang non muslim, maka wajib bagi kita, tidak boleh tidak, untuk mengamalkan semua sunnah beliau dengan semampu kita. Janganlah kita bermalas-malasan aktif kuliah hanya gara-gara ada pekerjaan di rumah, atau bahkan karena malas. Ingat, kita semua adalah pejuang Islam. Pejuang Islam sejati tidak ada kata malas dalam hatinya. Wallahu yahdi ila thariqim mustaqim. Amin.

Madrasah Diniyyah sebagai

“The Centre of Islamic Civilization“

Oleh : Khoirul Anwar

Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah (Diniyyah), Pondok Pesantren dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khazanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan Madrasah Diniyyah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air, hingga hari ini Madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar seperti Indonesia ini, Madrasah Diniyyah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Seperti yang kita ketahui bersama, sebelum tahun 1970 di Indonesia terdapat lembaga pendidikan Islam yang bernama Madrasah Diniyyah. Lembaga pendidikan jenis ini mungkin lebih tepat disebut sebagai pendidikan non formal. Biasanya jam pelajaran mengambil waktu sore hari, mulai waktu ashar sampai waktu maghrib. Atau, memulai ba’da Isya’ hingga sekitar jam sembilan malam.

Madrasah Diniyyah sendiri adalah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran secara klasikal yang bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan agama Islam kepada pelajar-pelajar yang merasa kurang menerima pelajaran agama Islam di sekolahannya.

Seiring perubahan zaman, Madrasah Diniyyah yang dulunya hanya sebagai pendidikan non formal yang di asuh oleh para Kyai dan tokoh masyarakat di desa, kini menjadi pendidikan yang formal. Dengan perubahan tersebut berubah pula status kelembagaannya, yang dulunya dari jalur luar sekolah yang dikelola penuh oleh masyarakat menjadi sekolah di bawah pembinaan Departemen Agama.

Madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam seharusnya menjadi sentral khazanah pendidikan Islam. Membangun dan memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataannya pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini. Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa ayam mati kelaparan di lumbung padi. Artinya, pada kenyataannya pendidikan Islam (Madrasah Diniyyah) tidak mendapat kesempatan yang luas dan seimbang dengan umatnya yang besar di seantero nusantara ini.

Sebagai lembaga pendidikan Diniyyah, seharusnya Madrasah menjadi tumpuan utama dalam proses peningkatan kualitas keislaman masyarakat. Dalam kata lain, maju atau mundurnya kualitas keberagamaan umat Islam itu sangat tergantung kepada Madarsah Diniyyah dan Pesantren. Oleh karena itu, Madrasah Diniyyah ala Pesantren yang telah ada sejak  walisongo menyebarkan Islam di Indonesia menjadi garda depan dalam proses islamisasi di Nusantara.

Keberadaan peraturan perunda-ngan tersebut seolah menjadi ”tongkat penopang” bagi Madrasah Diniyyah yang sedang mengalami krisis identitas. Karena selama ini, penyelenggaraan Pendidikan Diniyyah ini tidak banyak diketahui bagaimana pola pengelolaannya. Tapi karakteristiknya yang khas menjadikan pendidikan ini layak untuk dimunculkan dan dipertahankan eksistensinya.

Sebagai lembaga pendidikan diniyyah, maka Madrasah  Diniyyah menjadi tumpuan utama dalam proses peningkatan kualitas keislaman masyarakat. Dalam kata lain, maju atau mundurnya ilmu keagamaan waktu itu sangat tergantung kepada pesantren-pesantren yang di dalamnya terdapat Madrasah Diniyyah. Makanya pesantren menjadi garda depan dalam proses islamisasi di Nusantara. Di masa awal proses islamisasi, maka pesantrenlah yang mencetak agen penyebar Islam di Nusantara. Santri-santri Sunan Giri menyebar sampai di Ternate, Lombok dan kepulauan sekitarnya. Oleh karena itu, nama Sunan Giri begitu populer di masyarakat kepulauan Halmahera sebagai penyebar Islam yang trans-kewilayahan.
Proses Islamisasi melalui pesantrenpun juga terus berlangsung hingga sekarang. Agen-agen yang dihasilkan pesantren pada gilirannya menjadi penyebar Islam yang paling atraktif. Melalui ilmu keislaman yang dimilikinya melalui Madrasah Diniyyah ala Pesantren mereka siap menjadi penyangga Islam yang sangat kuat. Jauh sebelum dunia pesantren mengenal sistem kelembagaan pendidikan nasional yang ternyata awalnya diperkenalkan oleh pemerintah kolonial melalui sekolah-sekolah umum yang didirikannya di berbagai wilayah Nusantara.

Sistem pendidikan klasik model Madrasah (Diniyyah) yang terdapat dalam pesantren-pesantren menjadi lembaga dengan sistem pendidikannya yang khas dapat menghasilkan ahli-ahli agama yang sangat ulet. Melalui sistem wetonan, bandongan, sorogan yang khas pesantren, maka dapat dihasilkan lulusan-lulusan Madrasah Diniyyah yang mandiri dan berkemampuan menjadi agen penyebar Islam yang sangat baik. Mereka inilah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung penyebar Islam di Indonesia.

Perubahan pun tidak bisa ditolak. Oleh karena itu terjadi perubahan di dunia pendidikan Islam, yang dalam khazanah akademis disebut dari Pesantren, Madrasah ke Sekolah. Meskipun demikian, tetap ada yang khas di dalam dunia pesantren meskipun secara struktural Pesantren telah mengadopsi sistem Madrasah bahkan sistem pendidikan umum. Pesantren memang menerapkan konsep continuity and change atau dalam dalil pesantrennya “al-muhafadzatu alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”. Yaitu terus melakukan perubahan dan adopsi inovasi tetapi tetap mempertahankan tradisi yang baik dan bermanfaat.

Tercatat masih banyak pula Madrasah Diniyyah yang mempertahankan ciri khasnya yang semula, meskipun dengan status sebagai pendidikan keagamaan luar sekolah. Pada masa yang lebih kemudian, mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964, tumbuh pula madrasah-madrasah diniyyah tipe baru, sebagai pendidikan tambahan berjenjang bagi murid-murid sekolah umum.

Madrasah diniyyah itu diatur mengikuti tingkat-tingkat pendi-dikan sekolah umum, yaitu Madrasah Diniyyah Awwaliyah untuk murid Sekolah Dasar, Wustha untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan ‘Ulya untuk murid Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Madrasah Diniyyah dalam hal itu dipandang sebagai lembaga pendidikan keagamaan klasikal jalur luar sekolah bagi murid-murid sekolah umum.

Salah satu yang terus ada di tengah dunia pesantren tersebut dan mengalami fase pengembangan adalah Madrasah Diniyyah. Pendidikan keagamaan yang dilakukan melalui Madrasah Diniyyah merupakan suatu tradisi khas pesantren yang terus akan dilakukan, sebab inti lembaga pesantren justru ada di sini. Ibaratnya adalah “jantung hati” pesantren.
Pesantren tanpa pendidikan diniyyah tentu bukan pesantren dalam hakikat pesantren. Pendidikan Madrasah Diniyyah dalam banyak hal dilakukan oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Pendidikan ini dilakukan secara swakelola. Oleh karena itu, guru-guru Madrasah Diniyyah dalam banyak hal juga hanya memperoleh reward yang seadanya. Lebih sering, pendidikan agama (Madrasah Diniyyah) tersebut dikaitkan dengan konsep ”lillahi ta’ala”, sebuah istilah yang sering dikaitkan dengan konsep ”gratis dan murah.”

Lembaga pendidikan Islam pada umumnya dan Madrasah (Diniyyah) pada khususnya memang masih memiliki banyak masalah yang kompleks dan berat. Bukan hanya karena dunia pendidikan Islam dituntut untuk memberikan konstribusi bagi kemoderenan dan tendensi globalisasi, namun mau tidak mau lembaga pendidikan Islam dalam lingkup Madrasah Diniyyah juga dituntut menyusun langkah-langkah perubahan yang mendasar. Menuntut terjadinya diversifikasi dan diferensiasi keilmuan. Mencari model pendidikan Madrasah Diniyyah alternatif yang inovatif. Tidak semata-mata untuk kehidupan di akhirat saja (ilmu-ilmu keagaman) melainkan juga memacu keilmuan duniawi yang dulu Islam pernah memimpin peradaban Dunia. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: